Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Ruang Brankas


__ADS_3

Keduanya terdiam. Namira pun mulai lelah dan lapar setelah 30 menit mereka saling diam.


"Saya lapar mas. Besok saja saya lanjutkan lagi ya? Mas Arnav sudah makan?" Tanyanya.


"Tadi briefing dapat makan. Saya pesankan servis antar atau mau membuat mie instan di pantry?" tanyanya.


"Ah tidak perlu mas. Saya mau pulang saja." Jawab Namira sambil tersenyum cengengesan.


Arnav pun mematikan komputernya dan mengajak Namira turun. Ruangan lantai dua kini gelap demikian pula dengan lantai satu.


"Saya duluan mas."


Arnav pun mengangguk.


***


Namira sangat lelah dan langsung tertidur. Sementara Arnav masih berkutat dengan arus kas mini marketnya. Sejenak ia teringat bahwa besok lusa orang tuanya datang. Ia mengacak rambutnya dan mulai menyusun strategi. Jika ia mengenalkan Prita, apa tanggapan orang tuanya? Dan bagaimana menghadapi Prita jika ke depannya ia tetap tidak bisa memiliki perasaan terhadapnya?


***


Mata Namira sangat berat. Kepalanya pun terasa berat. Badan terasa pegal membuatnya ingin mengambil libur. Namun ketika teringat banyaknya pencairan yang harus dilakukan, ia memaksakan diri berangkat kerja.


Ia melupakan sarapannya karena memang tidak bernafsu makan. Di kantor, ia pergi bersembunyi di toilet karena tidak ingin mengikuti doa pagi dan briefing. Wajahnya mulai pucat ditambah AC ruangan yang baginya terasa sangat dingin.


"Hari ini tim marketing menuju jalan Pemuda ya. Kemudian untuk beberapa nama yang belum cair akan saya pantau disini sekaligus pengecekan jaminan di brankas. Namira, apa ada berkas yang harus saya tanda tangani?" tanya Arnva. Namira berdiri dan memberikan beberapa berkas. Arnav meliriknya sejenak. Namira hanya diam tidak seperti biasanya dimana ia akan menyapa teman-temannya ataupun sekedar menjelaskan berapa berkas yang harus ditandatangani.


Kepalanya mulai terasa berat. Ia berjalan ke toilet dan muntah. Saat kembali, ia minta ijin pada Arnav untuk mengenakan jaketnya.


"Mas, maaf jaketnya belum jadi saya kembalikan. Saya pinjam dulu untuk hari ini di dalam ruangan."


Arnav terus menatapnya khawatir.


"Pakai saja. Atau ambil saja kalau kamu memerlukan itu." Terang Arnav. Raja menawarkan bubur karena ia akan pergi ke jalan pemuda. Namra pun mengangguk dan setuju untuk dibelikan bubur. Arnav menatap Raja dan berkata, "Tidak perlu mampir-mampir. Biarkan dia pesan layanan antar."

__ADS_1


Raja hanya tersenyum dan mengangguk kecil. Ketika dua pencairan telah selesai, Namira ijin beristirahat dan tertidur di atas meja kerjanya.


"Kamu selalu membuat orang cemas ya." Celoteh Arnav. Ia lantas melihat layar ponsel Namira di atas meja kerjanya. Di sana terdapat beberapa daftar kegiatan seperti pencairan, mengajar, menghadiri undangan pernikahan Santi, berlatih TOEFL, mencari info beasiswa, menyelesaikan artikel, dan membeli sembako pesanan ibu. Dari seluruh daftar itu Arnav merasa jika Namira sangat berambisi dengan hidupnya.


Namira terbangun dan mengecek jam di ponselnya. Ia tertidur selama 30 menit.


"Sudah mendingan?" tanya Tama.


"Iya mas."


"Ikut saya periksa jaminan di brankas ya." Perintah Arnav. Namira hanya mengangguk dan mengikuti bosnya menuju ke lantai satu ruang Back Office. Tak lupa ia berhenti karena dihadang oleh Prita.


"Beb, mau kemana? Akhir-akhir ini aku jarang ke atas karena pekerjaan menumpuk. Apalagi seminggu besok aku ke Singapadu mengikuti lomba Teller Teladan." Ujarnya.


