
Namira bangun sangat pagi dan memutuskan memanggang roti. Ia membangunkan Arnav dan mengajaknya sarapan.
"Kamu sudah mandi pagi-pagi begini?" tanya Arnav yang terheran-heran melihat ini baru jam 6 pagi.
"Sudah. Kita kan harus ke rumah saya dulu mas. Setidaknya saya ganti baju dulu sebelum bekerja. Kita juga tidak bisa terlambat ke kantor." Jawabnya sambil memasukkan potongan roti.
"Yasudah saya mandi dulu." Arnav bergegas ke kamar mandi. Namira sudah menunggunya di teras. Ia berharap dengan menunggu Arnav seperti ini, pria itu bisa lebih cepat mempersiapkan diri.
Di tengah perjalanan, Arnav mengingatkan Namira jika ini sudah memasuki akhir Maret. Mereka harus secepatnya mengurus pernikahan mereka.
"Nanti malam sepulang kerja apa kita bisa mencari hotel untuk pernikahan?" Arnav memulai percakapan.
"Aku mengajar mas." Jawab Namira datar.
"Kapan kamu akan cuti? Kalau hanya mengandalkan Sabtu dan Minggu, saya rasa akan susah mengurus semuanya." Timpal Arnav sambil fokus pada kemudinya.
"Pakai jasa WO saja mas." Namira menjawab asal sambil memainkan ponselnya.
"Biayanya bisa berkali-kali lipat menggunakan WO. Saya tunggu di yayasan nanti malam. Sepulang kerja pergilah kesana dan mintalah cuti." Tegas Arnav.
Namira masih fokus pada ponselnya.
***
Namira bergegas masuk ke rumah dan berganti baju.
"Nak Arnav, silahkan sarapan dulu." Bu Megumi mengajak Arnav sarapan. Lelaki itu menolak dengan halus dan beralasan bahwa ia sudah cukup kenyang.
"Namira, kamu tidak mandi dulu?" Bu Megumi menatap anaknya dengan heran.
"Namira sudah mandi." Jawabnya sambil mengambil tas kerjanya. Ia langsung menarik Arnav untuk keluar sebelum lelaki itu berbicara yang tidak-tidak.
"Kamu kan di bis semalaman, mandi dimana? Tidak terlihat mengantuk juga." Komentar mamanya.
"Ma, di bis kan tidur terus. Jadi sekarang Namira sangat bugar." Ia masih berusaha menjelaskan sesabar mungkin dan mengatasi kegugupannya. Tanpa sadar ia terus menggenggam tangan Arnav.
"Namira, tidak aneh-aneh dulu ya!" Tegur mamanya sambil menatap tangan Namira. Gadis itu malah semakin mempercepat langkahnya. Arnav pun pamit sembari mengulurkan senyum.
"Mas, kok diam saja sih? Seharusnya bantu saya menjelaskan." Ketus Namira setelah mereka masuk ke dalam mobil dan melaju pelan.
__ADS_1
"Saya harus bilang kalau kamu tadi malam menginap di rumah saya?" Goda Arnav sambil tertawa.
"Bukan! Jelaskan kalau kita tidak aneh-aneh. Tidak ada yang perlu mama khawatirkan! Seharusnya kan begitu mas!" Ucap Namira penuh kejengkelan.
"Saya tidak biasa berbohong." Timpal Arnav dengan nada santainya.
"Bagian aneh-aneh itu tidak bohong!" Balas Namira dengan nada tinggi.
"Nanti akan berlanjut lagi pertanyaan demi pertanyaan mamamu. Aku memilih tidak memperpanjang kebohongan." Arnav juga tidak mau kalah.
Gadis itu hanya menghela napas panjanh sementara Arnav masih merasakan genggaman tangan Namira tadi.
***
"Bep, nanti mama papaku anniversary. Mereka menyuruh aku mengundang calon suami. Kamu pura-pura mau kan bep?" Prita bergelayut manja dengan heels barunya yang menampakkan kaki jenjangnya serta aroma parfumnya yang menyengat.
"Saya sudah ada acara nanti malam." Arnav menjawab ketus.
"Selesainya jam berapa?" Prita masih bersikeras agar Arnav mau datang.
"Intinya aku tidak bisa." Arnav kembali mengacuhkan Prita.
