
Arnav tidak membangunkan Namira. Ia justru menggendongnya ala pengantin sambil memaksakan diri membuka pintu rumah. Saat hendak masuk, kepala Namira terbentur dinding.
"Aduh! Apa-apaan ini, turunkan aku!" Keluhnya. Arnav pun merutuki kesalahannya yang kurang berhati-hati.
Namira berjalan ke kamar sedangkan Arnav menutup dan mengunci pintu.
"Ah, setrikaan dan cucian baju! Aku akan memasukkan baju ke mesin cuci dulu mas." Ujar Namira yang berbalik arah menuju teras kamar mandi.
"Sayang, sudahlah besok pagi saja. Ayo tidur." Ajak Arnav. Namira nampak menimbang-nimbang. Akhirnya ia memutuskan tidur.
Baru empat jam Namira tertidur, Pak Eko bagian perawat IGD menghubunginya. Dengan kesadaran yang kurang, ia mengangkat ponselnya.
"Halo." Sapa Namira dengan suara serak.
"Halo Bidan Namira. Ada pasien hendak melahirkan. Saat ini sudah di IGD. Bukaan lima mbak." Ujar pak Eko.
"Baik pak. Bisa tolong jemput saya? Satpam atau siapapun." Pinta Namira. Pak Eko pun menyanggupi.
"Mas Arnav, aku ke klinik dulu. Ada pasien lagi." Ucap Namira sambil mencium pipi Arnav.
"Biar kuantar." Saran Arnav. Namira menggeleng.
"Aku sudah meminta supir menjemputku." Ujar Namira. Arnav nampak khawatir.
"Mas istirahat saja ya. Besok mas harus ke kantor." Pinta Namira. Arnav pun luluh.
Seseorang dengan mobil Ford berhenti di depan rumah. Namira bergegas keluar.
"Kenapa mobilnya bagus? Kupikir akan dijemput dengan ambulans." Batin Namira.
Ia terkejut saat mengetahui siapa yang menjemputnya.
"Dokter Serkan?" Ucapnya histeris.
"Masuklah!" Perintahnya tegas.
Namira pun masuk.
"Ini jam tiga pagi. Apa yang dokter lakukan di klinik?" Tanya Namira terheran-heran.
"Saya sedang memeriksa skripsi mahasiswa saya dan melakukan bimbingan pada mereka." Jawabnya datar.
"Jam segini bimbingan?" Namira nampak tak habis pikir.
__ADS_1
Tanpa disadari saat Namira masuk ke dalam mobil, Arnav menatap kepergiannya dan menaruh curiga.
***
Namira bergegas ke IGD. Setelah selesai dengan drama persalinan yang akhirnya selesai di jam enam pagi, ia memutuskan pulang menggunakan taksi.
"Pagi Mas Arnav!" Sapa Namira yang nampak mengantuk.
"Pagi. Ayo sarapan dulu. Kamu pasti lapar dan lelah." Ajak Arnav seraya menyiapkan nasi goreng di piringnya.
"Dua bulan lagi pengumuman kelulusan. Jika aku lulus maka aku akan terhenti dari rutinitas yang membuatku gila ini." Keluh Namira sambil memakan nasi goreng buatan Arnav.
"Kamu hanya belum terbiasa. Baru dua hari bekerja." Ucap Arnav sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak mas." Sahut Namira membalas tersenyum.
"Aku akan mencuci baju. Setrikaan akan aku serahkan ke laundry. Aku minta maaf tidak bisa optimal mengurus rumah." Namira khawatir Arnav kecewa padanya.
"Tidak apa. Jika perlu aku akan mencarikan asisten rumah tangga. Ia bisa datang di pagi hari dan pulang di sore hari." Lanjut Arnav.
"Itu tidak aman mas. Apalagi saat semua penghuni rumah tidak ada. Atau jika ada asisten mingguan mungkin salah satu dari kita bisa mengawasinya." Sambung Namira.
"Kuserahkan padamu saja ya bagaimana sebaiknya." Ucap Arnav sambil menggenggam tangan istrinya.
"Bagaimana kondisi minimarket?" Tanya Namira memulai pembicaraan.
"Semua baik mbak. Tidak perlu khawatir. Saya akan tunjukkan etalase barang ya mbak." Iwan pun mengarahkan ponselnya ke sekitar mini market.
"Wan, coba carilah ibu-ibu yang mau menitipkan dagangannya di minimarket. Letakkan etalase di depan. Jadi untuk pagi hari mereka yang hendak ke kantor dapat menikmati jajanan tradisional atau menu sarapan lain. Sekaligus kita membantu ibu-ibu mencukupi kebutuhan keluarga mereka" Ujar Namira bersemangat.
