Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Babak Baru


__ADS_3

Keluarga kecil tersebut sudah kembali ke rumahnya. Baru saja tiba, Namira sudah mengeluh.


"Aduh mas! Semalam aku tidak kuliah!"


Arnav menghela nafas.


"Tidak masuk sekali memangnya akan dikeluarkan?"


Namira tidak mempedulikan ucapan Arnav. Ia lantas membawa Armi ke dalam kamar dan meletakkannya di ranjang bayi.


"Armi pintar, sore ini mama akan memandikanmu. Agak awal ya sayang, karena mama harus kuliah." Ucap Namira.


"Baiklah, aku akan menjaga Armi selama kamu kuliah. Lalu untuk makan malam bagaimana?" Tanya Arnav. Ia sekarang sudah bertekad untuk peka dan belajar banyak soal mengurus bayi.


"Seperti biasa, pesan antar. Terserah mau pesan apa. Sekalian pesankan camilan." Perintah Namira yang masih mengamati Armi.


"Apa tidak berpengaruh pada asimu?" Arnav berkata hati-hati.


"Itu mitos mas. Mau makan pedas atau apapun tidak ada pengaruhnya pada asi. Oiya, tolong belikan pembalut untuk nifas. Pesan antar saja." Namira masih memberi perintah. Arnav dengan sigap menjalankan perintah. Ia juga mempelajari cara memandikan bayi sementara Namira hendak mencuci baju dan popok Armi yang digunakan selama di rumah sakit.


Arnav tak hentinya memandang Armi. Ia tak sabar bermain bola dengan pangeran kecilnya. Kabar menggembirakan ini belum ia sebar pada siapapun kecuali Serkan.


"Halo pak! Apa besok bapak bisa masuk ke kantor?" Vita menelpon Arnav.


"Ada yang perlu saya tanda tangani?" Tanya Arnav menjauhkan diri dari Armi karena takut dengan radiasi yang membahayakan anaknya.


"Iya pak, benar." Jawab Vita.


"Besok semua berkas kamu bawa ke rumah saya. Akan saya tanda tangani di rumah." Jawab Arnav.


"Bapak sakit?" Vita kembali bertanya.


"Tidak. Saya baik-baik saja. Sudah dulu ya." Arnav mengakhiri panggilan.


Ada apa lagi dengan pak Arnav? Apa bertengkar lagi dengan bu Namira?


Vita berucap dalam hati.


****


Hari mulai malam. Setelah makan malam ditemani Armi yang diletakkan pada stroller, Namira memulai perkuliahan di dalam kamar. Armi dan Arnav berada di ruang tengah. Bel berbunyi.


"Armi, sebentar ya sayang, papa buka pintu dulu." Arnav berbicara seorang diri pada Armi. Ia membuka pintu dan melihat Serkan dan Vita.


"Kalian kenapa berdua bisa di sini bersama?" Arnav masih menatap kedua temannya tersebut.

__ADS_1


"Pak Serkan mengajak saya menjenguk bayi dan ternyata bayi pak Arnav. Saya minta maaf belum membawa hadiah. Saya pikir hanya diminta menemani menjenguk bayi rekan pak Serkan." Vita membungkuk.


"Tidak apa-apa Vita! Masuklah! Aku tidak bisa berlama-lama di luar. Aku meninggalkan Armi sendiri." Keluh Arnav sambil mempercepat langkahnya.


"Namira kemana?" Tanya Serkan.


"Kuliah di kamar." Jawab Arnav singkat.


"Ayo kalian cuci tangan dulu. Lalu aku ambilkan minuman di kulkas. Ini ada camilan juga." Arnav nampak bingung.


"Pak Arnav, biar saya buatkan minuman saja. Malam-malam tidak nyaman minum yang dingin." Vita beranjak ke dapur.


"Boleh Vit. Kopi ya!" Perintah Arnav. Serkan hanya melirik Arnav sinis.


"Belajarlah membuat kopi sendiri." Gerutu Serkan.


"Aku bisa membuatnya. Tapi aku tidak bisa meninggalkan Armi lama-lama." Arnav mencari alasan. Ia sebenarnya sedang malas.


"Vit, saya minum yang sama denganmu saja." Pesan Arnav. Vita hanya mengangguk dan mencari-cari letak teh dan kopi.


***


Mereka berbincang sambil menikmati camilan dan minuman. Serkan membawa cukup banyak hadiah mulai dari peralatan makan hingga pakaian bayi.