Di sisi lain Namira yang melihat pemandangan itu merasa sangat muak. Seharusnya Arnav bisa bersikap lebih tegas pada Prita. Ke depannya setelah menikah ia tidak akan satu kantor dengan Arnav. Apa jadinya hubungan Arnav dengan Prita atau bahkan Arnav dengan Ida? Gadis itu tidak dapat membayangkan.
Mereka saling diam seolah berkutat dengan pekerjaan masing-masing. Hingga waktunya pulang, Namira langsung pergi tanpa pamit.
"Dia lagi datang bulan?" Tanya Tama pada Siska.
"Tidak tau mas. Mba Namira itu susah ditebak. Curhat juga tidak pernah." Timpal Siska yang baru hendak mematikan komputernya.
Arnav masih santai di kursinya sambil menunggu jam 7 malam. Ia akan menyusul Namira di yayasan dan memastikan gadis itu sudah memulai cutinya.
Di Yayasan, Namira menemui Kepala Yayasan dan menyampaikan keputusannya untuk cuti.
"Saya sangat senang akhirnya nak Namira bertemu jodohnya. Saya ijinkan cuti kurang lebih satu bulan ya nak." Ucap pak Udin. Namira bernafas lega. Kini ia tinggal menyampaikannya pada Ria.
"Ria, aku mau ijin sebulan mengurus pernikahan." Ucap Namira yang sontak membuat Ria kaget.
"Kamu serius mau nikah? Aku pikir waktu itu hanya guyon soal lamaran." Ria menatap tidak percaya.
__ADS_1
"Iya aku mau nikah bulan depan." Jawab Namira setengah gugup.
"Sama siapa? Tega banget kamu tidak cerita." Ria menariknya dan mengajaknya bercerita. Namira merasa sangat belum siap untuk menceritakannya karena pastinya temannya ini akan bertanya sampai ke akar-akarnya.
Begitu Namira hendak membuka mulut, sosok Arnav muncul setelah memarkirkan mobilnya.
"Permisi, Saya Arnav." Ia memperkenalkan diri pada Ria.
"Oh, yang waktu itu ketemu di Roppan ya? Temannya Namira atau bosnya begitu ya?" Tanya Ria sambil menunjuk wajah Arnav.
"Saya calon suaminya." Ucap Arnav sambil tersenyum. Ria menjadi pucat pasi dan mencubit pinggang Namira.
Di sisi lain Ridho melihat pemandangan itu dan mendengar semuanya di balik kelasnya. Ia sedang memeriksa beberapa tugas murid-muridnya kemarin dan hendak membagikannya sebelum kelas dimulai.
"Cih, cewek matre. Aku bisa buktikan hidupku lebih sejahtera." Gumam Ridho.
***
Arnav mengajak Namira bergegas menuju beberapa hotel. Ia sudah mendatangi rumah Namira untuk meminta ijin dan meminta Firda untuk ikut ke yayasan mengambil motor Namira. Dalam perjalanan menuju hotel pertama, Namira sibuk dengan ponselnya karena Ria terus saja menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan.
Kenapa tidak pernah cerita? (pesan dari Ria)
Aku belum menemukan waktu yang pas (Namira)
Dia bosmu yang menyebalkan? (Ria)
Iya. Panjang ceritanya. (Namira)
Sepanjang apa sih? ternyata dari menyebalkan ujung-ujungnya jadi menyenangkan (Ria)
Namira menepuk jidatnya tanda frustasi dengan jawaban Ria. Arnav menatapnya heran dan bermaksud mengajak gadis itu makan malam. Mengingat mood gadis itu yang buruk sejak tadi siang, ia mengurungkan niatnya.
"Mas, saya lapar. Kita cari makan dulu ya. Saya yang traktir. Tapi pesanannya tidak boleh lebih mahal dari pesanan saya." Ucap Namira dengan nada ketus.
Arnav tertawa dan membelokkan mobilnya ke sebuah warung penyetan.
***
"Hari ini kita harus dapat tiga hotel mas. Keputusannya juga harus ditentukan sekarang. Besok kita tinjau pakaian dan make up, besoknya desain undangan. Akhir pekan, kita uji coba makanan. Jadi seminggu ini semua beres. Hasilnya minggu depan atau 2 minggu lagi bisa diambil. Oiya, suvenir juga harus dipesan dengan cepat." Celoteh Namira.
__ADS_1
"Wah, kamu antusias sekali menikah dengan saya." Goda Arnav sambil menyeruput jeruk hangat. Hal ini sangat merusak mood Namira.