
Menginap di Hotel Q membuat keduanya merasa lebih segar. Pukul empat dini hari keduanya pulang. Namira tertidur kembali di mobil sedangkan Arnav terus membelai rambut istrinya.
"Namira, bangunlah! Kita sarapan dulu di sini." Ajak Arnav. Mereka berhenti di sebuah rumah makan dengan menu andalan bubur ayam.
"Hmh.. Ini jam berapa mas? Aku tidak biasa sarapan sepagi ini." Jawab Namira sambil berusaha membuka matanya.
"Ini jam setengah enam. Sebentar lagi kita sampai. Sebaiknya sarapan dulu, jadi nanti kita tinggal bersiap ke kantor masing-masing." Arnav membuka sabuk pengamannya dan bermaksud membuka pintu. Ia lalu membukakan pintu istrinya.
Mereka sarapan dengan tenang kemudian menuju rumah. Namira bersiap begitu pun dengan Arnav.
"Aku lupa menghidupkan ponselku. Ah, aku rasanya lelah sekali." Gerutu Namira sambil menyalakan ponselnya.
"Maaf Namira, aku terlalu bersemangat kemarin." Ujar Arnav sambil memijat bahu istrinya.
"Ah untunglah tidak ada panggilan masuk." Namira menghela nafas lega.
"Aku antar ke klinik ya. Pulangnya aku jemput." Pinta Arnav masih dengan memijat pundak Namira.
"Apa gunanya aku dibelikan motor baru mas?" Tanya Namira sambil menatap Arnav heran.
"Itu untuk sesuatu yang mendesak saja. Aku antar. Ayo!" Mereka lantas menuju mobil.
***
Namira tiba lebih awal karena Arnav memaksa mengantarnya segera. Jam baru menunjukkan pukul tujuh lima belas menit. Parkiran jelas masih sepi, namun sebuah mobil Fortuner telah bertandang di sana. Pemilik mobil juga baru saja turun dari mobilnya. Ia menatap ke arah mobil Arnav dengan tatapan dinginnya. Ia masih tetap di sana tanpa beranjak seolah menunggu kedatangan seseorang.
"Aku tidak suka dengannya." Arnav menatap sinis ke arah dokter Serkan yang merupakan pemilik mobil Fortuner tersebut.
"Memangnya ada apa dengan dokter Serkan mas?" Tanya Namira dengan wajah polosnya.
"Usianya berapa? Apa dia lebih muda dariku?" Arnav bertanya tanpa memalingkan wajahnya ke arah Namira.
"Dia lebih tua darimu mas. Mungkin sekitar tiga puluh tiga tahun. Tapi ya namanya dokter, dia pasti paham bagaimana merawat dirinya." Sahut Namira bermaksud menggoda Arnav.
"Jangan dekat-dekat dengannya." Arnav masih menatap ke arah mobil dokter Serkan.
"Baiklah mas Arnav! as you wish!" Jawab Namira sambil membuka pintu mobil. Ia berjalan menuju ke pintu masuk klinik. Benar saja dugaan Arnav bahwa pria itu memang menunggu Namira. Buktinya saat gadis itu beranjak masuk ke klinik, pria itu mengikutinya.
"Ah, mereka nampak serasi dengan jas putih-putihnya. Tapi seharusnya mereka menggunakannya di dalam ruangan kan?" Gerutu Arnav kesal. Ia membalikkan setir mobilnya menuju arah kantor.
***
__ADS_1
***
"Kita rapat terlebih dahulu." Ucap dokter Serkan saat bertemu Namira.
"Baik dok." Jawab Namira sambil mengangguk sopan.
***
"Beberapa dari kita akan mengikuti seminar yang itu tentunya akan menambah SKP kita." Ujar dokter Serkan di ruang rapat.
"Dimana seminar dilakukan?" Tanya dokter Arin.
"Di Pulau Karimun besok lusa." Dokter Serkan menjawab dengan ekspresi datar.
"Aku bosan kesana terus. Kita hanya perlu naik kereta selama kurang lebih satu jam. Jika dengan mobil menempuh dua setengah jam. Seharusnya itu disebut Kota Karimun, bukan pulau Karimun. Bukan terpisah laut yang luas tetapi hanya sungai." Gerutu dokter Arin dengan wajah cantiknya.