"Kamu belanja sendiri atau bersama Vita?" Tanya Arnav terheran-heran.


"Naluri ingin memiliki anakmu sudah muncul. Hahaha. Dulu saat di pulau Delta aku pun begitu jika melihat temanku membawa anak mereka." Kenang Arnav.


Armi pun bangun dan hendak menangis, namun dengan sigap Arnav menggendongnya.


"Mungkin popoknya penuh pak. Apa Armi menggunakan diapers?" Tanya Vita.


"Iya. Aku lelah mengganti popoknya hampir setiap menit." Sahut Arnav.


"Setelah digendong dia masih gelisah apa dia pup?" Tanya Vita penasaran.


Arnav pun berpikir sama. Ternyata Armi tidak pup.


"Oh, mungkin dia haus." Arnav mengambil asi di botol dan memberikan pada Armi. Bayi tersebut pun menjadi tenang.


"Kalian berdua kenapa tidak menikah saja sih? Sudah cocok memiliki anak." Timpal Arnav. Serkan menatapnya tajam seolah menyuruh Arnav diam.


Pria itu tidak tau bagaimana perasaannya pada Vita. Sejauh ini ia mengajak wanita itu karena ingin menunjukkan bahwa Serkan bukanlah seperti yang Vita tuduhkan.


"Ehem, pak Arnav, ini sudah jam sembilan. Saya rasa sebaiknya kami pulang." Vita mengalihkan topik.

__ADS_1


Namira yang baru selesai kuliah pun keluar kamar.


"Lho, ada kalian di sini? Kita pesta yuk!" Ajaknya ceria.


"Kami sudah menghabiskan banyak camilan." Ucap Vita.


"Yasudah lain kali kita pesta. Mungkin akan lebih baik untuk menggabungkan semua karyawan bank dan juga klinik." Usul Namira.


"Lalu klinik tutup?" Serkan mencoba rasional.


"Ah sayang sekali. Dulu klinik tutup di hati libur, tapi sekarang justru buka 24 jam. Kalau begitu bagaimana saat pegawai internship bekerja saja? Jadi teman-teman akrab kita bisa datang." Namira mencoba memberi solusi pada Serkan.


"Setuju! Kapan sebaiknya?" Serkan nampak antusias.


"Bulan depan setelah Armi mendapatkan dua kali imunisasi. Jadi setidaknya pertahanannya sudah lebih baik." Timpal Namira.


Mereka pun pamit dan berharap bisa segera menemui Armi kembali.


***


Namira mengajak Arnav pergi membeli makanan. Ia ingin bubur ayam hangat. Jika melalui pesan antar nantinya bubur tersebut sudah tidak hangat.


"Armi bagaimana?" Tanya Arnav saat Namira sudah berganti baju.


"Bawa menggunakan car seat. Kita cari tempat makan yang memudahkan kita melihat mobil. Armi biarkan di mobil dengan jendela terbuka sedikit." Usul Namira.


Bayi yang baru berusia hampir tiga hari itu pun berjalan-jalan bersama kedua orang tuanya. Ia tertidur lelap di dekapan Namira dan melanjutkan mimpinya di kursi bayi di dalam mobil.


"Namira, pusar Armi kapan putusnya ya? Sebaiknya kita berpesta saat itu saja sekaligus bersyukur. Kita akan membagikan sembako juga pada para janda maupun keluarga tidak mampu." Ide Arnav.


"Ide yang sangat bagus! Aku setuju." Namira nampak antusias.


"Bagaimana keluarga kita?" Arnav bertanya hati-hati.


"Mereka sudah tau aku hamil. Seharusnya jika ingin menemui Armi setidaknya mereka menanyakan kabarku." Namira menatap kosong.


"Mereka kan hanya tau kamu hamil tapi tidak mengerti berapa bulan." Sambung Arnav.


"Biarkan saja mas." Namira menjawab tegas. Arnav pun bingung harus bagaimana. Namun ia rasa akan lebih baik jika keluarga mereka juga mengetahui kabar bahagia ini.


Namira memesan bubur ayam dari dalam mobil. Berhubung penjualnya hanya membuka lapak menggunakan gerobak di depan warungnya, ia memutuskan makan di mobil. Arnav pun mau tidak mau ikut menikmati makan malam yang terlalu larut tersebut.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2