Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Masih Salah Target


__ADS_3

"Tiga hari lagi perayaan Armi. Tapi bagaimana ini mas? Tetap diam-diam saja?" Namira semakin gusar.


"Belum satu minggu Armi lahir tapi sudah ada gelagat buruk. Aku tidak percaya ada orang yang senekat Dilla." Arnav mondar mandir di kamarnya.


"Kita tidak punya bukti. Di gelas minuman itu tidak akan ada sidik jari Dilla. Bahkan di CCTV pun dia tidak kelihatan jelas karena bertudung." Jelas Namira berusaha logis.


"Baiklah. Keputusannya perayaan Armi hanya dihadiri oleh bu Ijah, David, Bu Sylvia, Serkan, dan Vita. Selanjutnya kita berdonasi seperti rencana awal." Tegas Arnav.


Namira mengangguk. Kini Arnav berusaha mengumpulkan bukti dan membawa bungkus minuman itu ke kantor polisi beserta hasil laboratorium darah Namira. Ia sangat berharap ada sidik jari yang menempel.


***


Sudah dua hari penyelidikan kasus tersebut berjalan. Di hari ketiga ini seperti rencana perayaan Armi dilangsungkan sederhana. Memesan beberapa kardus nasi dan parsel untuk dibagikan, Namira nampak tenang. Di rumah pun hidangan yang beraneka ragam telah disiapkan. Bagai tamu tak diundang, seseorang menekan bel menggunakan jaket kurir paket. Bahkan di CCTV wajahnya pun tak nampak karena helm. Arnav merasa mungkin itu adalah ojek yang akan mengirimkan nasi kardus dan parsel yang tertinggal karena tidak sempat terangkut oleh David tadi. Ia menyuruh David membagikan makanan ke para pedagang jalanan dan panti asuhan. Kurang lebih tersisa dua puluh box nasi di rumah sementara parsel sudah terangkut semua. Kurir tersebut masuk dan mengamati sekitar. Saat tidak ada yang mengamati, ia berjalan ke arah Namira dan nenusukkan pisau sambil menyemprotkan gas bius dengan asap cukup tebal. Semua merasa pusing dan pria itu berhasil kabur. Namira tergeletak di lantai bersimbah darah. Bu Ijah berusaha membawa Armi ke kamar mandi karena posisinya sangat memungkinkan untuk segera menyelamatkan diri. Arnav mencari Namira begitu pula dengan Serkan. Arnav dan Vita tumbang sementara Serkan yang sudah terbiasa dengan pembiusan nampak masih setengah sadar. Ia melihat Namira tergeletak dan bersimbah darah namun tidak sempat mengambil ponsel untuk menghubungi ambulans, ia pun pingsan.


David membagikan paket makanan dan parsel dengan cepat karena ia tidak memberikan satu per satu. Ia menyuruh satu orang pedagang untuk membagikannya. Demikian pula dengan panti asuhan. Ia cukup menyerahkannya kepada penjaga panti. Dalam waktu setengah jam ia sudah kembali dan bermaksud mengambil nasi box yang tertinggal. Asap bius sudah tidak ada mengingat adanya beberapa ventilasi di bagian depan rumah. David masuk seolah tidak terjadi apa-apa. Namun ja terkejut mendapati semua orang sedang pingsan. Namira dengan darah bercecer membuatnya bergidik ngeri.


"Ada apa ini? Namira!" David berteriak dan membuat bu Ijah mendengarnya. Ia keluar dan berlari ke arah David tanpa membawa Armi.


"Bu Namira!" Ia berteriak.


"Apa yang terjadi?" David merogoh ponsel menghubungi ambulans.


"Saya tidak tau pak. Tiba-tiba asap pekat dan saya berpikir harus menyelamatkan Armi." Sahut bu Ijah ketakutan.


Ambulans datang dan betapa terkejutnya tim medis mendapati banyak korban.

__ADS_1


"Wanita ini kritis." Ujar seorang perawat dan membawa Namira ke dalam mobil sementara yang lainnya berusaha disadarkan secara alami.


Serkan, Vita, dan Arnav mengerjap-ngerjapkan mata mereka. Seolah baru saja terbangun dari mimpi buruk, ketiganya nampak linglung.


"Apa yang barusan terjadi?" Tanya Vita. Serkan yang ditanya hanya menatap berkeliling.


"Dimana Namira?" Serkan masih memastikan ingatan terakhirnya.


