
Mereka tiba di rumah jam sepuluh malam. Arnav membawa masuk semua tas belanjaan.
"Aku harus mencatat ini semua. Kita berbelanja terlalu banyak. Mungkin ini cukup untuk lebih dari seminggu?" Gumam Namira sambil mengamati tas belanjaan.
Arnav menghampirinya mengajaknya duduk di sisi Arnav. Ia mulai bergerilya pada leher gadis itu.
"Mas.. Aduuh geli!" Ucap Namira.
Pria itu tidak menjawab dan justru menggendong Namira menuju ke kamar.
Sehari tiga kali sudah seperti minum obat.
Gumam Namira dalam hatinya.
***
Namira terbangun jam lima pagi. Ia merasa kram perut dan ternyata tamu bulanannya tiba. Arnav melihatnya kembali dari toilet dan hendak memangsanya lagi.
"Aku sedang halangan." Ucap Namira.
"Ya ampun!" Arnav menepuk dahinya lalu memeluk Namira dan kembali tertidur.
"Bangun mas, sudah waktunya ke kantor!" Ucap Namira saat jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Ia menarik selimut Arnav.
Pria itu menarik tangan Namira hingga jatuh ke pelukannya.
"Pagi sayang!" Ucapnya sambil mengecup bibir Namira.
Gadis itu terdiam dan bergumam, "Kemajuan yang sangat pesat dari hubungan kami."
***
Arnav sudah bersiap. Ia menikmati sarapan yang dibuatkan Namira.
"Apa kamu mau ikut ke kantor?" Tanya Arnav.
"Tidak usah mas. Aku akan mencuci baju dan membersihkan rumah." Jawab Namira sambil mencuci piring.
"Jika lelah beristirahatlah ya. Aku akan mencarikan asisten rumah tangga." Ucap Arnav.
"Tidak perlu mas. Aku risi jika ada orang lain di rumah selain kita." Timpal Namira masih sambil mencuci piring.
"Oh, iya juga ya. Jadi tidak bebas melakukannya dimana saja." Arnav tertawa.
Namira menghentikan aktifitasnya mencuci piring dan menghela nafas.
"Mas, sejak kapan kamu jadi mesum?" Ucapnya jutek.
"Sejak mengenalmu." Jawab Arnav tersenyum kemudian ia mendekat dan mencium kening Namira.
"Aku berangkat dulu ya." Pamit Arnav lagi-lagi sambil mencium pipi Namira. Gadis itu hanya mendengus. Ia kemudian melakukan panggilan video dengan Iwan menanyakan perkembangan mini market dilanjutkan dengan menyelesaikan beberapa artikel.
__ADS_1
Hari sudah siang, ponsel Namira berdering tanda panggilan video sedang masuk.
"Ada apa mas Arnav?" Tanya Namira pura-pura malas.
"Sedang apa sayang?" Arnav bertanya sambil merapikan beberapa dokumen di atas mejanya.
"Aku baru akan makan siang." Jawab Namira sambil menutup laptopnya.
"Ada yang ingin kamu makan? Aku pesankan ya!" Arnav menatap istrinya di telpon dengan senyum termanisnya.
"Tidak perlu. Aku sudah memasak." Jawab Namira sambil menuju ruang makan.
"Mas sudah makan belum?" Namira bertanya seraya menyendokkan nasi ke piringnya.
"Sudah. Sebentar lagi ingin meminum kopi." Jawab Arnav.
"Bikin sendiri atau menyuruh OB?" Tanya Namira penuh selidik.
"Aku bikin sendiri sayang. Ruanganku juga hanya diisi oleh aku. Jika mau bicara dan mereka adalah perempuan, aku keluar dan bicara dengan mereka di sofa lobby." Jawab Arnav seolah tau apa yang dipikirkan Namira.
"Oh baguslah. Mas Arnav sudah jatuh hati pada admin, tidak menutup kemungkinan jatuh hati pada OB." Ketus Namira.
Arnav tertawa terpingkal-pingkal.
"Awas ya nanti kalau aku pulang." Ancam Arnav.
"Mau apa? Toh mas Arnav tidak akan bisa apa-apa setidaknya satu minggu ini." Jawab Namira enteng.
