
Jam 3 sore bis telah siap menjemput. Kali ini Arnav duduk di sembarang tempat dan tanpa sengaja di sebelah Ida. Ia sebenarnya tidak menyadari jika itu Ida dan hanya fokus duduk mengikuti keinginan Namira untuk saling acuh. Ia berjalan ke arah depan dan mendapati Namira duduk di deretan depan sedang tertidur. AC cukup dingin sehingga Arnav memberikan jaketnya sebagai selimut. Tentu saja kelakuannya menarik perhatian banyak orang. Begitu sadar dirinya menjadi pusat perhatian, ia memberi penjelasan,
"Dia adalah aset di divisiku. Jika sakit berarti tidak ada pencairan."
Pegawai-pegawai lain hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.
Ida berusaha memulai percakapan namun Arnav tidak tertarik dan malah memilih pura-pura tidur. Hingga bis tiba di parkiran bank Az. Satu per satu turun. Namira memeriksa ponselnya hendak meminta Firda menjemputnya.
"Halo Firda. Jemput aku bisa tidak?" tanya Namira.
"Ke Pulau Samo? Aku sama mama dan papa lagi di rumah nenek di kota Bangka." Ucapnya.
"Jam berapa kalian pulang?" tanya Namira cemas.
"Besok pagi. Katanya kamu menginap dua hari. Jadi kami ke rumah nenek. Gimana sih?" protes Firda.
Namira menghela napas. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri berharap Siska belum pulang. Ia menelpon Siska dan tidak diangkat.
"Apa aku tidur di depan rumah? Aku naik taksi saja deh." Batinnya. Ia mencoba menelpon Taxi namun Arnav tiba-tiba memegang tangannya.
"Aduh!" Ucap Namira terkejut dan segera menoleh ke arah Arnav.
"Sekarang sudah sepi. Ayo kuantar pulang." Ucap Arnav seraya menarik wanita yang sedang bingung itu.
"Aku pulang sendiri saja." Jawab Namira ketus sambil berusaha melepas tangan Arnav.
"Kamu berangkat sama saya, otomatis pulang juga sama saya. Apa kata calon mertua saya kalau kamu pulang sendiri?" protes Arnav.
"Mereka tidak ada di rumah." Sela Namira.
"Jadi kamu mau tidur dimana?" Tanya Arnav penuh selidik.
"Di depan pintu rumah mas." Jawab Namira sedikit takut.
__ADS_1
"Apa tidak pegal? Besok sudah harus bekerja. Ikut saya ke rumah." Arnav pun mengajak Namira memasuki mobilnya.
"Saya tidur di hotel saja bagaimana?" Namira mencoba bernegosiasi.
"Memangnya kenapa kalau di rumah saya? Kamu bilang saya tidak gugup di sebelahmu. Artinya saya tidak ada perasaan suka sedikitpun sama kamu. Jadi kenapa harus takut?" Arnav tidak terima dan menyerang Namira dengan penilaiannya saat di Pulau Samo.
"Iya sih." Gumam Namira.
Mereka akhirnya sepakat menuju rumah Arnav.
Sesampainya di sana, Namira terheran-heran menatap isi rumah yang lumayan bersih. Untuk ukuran laki-laki yang tinggal sendirian, rumah ini tergolong cukup rapi.
"Sewa pembantu ya mas?" ucap Namira yang tanpa sengaja mengalir dari mulutnya.
"Tidak. Saya kan jarang di rumah. Pagi sampai sore di kantor. Malam kadang mengontrol mini market kemudian kembali saat larut." Jawabnya sambil menghidupkan lampu-lampu.
Arnav menunjukkan kamar tamu yang dapat digunakan oleh Namira. Ia juga menyiapkan air panas untuk mandi. Rumah ini sangat minimalis. Dapur yang nampak dari ruang tamu dan ruang keluarga, serta kamar mandi di ujung yang segaris lurus dengan garasi.
"Kamu mandi duluan. Air panasnya sudah saya siapkan." Arnav mempersilahkan Namira.
Setelah mandi ia menggunakan piyama lengan panjang yang disertai celana panjang.
"Mas, saya langsung ke kamar saja ya." Pamit Namira. Sebenarnya ia tidak ingin berbasa-basi dengan Arnav.