Vita yang melihat Serkan begitu mencemaskan Namira menatap sendu pada pria itu.


"Bu Ijah, ibu tidak apa-apa? Armi bagaimana? Ibu lihat Namira?" Arnav menghampiri wanita paruh baya tersebut.


"Armi di kamar pak. Bu Namira..." Bu Ijah tidak melanjutkan ucapannya.


"Aku melihatnya pingsan bersimbah darah. Itu tidak benar kan?" Serkan mulai meragukan ingatannya.


Ketiga orang itu sangat terkejut. Arnav bahkan menjambak rambutnya sendiri.


"Dimana dia sekarang?" Apa ini rencana bu Ijah?!!" Arnav emosi dan mencengkram lengan bu Ijah.


"Sumpah tidak pak! Saya selamat karena berada di depan pintu kamar bersama Armi. Saya langsung masuk kamar begitu ada asap. Bukan saya pak! Sumpah!" Wanita itu menangis histeris.


"Sekarang dimana dia?" Serkan mencoba mengendalikan keadaan.


"Pak David membawanya ke rumah sakit dengan ambulans." Bu Ijah berkata dengan gemetar.

__ADS_1


"Aku harus kesana! Vita, kumohon tetap di sini bersama bu Ijah. Kunci rapat pintunya. Aku mohon jaga Armi untukku." Arnav menatap Vita dengan wajah memelas. Vita pun menitikkan air matanya dan mengangguk. Serkan mengambil alih kemudi karena ia yakin Arnav sedang tidak dapat berpikir jernih.


"Hubungi David, tanyakan rumah sakit mana." Perintah Serkan. Arnav dengan sigap mengambil ponselnya. Mereka menuju rumah sakit yang dikatakan David. Pria itu hanya mengucap nama rumah sakit dan mematikan panggilan sementara Arnav masih merasa ini semua tidak nyata.


Arnav dan Serkan, keduanya sebenarnya memiliki karakter hampir mirip. Mereka bisa menguasai emosi dan tidak panikan. Namun bedanya kali ini adalah Arnav masih merasa linglung sehingga tidak tau harus berbuat apa.


Setibanya di rumah sakit, nampak Namira tertidur. David mengatakan jika ia kehabisan cukup banyak darah. Luka tusuk itu tidaklah lebar namun cukup dalam. Namira masih belum tersadar.


"Kak Arnav, aku minta maaf. Karena panik, aku menghubungi ambulans dan tidak langsung membawanya di mobilku. Waktu terbuang banyak untuk menunggu ambulans." David menatap Arnav dengan tatapan bersalah.


"Itulah yang harus dibenahi di negeri ini. Ketika ada ambulans, kendaraan masih banyak yang tidak mau memberi jalan sehingga ambulans tidak bisa lekas sampai dan memperparah kondisi pasien." Serkan menenangkan David. Ia pun lantas berbicara pada dokter yang menangani Namira sementara Arnav masih menatap istrinya dengan tatapan kosong.


"Seandainya kamu tidak denganku, apakah nasibmu akan lebih baik?" Arnav bergumam seorang diri. David menjadi tidak tega pada sepupunya itu.


"Kak, kupikir drama seperti ini hanya dialami mafia atau orang terkaya di negeri ini. Aku kira skandal hanya berlaku pada selebriti. Tapi hari ini aku sadar, orang-orang biasa seperti kita juga bisa mengalami drama. Bedanya kita tidak diliput stasiun televisi." David meracau.


Arnav menangis. Seumur hidupnya dia tidak pernah sekacau ini. Ia selalu mencoba menjadi orang biasa tanpa sokongan orang tuanya. Ia juga berusaha tidak menonjol di lingkungannya. Bahkan dulu di sekolah ia selalu merendah karena khawatir pada perasaan orang lain yang tidak seberuntung dia. Namun semua itu sekarang sia-sia. Seharusnya ia yang terkena sial, bukan Namira. Membayangkan Armi menangis membutuhkan Namira rasanya hatinya menjadi ngilu.


"Namira.. Aku harap kita bisa mengembalikan waktu. Melihat dirimu yang panikan, berambisi, dan tanpa ekspresi seperti dulu sudah cukup bagiku walaupun tidak bisa memilikimu. Jika akhirnya begini.. aku rasa aku egois memaksamu denganku."


.


.


.

__ADS_1


like and vote ya


tengkyu


__ADS_2