
Sekarang saatnya mengurus keluarga kecil..Namira dan Arnav sudah saling merasa nyaman dan fokus pada perkembangan calon anak mereka. Memasuki bulan kelima, Namira tidak penasaran dengan jenis kelamin anaknya walaupun Arnav terus saja meminta untuk menanyakannya pada dokter.
Libur semester pertama diisi oleh Namira dengan bekerja. Akhir pekan ia dan Arnav akan menginap di hotel hingga tak terasa sudah dua minggu Namira menikmati liburnya. Bahkan di malam tahun baru pun mereka memilih merayakannya di hotel dan mengundang Serkan, Vita, dan juga Sylvia.
"Besok-besok jangan undang saya. Saya malu hanya menjadi obat nyamuk." Keluh Sylvia.
Serkan memasang wajah dingin.
"Tidak begitu bu Sylvia. Saya dan Vita juga tidak ada apa-apa. Atau perlu mengundang semua orang di klinik?" Serkan tersenyum kecil.
"Aduh, kalau dokter Arin datang entah apa jadinya." Komentar Namira.
Mereka melanjutkan menikmati makan malam di rooftop hotel. Mereka juga saling bercerita mengenai harapan di tahun baru.
"Oke! Harapanku untuk mas Arnav, semoga bisa menjadi suami yang lebih sabar dan mencintai keluarga." Ucap Namira sambil menelungkupkan kedua tangannya.
"Lho, kalau itu sih sudah terwujud." Komentar Sylvia.
"Bagi Namira saya ini kurang sabar bu." Sahut Arnav.
"Hahaha! Kamu cari jodoh dimana lagi saya rasa tidak ada yang sesabar Arnav!" Serkan menimpali dengan tersenyum.
Namira hanya memasang wajah juteknya.
"Lanjut, harapan untuk perawat Sylvia, semoga tahun depan bisa naik gaji, hahaha! Kemudian diberi kesehatan baik untuk ibu, suami yang jauh di mata, dan anak-anak ibu. Lalu untuk Vita dan dokter Serkan, semoga kalian segera mendapat jodoh."
"Aamiin!" Sahut Arnav dan Sylvia bersamaan.
"Oke, harapanku untuk Namira dan Arnav, semoga kalian menjadi keluarga yang bahagia. Persalinanmu lancar dan sehat untuk kalian semua!" Celetuk Serkan. Semua pun mengangguk setuju.
__ADS_1
Vita memang lebih banyak diam karena dia merasa tak punya pilihan selain ikut berpesta bersama bosnya. Padahal ia ingin berpesta malam tahun baru bersama teman-temannya.
"Vita! Kalau kamu mau mengajak teman-temanmu kemari silahkan. Saya yang bayar." Arnav memberi usul setelah melihat Vita lebih banyak diam.
"Benarkah? Terima kasih pak Arnav!" Vita nampak sumringah dan mulai menghubungi teman-temannya.
"Mau menginap di sini juga boleh, saya yang bayar!" Serkan ikut menimpali.
Semua menoleh ke arah Serkan.
"Ah tidak usah pak Serkan." Tolak Vita dengan canggung.
Namira dan Arnav tersenyum karena merasa ada yang berbeda antara hubungan Vita dan Serkan.
***
Awal tahun baru, memasuki bulan keenam. Calon bayi sudah mulai aktif bergerak. Berhubung perut Namira sudah mulai nampak besar, rekan-rekannya di klinik pun akhirnya mengetahui kehamilannya. Dari sekian banyak yang mengetahui, mamanya justru belum mendapat informasi tersebut. Bahkan bu Santi juga enggan menghubungi bu Megumi karena malu.
"Mas Arnav, aku belum sempat bersih-bersih. Aku lelah." Keluh Namira.
"Aku panggil bu Ijah bagaimana?" Arnav mencoba memberi solusi.
"Tapi ini sudah sore." Sahut Namira.
"Aku akan menyuruhnya naik taksi. Beliau pasti mau. Apa mau disuruh memasak juga?" Tanya Arnav melihat Namira kuliah sambil bersandar di sofa.
"Pesan makanan saja sekalian dengan bu Ijah. Jam tujuh pastikan beliau sudah pulang ya mas. Kasihan kalau pulang kemalaman." Komentar Namira bagaikan seorang ratu.
"Siap nyonya!" Jawab Arnav yang langsung menuju kamar mandi untuk membereskan diri. Selang setengah jam bu Ijah tiba dan mulai membereskan ruangan. Beliau juga memasukkan pakaian ke mesin cuci.
__ADS_1
"Ada lagi yang harus saya kerjakan bu? Semua sudah selesai karena sambil menunggu mesin cuci berhenti saya menyapu dan mengepel lantai." Ujar bu Ijah.
"Besok kemari lagi ya bu. Sepulang saya dari klinik saja. Tolong setrika baju. Oh iya, maaf cuciannya banyak. Karena sejak libur dua minggu saya tidak sempat mencuci." Namira berkata sambil nyengir.
Bu Ijah hanya tersenyum.
"Bu, ini uangnya. Saya sudah pesankan taksi online. Ini juga ada makanan untuk keluarga ibu." Ucap Arnav.
"Tidak perlu repot-repot pak! Saya sangat senang setiap disuruh bekerja kemari!" Jawab bu Ijah.
"Sama-sama bu. Maaf karena kami jarang memanggil kemari karena memang terkadang masih bisa dikerjakan berdua." Balas Namira. Bu Ijah hanya mengangguk.
***
Rumah yang bersih membuat suasana hati Namira menjadi nyaman.
"Mas, aku lapar lagi. Bisa pesankan mie ayam?" Tanyanya pada Arnav yang sedang mengecek margin minimarketnya.
"Baik tuan puteri." Sahut Arnav sigap.
"Hahaha! Permohonanku terkabul ya? Semoga mas Arnav lebih sabar dan ternyata sekarang benar-benar sabar!" Celetuk Namira sambil melanjutkan pengerjaan tugasnya.
"Aku memang dari dulu sabar! Waktu kamu bekerja di bank Az aku selalu memahami karaktermu yang tidak jelas itu." Arnav nampak melamun mengenang hari-hari itu.
"Mie ayam dong!" Teriak Namira membuyarkan lamunan Arnav.
Pria itu pun merasa gemas dan mencubit pipi Namira.
.
__ADS_1
.
.