"Saya buatkan teh atau susu hangat bagaimana?" tawar Arnav.
"Tidak usah mas. Saya sudah cukup mengantuk." Tolak Namira halus. Ia berjalan menuju kamar tamu.
"Kalau ada yang membuat tidak nyaman katakan saja ya. Seprainya baru diganti kemarin lusa saat papa mama hendak pulang. Ada satu kamar lagi tapi belum sempat saya bersihkan. Kemarin digunakan oleh Queen dan mbak Sari." Arnav mencoba menjelaskan.
Namira mengangguk dan segera ke kamar. Ia mendapati kamar dengan nuansa kuning muda seperti warna cat depan rumah Arnav. Kamar itu lengkap dengan lemari. Sayangnya tidak ada AC di kamar tersebut. Bagi Namira tentu tidak masalah karena ia baru saja selesai mandi. Ia langsung memejamkan mata.
Di balik dinding, Arnav yang baru saja selesai mandi mencoba menyandarkan diri di kamarnya. Ia menyalakan AC dan berpikir mengenai keadaan kamar sebelah yang tanpa AC. Ia lantas mengirimkan pesan ke ponsel Namira.
__ADS_1
Sudah tidur belum? Kalau kepanasan kita tukar kamar saja.
Pesan tersebut hanya dibaca oleh Namira tetapi tidak dibalas karena ia sudah sangat mengantuk.
Jam 12 malam ia terbangun. Perutnya merasa sangat lapar. Tanpa sadar ia melupakan makan malamnya. Namira mencoba keluar kamar dan hanya mendapati mie instan, telur, roti tawar, dan bubur instan. Dengan malasnya ia mencoba memasak air panas dan membuat bubur instan.
"Lumayan. Tadinya aku berharap ada roti isi." Ia bergumam sambil mengaduk-aduk buburnya.
Arnav yang sedang mengecek margin minimarket mendengar kasak kusuk di dapur. Ia yakin itu adalah Namira. Setelah membereskan pekerjaannya, ia mematikan laptop dan membuka pintu.
"Ah, mas Arnav. Maaf, saya lapar. Besok saya ganti bubur instannya." Namira berkata santai sambil memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.
"Tidak semua hal bisa begitu saja diganti. Seharusnya kamu bilang kalau lapar. Saya jadi merasa bersalah tidak menyuguhi tamu dengan baik." Arnav menatap Namira dengan tatapan dingin.
"Tidak apa-apa. Mas sudah makan belum? Saya tadi lupa kalau belum makan malam." Ia berdiri dan mencuci piringnya.
"Belum. Kita keluar mencari makan yuk?" ajak Arnav sambil duduk di kursi dapur.
"Wah sudah malam mas. Kalau mas mau tidak apa-apa. Atau mau saya buatkan mie instan?" Namira membuka kotak makanan di dinding dapur.
Arnav menghela napas karena gagal mengajak Namira pergi.
"Saya mau mie instan pakai telur. Temani saya makan ya." Arnav memberi tatapan lembut pada Namira.
Gadis itu berusaha tidak baper dan kembali meyakinkan dirinya bahwa Arnav sedang tebar pesona.
Ia menemani Arnav makan sampai habis sambil memainkan ponselnya. Namira mengangkat piring dan mencucinya. Tiba-tiba ia merasa kasihan pada pria itu karena selalu makan sendirian.
"Lebih enak makan sendiri atau ada yang menemani?" Namira bertanya sambil mengelap tangannya yang basah.
Bagi Arnav, pertanyaan ini cukup menjebak dan di sisi lain adalah kesempatan menarik simpati Namira.
"Lebih enak kalau ada yang menemani. Tapi sebentar lagi saya tidak akan makan sendiri terus." Ia mencoba merayu Namira.
__ADS_1
"Iya tentu saja. Mas juga bisa mengajak pegawai mini market makan bersama. Sedekah begitu kurang lebih mas." Timpal Namira yang tidak terhipnotis oleh rayuan Arnav.
Ia kemudian menuju kamar mandi untuk menggosok gigi dan pamit ke kamarnya. Arnav pun hanya senyam senyum sendiri. Membayangkan hari-harinya besok bersama Namira pasti akan menyenangkan.