Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Hengkang


__ADS_3

Saat jam istirahat, Arnav mengajak anggota tim nya untuk mendatangi rumah-rumah nasabah yang menunggak pembayaran. Penagihan kali ini melibatkan Namira. Saat tiba di rumah bapak Andri, Tama dan Raja turun sedangkan Arnav nantinya akan menjemput mereka lagi. Ia beralasan akan menuju ke rumah Pak Bastian padahal sebenarnya ia hendak mengajak Namira ke kantor catatan sipil.


"Ngomong-ngomong fungsi Namira ngapain mas?" Tanya Tama saat Arnav hendak melajukan mobilnya. Kali ini mereka pergi tanpa supir.


"Saya mau mengajarkan dia. Besok gantian Siska yang kita ajak." Jawab Arnav sekenanya. Tama hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Arnav dan Namira langsung menuju kantor catatan sipil. Mereka langsung ke ruangan psikolog pernikahan.


"Terima kasih mas dan mbak sudah berkenan hadir. Ini adalah tahap penting yang harus dilalui sebelum menikah. Kemarin sudah mendaftarkan pernikahan untuk tanggal 20 ya?" Tanya seorang bapak yang di pakaiannya tercantum nama Edwin.


"Iya pak. Sahut Arnav."


"Baik. Konseling pra nikah tidak akan berlama-lama. Saya lihat perbedaan usianya juga cukup. Kalian sudah mantap menikah? Sudah kenal lama?" Beliau bertanya kembali sambil memperbaiki kacamatanya. Pria tersebut berusia kisaran 50 tahun namun ramah dan nampak bijaksana.


"Sudah mantap pak. Kami baru kenal hampir satu tahun." Terang Arnav sedikit gugup.


"Baik. Selanjutnya saat nikah akan ada buku saku yang menerangkan tugas istri maupun suami. Termasuk pula hak masing-masing. Sekali lagi selamat ya. Saya rasa jika mbak Namira kali ini diam saja adalah karena perempuan umumnya akan galau saat hendak menikah. Itulah godaan pernikahan. Tenang saja mbak, semua akan membaik seiring waktu." Terang pak Edwin.


Baik Namira dan Arnav pun pamit. Mereka beranjak menuju mobil. Sepanjang perjalanan mereka lebih banyak diam bahkan hingga munculnya Tama dan Raja.


"Kalian bertengkar?" Raja membuka suara.

__ADS_1


Baik Namira maupun Arnav tidak menggubrisnya. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.


"Bagaimana jika dia kabur di hari pernikahan?" Arnav berucap dalam hati.


"Haruskah aku memilih kampus di luar kota? Sehingga walaupun menikah aku tidak akan berdekatan dengan mas Arnav sampai aku yakin padanya." Gumam Namira dalam hati.


***


"Jadi benar si admin itu yang akan menikah dengan Arnav?" Prita menahan emosinya setelah mendengar apa yang disampaikan seorang lelaki yang saat ini menjadi sekutunya.


"Ini seperti tidak nyata! Bagaimana bisa seorang Arnav dengan dia?" Prita masih tidak habis pikir.


"Kita harus mengecek ada apa sebenarnya. Santai saja. Akan ada saatnya bangkai tercium." Terang lelaki tersebut.


***


"Aku ke bawah dulu otorisasi." Ucap Namira pada Siska.


"Hai Namira! Jarang kelihatan nih! Mau ke BO ya?" Sapa Riyan dengan ramah.


"Iya." Namira menjawab singkat dan pergi. Ia masih mengingat kata-kata Arnav untuk berhati-hati pada Riyan.

__ADS_1


Entah hanya perasaannya atau memang kenyataan jika orang-orang tidak mempedulikannya. Baik pak Dewa maupun Reva bersikap sangat cuek padanya. Bahkan otorisasi pun tidak dapat ia lakukan karena tidak ada yang menanggapi ucapannya.


"Maaf pak, apa saya berbuat salah?" Ia memberanikan diri menanyakan hal tersebut pada pak Dewa.


"Kamu pikir ini kantor nenek moyangmu? Sejak kemarin yang bersusah payah adalah Siska. Kamu kemana? bolos? Kamu apakan Arnav sehingga bisa nurut sama kamu?" Pak Dewa menaikkan nada bicaranya dan membental Namira.


"Dia kayak Diana sih pak. Tapi kan Diana sudah hampir lima tahun baru diberi hak istimewa sama Arnav. Lah dia?" Celetuk Reva.


Namira merasa sangat marah namun ia masih berusaha profesional.


"Kamu godain Arnav ya? Prita yang cantik saja tidak bisa menggoda. Lalu kamu goda dia dengan apa?" Bisik Reva.


Air mata Namira tumpah. Ia keluar dari ruangan tersebut, kembali ke mejanya dan mengambil tasnya. Tak lupa ia mampir ke ruangan Dilla.


"Mbak, saya pamit. Terserah mau dapat gaji atau tidak bulan ini. Saya permisi. Surat pengunduran diri sudah saya serahkan mas Arnav." Namira beranjak pergi meninggalkan Dilla yang tersenyum sinis.


.


.


.

__ADS_1


.


tinggalkan jejak dong biar author semangat nih. 😢


__ADS_2