"Aku tidak mengatakan kamu akan ikut kan? yang akan pergi adalah aku, Namira, dan perawat Wisnu." Jawab Dokter Serkan cuek sambil membolak balikkan dokumen.
"Ah maaf, seminarnya berapa hari dok? Lalu bagaimana nasib poli KIA?" Namira masih penasaran.
***
"Hm, berarti besok aku bertemu ibu mertua kemudian besoknya lagi aku seminar. Aduh membayangkannya saja aku sudah takut! Bagaimana jika mertuaku akan jalan-jalan besok lusa? Aku tidak bisa menemani mereka, lalu?" Namira merancau seorang diri.
Ia menarik nafas dan bersiap menghadapi pasien-pasien di poli. Pikirannya pun terfokus pada aktivitas poli hingga sore menjemput dan Arnav sudah setia menunggu.
Namira menuju ke mobil.
"Mas, besok hari Kamis kan ya? Kira-kira kita akan ke hotel papa dan mama jam berapa?" Namira bertanya dengan hati-hati.
"Setelah bekerja. Siapkan pakaianmu juga kita bisa menginap di kamar yang bersebelahan dengan mereka." Jawab Arnav penuh antusias.
"Kira-kira sampai hari apa mereka di sini?" Namira bertanya dengan cemas.
"Mungkin hari Sabtu. Ada apa memangnya?" Arnav bertanya curiga dengan sikap Namira.
"Hm.. aku akan menghadiri seminar untuk mencicil SKP ku di Pulau Karimun. Semua dibiayai klinik mas. Aku berangkat hari Jumat sore setelah jam pulang. Namira menjelaskan dengan sangat hati-hati.
"Oh iya, kenapa jam kerjamu sekarang sampai sore? Katanya ada dokter kandungan, lalu ia berjaga jam berapa?" Tanya Arnav mengalihkan pembicaraan. Ia seakan belum siap untuk memikirkan kepergian Namira ke Pulau Karimun.
__ADS_1
"Iya beliau menangani persalinan mas. Jika pasien datang di luar jam kerjaku artinya mereka akan ditangani oleh dokter Alvin." Jawab Namira.
"Lalu kenapa kamu harus mematikan ponsel waktu kita kencan? Jelas-jelas persalinan malam hari dilakukan oleh dokter." Arnav menatap istrinya heran.
"Aku hanya khawatir kalau aku dibutuhkan." Jawabnya.
Suasana menjadi hening. Mereka berdua berhenti bercakap-cakap.
"Bagaimana kondisi kantor mas?" Tanya Namira memecah keheningan.
"Semua baik-baik saja. Aku rasa kita bisa mempercepat kepulangan kita ke Pulau Delta." Arnav menekankan kalimatnya sehingga membuat Namira kembali terdiam.
***
Namira menyiapkan makan malam yang sangat praktis. Ayam goreng ditambah sambal tomat lengkap dengan lalapan. Arnav membantunya mencuci piring dan peralatan dapur yang dipakai memasak.
"Terima kasih mas." ucap Namira.
"Kita lanjutkan perbincangan kita tadi. Jadi kamu akan ke pulau Karimun? Berapa hari?" Arnav bertanya sambil duduk di sofa ruang tengah. Ia duduk di sebelah Namira.
"Aku berangkat Jumat sore dan kembali Minggu sore." Jawabnya sambil mengganti acara televisi.
"Aku ijinkan asal aku ikut. Kebetulan aku sedang libur. Jika aku harus membayar baiklah aku akan bayar. Dengan siapa saja kamu akan pergi?" Tanya Arnav sedikit sinis.
"Dengan dokter Serkan dan perawat Wisnu." Jawabnya dengan nafas tercekat.
"Kamu wanita sendirian? Aku harus ikut! Oiya, sudah lupakan pembahasan ini. Apa kamu sudah mengecek daftar lolos ujian masuk Universitas Siantar? Bagaimana kelanjutannya?" Arnav mengambil ponsel Namira dan membuka browser.
Beberapa saat kemudian nama Namira nampak di deretan nama calon mahasiswa yang lulus.
"Selamat sayang!" Ucap Arnav sambil mencium pipi Namira.
Entah apa yang dirasakan gadis itu, rasanya ia tidak terlalu senang. Apakah ia harus kembali ke pulau Delta seorang diri atau haruskah ia mengambil kelas online?
"Ayo kita rayakan!" Seru Arnav sambil menggendong istrinya menuju kamar.
.
.
.
__ADS_1