
"Kenapa harus dirahasiakan?" Arnav memandang bingung.
"Mas kan tau sendiri karakter bu Santi bagaimana. Lagipula mamaku juga belum mengharapkan kehamilan ini. Aku juga tidak mau dipusingkan dengan pendapat orang-orang sekitar sehingga suasana hatiku menjadi tidak baik." Jawab Namira enteng.
"Sampai kapan?" Tanya Arnav masih tidak mengerti.
"Sampai lahir." Jawab Namira sambil meminum susu hangat.
"Baiklah. Tapi perutmu akan semakin membesar." Arnav memegang perut Namira.
"Tenang saja. Aku sudah memikirkannya." Jawab gadis itu datar.
Arnav semakin tidak memahami pikiran Namira. Apa gadis ini tidak mengharapkan anak itu atau memang benar-benar ingin melindungi calon anaknya dari segala tekanan?
"Apa kamu bahagia sama seperti aku saat mengetahui ini?" Arnav bertanya hati-hati.
"Banyak wanita yang ingin menjadi ibu tapi tidak bisa atau bahkan sulit. Aku yang tanpa harus membuat bayi tabung ataupun melakukan pengobatan untuk punya anak tentu saja sangat senang. Karena itulah aku tidak mau satu orang pun berkomentar tidak baik soal ini. Aku memang menjadi sangat sensitif sehingga harus menghindari hal-hal yang memicu emosiku." Terang Namira. Ia berusaha memberi penjelasan lebih detail pada Arnav.
"Baiklah." Arnav menggenggam tangan Namira dan mengelusnya.
***
Namira menghubungi seorang ART yang direkomendasikan Arnav. Ia adalah bu Ijah, seorang paruh baya usia sekitar lima puluh tahun. Pembayaran dilakukan per kedatangan dan kebetulan hari ini Namira masih libur bekerja.
"Sudah dihubungi? Ini sarapannya, aku sudah memesannya." Ucap Arnav.
"Iya. Aku masih lelah setelah perjalanan kemarin."Jawab Namira sambil meminum susunya.
"Tidak apa. Aku ke kantor dulu. Baik-baiklah di rumah ya." Arnav mengecup puncak kepala istrinya.
Tak lama kemudian bu Ijah datang.
"Selamat datang bu." Sambut Namira ramah.
"Saya Ijah bu. Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya sopan.
"Apa ibu sudah sarapan? Jika belum makanlah dulu. Jika ingin membuat teh hangat, silahkan ya bu. Setelah itu barulah mulai mencuci, menyetrika, dan membersihkan rumah." Perintah Namira.
Bu Ijah mengangguk. Ia mulai bekerja dan karena sudah terbiasa, semua pekerjaan selesai dalam waktu dua jam.
"Wah, cepat sekali bu. Terima kasih banyak. Makanlah dulu bu." Ajak Namira.
"Tidak usah bu. Saya akan bergegas ke rumah yang lain." Tolaknya halus.
Namira kemudian membungkuskan makanan dan memberikan segala camilan yang ada di kulkas. Ia juga memberikan upah seratus ribu.
"Bu, makanan ini banyak sekali!" Ucap bu Ijah.
"Tidak apa bu. Bawa saja untuk anggota keluarga ibu di rumah." Jawab Namira tersenyum. Tak hentinya bu Ijah berterima kasih.
__ADS_1
Dengan rumah yang sudah bersih, Namira bisa melakukan meditasi dengan nyaman. Jam dua belas tiba-tiba Arnav pulang.
"Kenapa sudah pulang mas? Aku belum menyiapkan makan siang." Keluh Namira.
"Aku ingin makan di rumah dan memastikan kamu baik-baik saja. Ingin makan apa? Biar kupesankan." Arnav membelai rambut Namira.
"Sudah cuci tangan belum? Biasakan membersihkan diri sebelum menyentuhku. Aku khawatir anakku kenapa-kenapa." Gerutu Namira. Arnav tersenyum dan mengangguk.
Saat Arnav mencuci tangan, Namira memutuskan memasak masakan yang mudah yaitu sayur bening dan tempe goreng lengkap dengan sambel terasi.
"Kita beli air purifier saja ya? Nanti sepulang kantor kita belanja. Supaya rumah ini bebas bakteri." Komentar Arnav. Ia paham jika Namira sangat berhati-hati dan ingin yang terbaik. Namun sikapnya akhir-akhir ini terkadang memang sangat menyeramkan. Kata-katanya bahkan sering menusuk.
