Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Cafe Sebelah Bank Az


__ADS_3

Sampai di rumah Arnav pukul 9 malam. Namira mengambil motornya.


"Tunggu disitu. Aku masukkan mobil dulu." Perintahnya.


Ia kembali dengan motornya.


"Mau kemana mas?" Namira bertanya.


"Saya mau cek minimarket sekalian antar kamu sampai depan. Di sini lumayan sepi. Maklum lah, perumahan." Jawabnya.


Tanpa pikir panjang Namira hanya menurut.


***


Setibanya di rumah, Namira teringat Arnav. Rumahnya, penampilannya yang keren, tinggi badannya, wajahnya yang bernuansa timur tengah, dan tentu minimarket yang lumayan ramai. Sangat sempurna. Tapi ia mengurungkan niatnya berandai-andai terlalu tinggi. Sekarang fokusnya adalah melanjutkan kuliah ke jenjang S2, S3, membuka usaha atau menjadi dosen dan menjadi terhormat. Ia sangat berharap dapat menerima beasiswa di luar negeri agar semakin keren.


Lain halnya dengan Arnav. Ia sedang memandang langit-langit kamarnya. Ia merasa menyenangkan jika menghabiskan waktu bersama orang lain daripada selalu sendiri. Sebenarnya ia cukup sering pergi dengan timnya atau beramai-ramai dengan teman kantor tetapi pergi berdua saja dengan seorang wanita ternyata memberi arti tersendiri. Apakah sama jika wanita itu bukan Namira? entahlah.


***


Jam-jam padat di kantor berlangsung seperti biasa. Saat akhirnya jam menunjukkan pukul lima sore, Namira pamit.


Jam 7 di Segara Laut. Begitulah isi messenger dari Arnav. Namira hanya menjawab dengan satu huruf. Y.


Namira tiba di rumah jam setengah enam. Ia bergegas mandi dan pamit pada ibunya untuk makan malam bersama teman kantor. Tidak ada unsur kebohongan dari ucapan gadis itu. Ia memarkirkan motornya dan segera masuk ke dalam restoran.


Arnav melambaikan tangannya. Nampak pria itu masih mengenakan baju kerjanya namun dengan lengan yang digulung sesiku ala Arnav.


Namira mendekati meja tersebut dan tersenyum pada orang-orang yang juga duduk di meja tersebut. Terdapat seorang ibu, seorang wanita dewasa dengan suami dan anaknya yang berusia lima tahun, serta seorang bapak-bapak.


"Halo, namanya siapa nak? Sini duduk di sebelah ibu." Ucap ibu tersebuy disusul oleh senyum manis wanita dewasa di sebelahnya.


"Saya Namira bu." Jawabnya santun. Ia pun duduk di sebelah ibu tersebut.


"Namira, ini mamaku namanya bu Santi. Ini papaku namanya pak Arya. Ini kakakku namanya mbak Sari, ini suaminya namanya mas Farhan, dan anaknya yang cantik namanya Queen." Arnav memperkenalkan seluruh anggota keluarganya.


"Halo, nama saya Namira." Ucapnya sambil menganggukkan kepala.


Ada apa ini sebenarnya? Namira mulai membatin.

__ADS_1


"Rumahnya dimana nak?" tanya pak Arya.


"Saya di Jalan Melati pak." Jawabnya sambil tersenyum.


"Kenal Arnav sudah berapa lama?" tanya mbak Sari.


"Hm.. berapa lama ya? belum setahun." Jawabnya.


"Yasudah ayo makan dulu." Ajak Farhan. Mereka menyantap berbagai menu masakan laut.


"Ah Arnav. Maaf, seharusnya kamu yang duduk di sebelah Namira." Ucap bu Santi. Arnav hanya bergumam tidak apa-apa. Penampilan Namira dengan baju santai namun sopan ditambah dandanan minimalisnya membuat Arnav cukup terpukau. Gayanya yang santun juga menarik perhatian Arnav.


"Kami keluarga Arnav berharap Namira mau menerima Arnav." ucap pak Arya.


Wanita itu setengah kaget namun ia melihat ekspresi Arnav yang seakan menyuruhnya diam.


"Saya harap jangan berlama-lama pendekatan. Kalau bisa bulan depan sudah lamaran kemudian menikah. Atau minggu depan lamaran?" tanya Pak Arya.