"Bagus Prita. Semangat ya." Ucap Arnav sambil tersenyum yang mana membuat Prita semakin bangga pada dirinya.


Namira bersikap tenang saat melihat pemandangan dua sejoli itu. Lebih tepatnya tidak peduli. Setelah obrolan kedua insan itu selesai, mereka menuju ruang brankas. Sebuah ruang besar dengan pinti besi dan di dalamnya terdapat banyak almari berisikan surat-surat berharga. Ruangan itu tidak mendapatkan akses sinyal dan dilarang membawa ponsel ke sana. Setelah sibuk mengecek, pintu besi itu tertutup dengan sendirinya. Namira panik sementara Arnav merasa ada yang menjahili mereka. Sebelum masuk kemari, ia meminta kunci kepada Pak Dewa dan sepertinya kunci itu hanya satu. Jika tertutup dari luar bagaimana cara membukanta dari dalam?


Namira mulai memanggil-manggil seseorang berharap suaranya didengar. Sayangnya ruangan itu kedap suara. Ia mulai lemas. Kepanikannya membuat kondisi tubuhnya semakin tidak karuan apalagi ruangan itu sangat dingin dan pengap. Arnav mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Kalian tidak apa-apa?" Tama bertanya dengan napas naik turun


"Tenang saja. Tidak apa-apa. Untung aku selalu membawa ponsel dan mengabaikan aturan. Namira, kamu baik-baik saja?" tanya Arnav. Gadis itu diam dan langsung mendahului mereka untuk pergi. Ia dicegat oleh Prita.


"Kamu menjebak Arnav ya? Genit banget sih kamu." Tegur Prita. Namira hanya diam. Kepalanya pusing dan ia berjalan pergi tanpa peduli pandangan setiap mata.


Arnav mendengar kasak kusuk di belakangnya dan bertanya pada Rika.


"Rika, ada apa ya?"


Rika yang diajak bicara oleh Arnav tentu menjadi sangat gugup sekaligus senang.


"Begini mas, mbak Prita marah-marah ke Namira. Katanya dia menjebak mas Arnav supaya bisa berduaan di sana."

__ADS_1


Arnav mengepalkan tangannya.


"Tolong putar CCTV. Siapa yang menutup pintu besi itu." Perintahnya. Prita yang mendengar itu menjadi kaget.


"Maksudmu ada yang menjebak kalian?" tanya Prita.


Arnav mengangguk.


"Sayangnya di sana tidak ada CCTV." Balas Pak Riko. Arnav pun semakin kesal dan menuju lantai dua.


"Hei, mau kemana?" tanya Raja pada Namira yang nampak membereskan barang-barangnya. Arnav masuk dengan cepat bersama Tama. Ia menghentikan tangan Namira yang memasukkan beberapa catatan ke dalam tasnya.


"Kita cari pelakunya."


Namira hanya diam dan menepis tangan Arnav. Ia memakai tasnya dan menuju pintu darurat. Arnav mencegahnya.


"Kamu harus melawan ketika diperlakukan tidak adil." Tegas Arnav. Namira tidak peduli dan langsung turun.


Wanita ini benar-benar keras kepala. Batin Arnav.


***


Setibanya di rumah, Namira langsung tertidur. Ia tidak mempedulikan pesan maupun panggilan dari teman-temannya. Arnav pun mencoba mengirim pesan namun tidak dibaca.


***


Pagi harinya ia tetap berangkat bekerja seperti biasa. Ia mengabaikan pandangan orang-orang terhadapnya. Arnav cukup terkejut melihat Namira yang masuk kerja tanpa beban.


"Kamu sudah sehat?" Ia bertanya.


Gadis itu hanya mengangguk.


"Aku janji akan cari pelakunya." Ujar Arnav.

__ADS_1


"Tidak usah. Aku tidak peduli. Aku kesini untuk kerja mendapat gaji yang besar. Selanjutnya ketika mendapat beasiswa, aku keluar. Semudah itu pemikiranku. Kelak tidak ada lagi yang akan menghinaku karena aku beberapa tingkat di atas mereka." Ucapnya dengan tatapan kosong.


Arnav menjadi iba.


__ADS_2