***
Pak Arnav, kita harus menyusun program bulanan seperti kajian, ramah tamah, dan lainnya." Ucap Vita selaku PR. Ia berparas cantik dan tinggi semampai. Kulitnya juga bersih bagaikan artis. Pantas saja ia ditunjuk sebagai divisi PR.
"Baiklah tapi jangan malam hari ya. Saya akan atur besok saat jam makan siang. Jadi divisi PR, HRD, dan marketing juga akan ikut makan siang bersama." Tegas Arnav saat dirinya hendak pulang.
Vita pun mengangguk dan hendak kembali ke ruangannya.
"Vit, Arnav bilang apa?" Tanya Dilla.
"Pak Arnav bilang besok siang saja mbak." Jawab Vita dengan sopan.
"Kenapa dia tidak mau lembur? Apa dia tidak mau mencapai target dalam dua tahun? Padahal jika sering lembur artinya dia jarang bertemu dengan si admin." Gumam Dilla dalam hati.
***
"Sayang.. " Arnav tiba di rumah dan langsung memeluk Namira manja. Ia juga menghujami istrinya dengan banyak ciuman.
"Mandi dulu ya mas, setelah itu mari bersiap makan malam." Ajak Namira seraya berusaha melepaskan diri dari Arnav.
"Baiklah. Oh iya! Setelah makan malam bisa ikut aku menengok bayi? Seorang Back Office baru saja melahirkan. Jadi nanti kita akan berangkat bersama dari kantor tapi dengan kendaraan masing-masing." Jelas Arnav.
"Aku tidak ikut mas. Bolehkah aku di rumah saja?" Tanyanya memelas.
__ADS_1
"Ada apa? Kamu tidak enak badan?" Tanya Arnav sambil memegang kedua pipi Namira dengan telapak tangannya.
"Aku minder." Jawab Namira lirih.
"Wah penyakitnya kambuh! Sayang, kenapa kamu harus minder? Aku kepala cabang!" Ucap Arnav bangga.
"Iya aku tau. Aku kurang pantas bersanding dengan kepala cabang." Ucap Namira menunduk.
Arnav mengangkat dagunya.
"Kamu selalu seperti ini dari dulu. Kamu cantik, pintar, lalu kenapa harus minder? Atau perlu menggunakan baju bermerk? Ayo kita ke butik." Ajak Arnav.
"Tidak perlu. Yasudah aku ikut. Tapi berjanjilah tidak meninggalkan aku sedetikpun." Pinta Namira.
Arnav mengangguk senang. Ia menuju kamar mandi untuk mandi kemudian bergegas ke meja makan untuk makan malam.
"Apa yang lain sudah di kantor?" Tanya Namira sambil memakai jam tangannya.
"Iya, mereka makan malam di kantor." Jawab Arnav yang langsung menggandeng tangan istrinya menuju mobil.
"Sayang, tolong cek email masuk. Itu dari gerai emas milik papa dan ada satu laporan lagi dari Mall Casablanca milik mama." Pinta Arnav.
Namira menurut dan membacakan email tersebut.
"Baguslah, tidak ada masalah. Jika ada masalah, aku akan ke kota Sura. Mau tidak mau kamu harus ikut ya." Pinta Arnav sambil menggenggam tangan istrinya.
"Apa mas Arnav tidak pusing mengelola begitu banyak bisnis?" Tanya Namira.
"Awalnya sulit, tapi ketika sistem sudah berjalan, maka semua akan lancar." Jawabnya sambil menatap ke depan.
"Lalu kenapa bertahan di Bank Az?" Namira kembali bertanya penuh selidik.
"Pak Harri tidak memiliki anak. Beliau juga banyak membantu keluargaku. Jadi biarlah aku membantunya selama sepuluh tahun ini." Jawab Arnav.
***
Mereka tiba di kantor. Arnav mengajak Namira turun dan menggenggam tangan istrinya. Ia mengenakan sweater pink, celana jins panjang, serta wedges. Namira nampak bersinar ditambah rambut sebahunya yang lurus.
"Aku malu." Ucapnya lirih. Arnav hanya menepuk-nepuk pergelangan tangan Namira. Ia berusaha meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Selamat malam! Perkenalkan ini istri saya, Namira!" Ucap Arnav pada para karyawan bank Az.
Mereka hanya mengangguk dan tersenyum pada Namira. Gadis itu pun membalas dengan tersenyum.
.
.
.
.
__ADS_1
Ayo dong, like and vote!