"Istirahatlah, aku kembali ke kantor." Arnav mengecup kening istrinya.
"Aku akan belajar karena perkuliahan besok lusa sudah dimulai. Kelas akan berlangsung setiap malam." Namira menjelaskan pada Arnav.
"Baiklah. Jaga kesehatan." Arnav mengusap kepala Namira.
***
Kini mereka sudah berada di swalayan elektronik.
"Ayo cepat kemudian pulang." Celetuk Namira.
"Kamu lelah?" Arnav merasa cemas.
"Tidak. Aku tidak nyaman." Jawab Namira dengan wajah ditekuk.
"Iya benar. Aku merasa belum bisa beradaptasi dengan kondisi badanku." Keluh Namira.
Arnav merangkulnya dan itu menenangkan bagi Namira.
****
Pagi hari ini Namira bersiap ke klinik. Ia membawakan beberapa oleh-oleh untuk Serkan, Perawat Sylvia, dan snack ringan untuk seluruh staff klinik.
"Mas, aku berangkat dulu menggunakan motor." Namira mengakhiri sarapannya.
"Aku antar." Arnav bergegas menyusul.
"Pilih aku naik motor atau aku bawa mobil? Tidak ada pilihan mengantar!" Tegas Namira.
"Keduanya berbahaya Namira!" Jawab Arnav dengan sabar.
"Ayo jawab!" Ketus Namira.
"Baiklah, lebih aman menggunakan mobil. Pakailah, aku akan naik motor. Tapi apa kamu benar-benar sudah bisa menyetir?" Tanyanya cemas.
"Sudah. Tenang saja." Namira mengambil kunci mobil dari tangan Arnav. Pria itu hanya bisa menghela nafas.
__ADS_1
***
"Dokter Serkan! Selamat pagi!" Sapa Namira tersenyum.
"Wah, ternyata kamu bisa menyetir. Hari ini riang sekali ya!" Sambut Serkan.
"Betul sekali! Saya seperti sudah mengisi baterai. Ternyata mengambil libur tiga hari benar-benar mengubah suasana hati." Namira tersenyum senang.
"Ini oleh-oleh untuk dokter! Saya ke ruangan saya dulu ya!" Namira melangkah senang.
Pria itu tersenyum senang dengan pemberian Namira.
***
Saat briefing pagi, Arnav menyampaikan beberapa patah kata dan salah satunya adalah pengadaan makan siang bersama.
"Hari ini saya ingin bersyukur atas pencapaian kita semua dan atas segala hal baik yang terjadi pada keluarga kecil saya. Untuk itu saya ingin mengajak semua rekan kantor makan siang bersama. Kita pesan makanan dan kalian boleh pesan apapun. Pak Santoso, tolong dicatat dan dikoordinasikan ya pak. Saya yang akan membayar." Arnav berucap penuh senyum.
"Ya ampun, jarang sekali pak Arnav tersenyum riang seperti ini!" Ucap Nila, salah satu Teller.
Vita di sebelahnya juga tersenyum. Ia sangat mengidolakan Arnav namun tentu saja ia cukup tau diri.
Para pegawai bersorak senang namun tidak dengan Dilla.
"Nav, emang ada apa?" Tanya Dilla menghampiri.
"Tadi sudah aku jelaskan bukan? Ini semua atas pencapaian kita." Arnav mengulang sambil menarik nafas.
"Tapi pencapaian kita belum di atas tujuh puluh lima persen. Terlalu dini untuk bersenang-senang." Timpal Dilla.
"Semakin kita bersyukur, nantinya segala hal akan menjadi lebih mudah." Arnav tersenyum dan meninggalkan Dilla.
***
Waktunya pulang. Namira menuju mobil dan sedikit bingung untuk mengeluarkan mobilnya.
"Ckck! Amatir! Sini saya bantu!" Serkan menghampiri. Namira pun tertawa dan mengijinkan.
"Kamu mau pulang?" Tanya Serkan.
"Iya." Jawab Namira singkat.
"Saya mau ke kantor Arnav. Mau menjadi nasabah prioritas." Serkan berkata di balik jendela mobil Namira.
"Baiklah, saya antar." Tawar Namira.
***
Dilla melihat Namira datang bersama seorang pria. Ini kesempatannya mempengaruhi Arnav. Ia bergegas mengambil ponsel dan mengabadikan sosok Namira yang tersenyum pada pria itu. Ia pun mengirimkan pada Arnav sambil tersenyum.
__ADS_1
***