Namira menjadi semakin mati kutu.


"Pa, nanti biar Arnav rembukan dulu. Sebaiknya papa dan mama mampir ke rumah Namira dulu. Atau mau langsung saat melamar?" Arnav bertanya dengan santai.


"Langsung melamar saja. Tidak enak juga jika mampir tanpa buah tangan." Ujar bu Santi.


Kantor pusat Bank Az pagi ini memiliki rutinitas seperti biasa. Arnav ijin datang terlambat karena harus mengantarkan keluarganya ke bandara. Satu hal yang sedikit berbeda adalah mengenai acara ulang tahun bank Az yang ke 17. Acara tersebut akan diadakan minggu depan. Panitia yang telah terbentuk akan mengadakan rapat kecil setiap jam pulang kantor. Arnav nampak memperhatikan Namira yang sedari tadi bersikap cukup tenang tanpa membahas kejadian semalam. Saat jam pulang, Namira ingin menyelesaikan BI checking sebagai laporannya akhir bulan ini. Itulah sebabnya ia dan Siska anak baru makan malam di sekitar kantor dan kembali ke kantor untuk lembur.


"Siska, maaf kemarin belum sempat menyapamu dengan baik. Semoga makan malam tadi sudah cukup membuat kita akrab. Sudah diajarkan apa saja oleh mbak Rika?"


"Soal pencairan. Sore ini saya mau lihat mba Namira menyelesaikan BI checking."


Begitu memasuki lobby, panitia ulang tahun bank Az sedang berdiskusi disertai camilan dan makan malam. Namira dan Siska naik ke lantai dua. Setelah menyelesaikan lima nama BI checking, Siska pamit pulang.


"Mba, saya pamit dulu. Sudah saya catat step nya. Besok akan saya kerjakan punya nasabah saya di bawah naungan kantor cabang Peninsula."


Namira mengangguk. Tentu saja nasabah di sana tidak sebanyak di pusat. Ia melihat tas Arnav masih berada di meja kerjanya. Benar saja, 10 menit kemudian Arnav tiba.


"Namira, apa tidak ada yang mau kamu tanyakan?"


"Soal apa mas?"

__ADS_1


"Orang tua saya menyuruh cepat menikah. Papa ada penyakit jantung dan diabetes. Tapi entah apa hubungannya dengan cepat menikah." Arnav menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Namanya juga orang tua mas. Kadang selalu ingin saingan dengan teman-temannya yang lain dalam segi apapun, termasuk pernikahan anaknya, karier, bahkan cucu. Saya paham kok. Santai saja. Saya tidak baperan." Ucap Namira sambil menatap komputer.


"Jadi kamu tidak masalah kalau mereka datang berkunjung ke rumahmu?"


"Lho bukannya akting ini sudah selesai tadi malam?" Namira menatap Arnav tajam.


"Saya kan hanya perlu menenangkan hati mereka sementara. Nah kalau mau menikah, perkenalkan saja bebep nya mas Arnav. Sesimpel itu kan. Kalian bukannya sudah saling suka?"


Pertanyaan Namira membuat Arnav terdiam.


"Saya kan hanya tameng supaya mba Prita tidak sakit hati kan? Kalian pasti menunggu momen tepat." Kini ia mulai kesal dan mematikan komputernya.


Ketika berkemas, Arnav menghadangnya di depan pintu.


"Kita bicara dulu di kafe sebelah." Arnav membuka pintu dan mengajak Namira bicara dengan secangkir kopi dan segelas susu hangat.


Ia mengeluarkan sebuah draft yang ada pada ponselnya dan menyerahkan pada Namira.


Perjanjian Pernikahan


Pihak pertama Arnav Nusa Raiza


Pihak kedua Namira Inggrid


Sepakat untuk melakukan pernikahan dengan keuntungan-keuntungan yang akan diperoleh di lampiran.


Tertanda


pihak pertama pihak kedua


"Apa-apaan ini?" tanya Namira sambil menscroll ponsel Arnav.


"Kita menikah saja."


"Hah? Kenapa tidak sama mba Prita?"


"Aku tidak menyukai Prita."

__ADS_1


"Jadi mas menyukai saya?"


Arnav terdiam.


__ADS_2