"Baik mbak. Oh iya, saya menjaga sendirian akhir-akhir ini kewalahan mbak. Walaupun saya libur di hari minggu dan sekarang mini market hanya buka sampai jam delapan malam, tetap saja kewalahan mbak." Ucap Iwan dengan tatapan sendu.
"Carilah istri. Ia akan membantumu! Kami juga akan menggaji istrimu." Goda Arnav. Namira langsung memberi kode marah pada Arnav yang ikut menimbrung pembicaraan seriusnya.
"Carilah kawan Wan. Iklankan saja di sosial media. Tidak harus tidur di sana, biarkan pegawai baru tetap datang dan pulang. Dirimu shift malam saja. Jadi minimarket dapat buka dua puluh empat jam. Hehe." Usul Namira.
"Baiklah mbak." Jawab Iwan sambil berseri. Sepertinya ia membutuhkan waktu luang untuk mencari jodoh.
Tak lama kemudian panggilan berakhir. Namira bersiap berangkat bersamaan dengan Arnav.
"Pulanglah dengan taksi, jangan menggunakan bus." Pinta Arnav.
Namira mengangguk.
__ADS_1
"Atau akan aku jemput saja. Aku tidak tenang kamu pulang dengan taksi. Khawatir diajak berputar-putar." Arnav mendadak berubah pikiran.
"Iya terserah mas Arnav saja." Jawab Namira tersenyum.
Saat hendak menurunkan Namira di depan pintu masuk, nampak Serkan sedang bicara dengan salah satu perawat. Ia menatap mobil Arnav terutama saat Namira turun.
"Cepatlah! Kita akan rapat sebelum membula poli." Perintah Serkan. Namira pun menghela nafas dan berlari kecil ke arah Serkan.
"Dasar dokter vampir! Wajahnya pucat seperti vampir dan seenaknya saja menyuruh-nyuruh istriku!" Gumam Arnav sambil mengepalkan tangannya.
Namira, dokter Serkan, dokter Aji, dan beberapa perawat termasuk Sylvia kini telah duduk di ruang pertemuan.
"Baiklah. Baru sehari saja poli KIA dibuka, kita sudah kebanjiran pasien. Saat masyarakat mengetahui ada bidan di sini, mereka tak segan melahirkan di sini. Oleh sebab itu kita harus menambah bidan atau mempekerjakan dokter kandungan. Bagaimana pendapatmu Namira?" Tanya dokter Serkan.
Gadis itu belum sepenuhnya sadar karena masih kelelahan. Ia menjadi gugup.
"Ee.. Menurut saya memang sebaiknya ada seorang bidan tambahan. Dokter kandungan juga tidak apa-apa tetapi nanti pasien pasti ingin yang tarifnya lebih murah." Sambung Namira.
"Tidak masalah. Nantinya persalinan akan diurus dokter kandungan saja. Kamu fokus di poli. Masalah menjahit luka pasca persalinan dapat dilakukan oleh perawat. Tapi jika persalinan terjadi di jam kerjamu yang akan saya tambah hingga sore, maka itu tanggung jawabmu dan visit pasien hingga pulang juga menjadi tanggung jawabmu. Saya juga akan menambah poli anak sehingga ketika bayi lahir dan dibawah naungan dokter kandungan, maka visit akan dilaksanakan oleh mereka berdua. Itu risiko pasien dan hak mereka hendak memilih bidan atau dokter Namun juga tergantung jam persalinan mereka." Jelas Serkan.
"Terlalu cerdas. Sebuah pemikiran yang kelewat cerdas." Ucap Namira dalam hati. Serkan menyatakan rapat telah selesai dan mereka kembali ke poli masing-masing.
"Perawat Sylvia, saya rasa perlu diadakan senam hamil atau yoga agar persalinan selalu lancar. Kita akan mendata pasien hamil terlebih dahulu." Usul Namira.
"Ide bagus mbak. Cobalah usul pada dokter Serkan." Sambung perawat Sylvia.
Nyali Namira menciut.
"Pria cerdas tapi kelakuannya kurang ramah." Gerutu Namira.
"Karena dia pintar makanya dia begitu mbak. Coba jika tidak pintar, pasti akan rendah hati karena merasa dirinya kurang. Kalau dokter Serkan mungkin merasa dirinya segalanya." Jawab perawat Sylvia sambil tertawa.
"Ah, suamiku pintar dan baik hati." Batin Namira.
"Pilih mana mbak? pintar atau baik?" Goda perawat Sylvia.
Namira mendadak tersadar dari lamunannya.
.
.
.
__ADS_1