Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Pulau Samo


__ADS_3

"Mandi lalu siap-siap makan malam ah." Gumam Rika.


Setelah bergantian mandi sore, Namira hendak ke ruang makan di dekat lobby.


"Namira, sebentar! Sini, aku dandani sedikit." Cegah Fanny.


Hal itu membuat Namira berubah pikiran jika sebenarnya gadis itu adalah wanita yang baik.


"Aku gemas melihat perempuan yang tidak tampil maksimal padahal sebenarnya mereka sangat cantik." Terang Fanny.


Dengan cekatan gadis itu memoles Namira.


Sebuah pertanyaan konyol keluar dari mulut Namira.


"Kita semua usia berapa ya? Mengapa kita masih belum menikah?" tanyanya.


"Hahaha! Kamu kira aku dan Rika belum menikah? Kami sudah punya anak! Hanya saja saat seperti ini lebih asik menghabiskan waktu sendiri." Jelas Fanny.


Hal itu membuat Siska dan Namira hanya saling pandang.


"Aku sih baru lulus kuliah. Usiaku 22. Wajar belum menikah. Mba Namira gimana?" Sindir Siska.


Namira yang baru selesai didandani lantas pergi.


Ia melihat Arnav duduk di lobby.


"Namira!" panggilnya.


Namira berjalan mendekat tanpa bicara apapun.


"Ayo makan!" Ajak Arnav yang kemudian berdiri.


Namira kembali menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia melihat Prita datang dengan Reva dan beberapa wanita lain.


"Aku sama Siska mas. Nanti dia nyusul. Sudah ya, aku duluan." Ujarnya yang kemudian masuk perlahan meninggalkan Arnav.


Pria itu menghela nafas kasar. Sungguh kesal rasanya sehingga ia kembali duduk.


Prita melambaikan tangan padanya dan Arnav tidak peduli. Beberapa detik kemudian Ida muncul sambil membungkuk di hadapan pria itu.

__ADS_1


"Mas Arnav! Kupikir siapa duduk di sini sendirian. Mas tidak makan?" tanya Ida dengan nada lemah lembutnya.


"Aku belum lapar." Jawabnya datar.


"Wah, nanti kehabisan makanan lho mas. Setelah makan acara bebas. Jadi mas bisa jalan-jalan di pantai. Aku temani juga boleh." Ucap Ida sambil tersenyum.


Arnav berpikir bahwa ia akan mengirimkan pesan pada Namira untuk menunggunya di pantai setelah makan. Sayangnya wanita itu tidak membawa ponselnya.


Arnav ke ruang makan mencari keberadaan Namira tetapi nihil. Ia pun mencoba makan secepatnya ditemani Ida yang terus berusaha mendekati Arnav dengan santun. Arnav mengecek ponselnya dan terlihat Namira belum membaca pesannya.


"Mas mau jalan-jalan?" tanya Ida.


"Aku langsung ke kamar saja." Jawabnya datar dan pergi meninggalkan Ida.


Gadis itu masih menyunggingkan senyumnya dan menebar pesona pada pria-pria di divisi marketing. Ia akan memprovokasi pria-pria lain agar merasa bahwa dirinya adalah wanita yang sempurna sehingga mereka nantinya akan memprovokasi Arnav.


Di sisi lain, Arnav menuju kamar Namira.


Tok tok..


Fanny membuka pintu.


"Ada apa Nav?" tanya Fanny dengan piyama nya.


"Namira belum masuk. Ponselnya juga lagi di cas." Jawab Fanny.


"Kemana dia?" tanya Arnav sedikit panik.


"Siska, kamu tau Namira dimana?" tanya Fanny.


"Tadi katanya mau mencari angin." Jawab Siska yang sedang asik menonton video.


Arnav pamit dan mencari Namira. Ia keluar dari hotel dan menuju ke pantai. Banyak muda mudi yang pacaran. Tak sedikit juga pasangan dari pegawai Bank Az menikmati malam berdua. Ada juga yang mengajak anak mereka bermain air. Suasana di pantai cukup ramai walaupun di malam hari.


Ia terus mencari wanita berambut sebahu itu. Sampai di tempat yang agak sepi dan tidak terlalu dekat dengan bibir pantai, ia melihat Namira dengan jaket hitamnya sedang melamun.


Arnav pun mengejutkannya dengan memegang pundak Namira.


"Ya ampun!" Namira terkejut dan langsung berdiri. Setelah melihat Arnav, ia menghela nafasnya.

__ADS_1


"Ada apa mas?" tanyanya datar sambil kembali duduk di pasir.


"Kamu ngapain di sini sendirian?" tanya Arnav dengan tatapaan sendunya ke arah Namira.


"Jangan menatap saya seperti itu. Mas, ini kan kesempatan untuk menjadi dekat dengan mba Prita ataupun mba Ida. Kenapa tidak dimanfaatkan sih? Malah masih saja menyusul saya." Terang Namira sewot.


"Maksudmu?" Arnav kembali bertanya sambil mencorat-coret pasir di hadapannya dengan kayu.


"Kalau mas grogi di hadapan mereka, ya hadapi dong. Jika itu gejala tidak wajar coba konsul dengan psikolog." Namira menaikkan nada bicaranya. Arnav menatapnya bingung.


"Ya ampun! Mas pinter kan? Mas menjadikan saya subjek pembelajaran. Dekat-dekat dengan saya untuk berlatih agar tidak gugup saat bersama mereka. Saya ini alat bantu belajar. Satu lagi, jika mas gugup dengan mereka dan tidak gugup saat bersama saya, itu artinya mas suka dengan mereka. Ada rasa aneh yang tidak bisa dipahami dan itu cinta! Kalo sama saya ya biasa saja karena tidak cinta. Jadi berhenti menjadikan saya subjek pembelajaran. Itu mematikan harga diri saya di depan mereka tau tidak?" Namira menatap Arnav tajam.


"Sudah bicaranya? Siapa yang bilang seperti itu?" tanya Arnav santai.


"Mereka lah! Saya hanya jadi bahan tertawaan!" Protes Namira sambil menunduk menatap pasir.


"Kamu tidak menanyakan pendapat saya?" Arnav mencoba menatap mata Namira sekalipun gadis itu selalu berusaha menghindar.


"Tidak. Saya tidak mau mendengar ejekan yang sama berkali-kali." Namira lantas berdiri dan pergi. Arnav mengacak rambutnya frustasi.


Sesampainya di kamar, Namira menghidupkan ponselnya dan langsung menghapus pesan dari Arnav tanpa dibaca. Ia kemudian berusaha tertidur.


***


Pagi hari yang cerah, Namira tidak berminat sarapan saat dirinya melihat Arnav ada di sana. Pesan yang dikirim pria itu selalu dihapus tanpa dibaca. Namira memilih langsung ke tempat diving.


"Siska, Namira mana?" tanya Arnav yang sengaja berlama-lama menyantap sarapannya demi menunggu wanita itu.


"Tadi masih mandi mas. Dia telat bangun lalu katanya duluan saja. Begitu mas." Jawab Siska.


Arnav melihat jam tangannya. 10 menit lagi mereka akan memulai kegiatan. Benar saja, sampai akhir Namira tidak muncul.


"Ayo kumpul per divisi. Kita mulai diving. Sebelum menunggu giliran, kita mengumpulkan sampah. Divisi yang paling banyak mengumpulkan sampah dialah pemenangnya!" Jelas Pak Bambang.


Arnav melihat Namira sudah berbaris di belakang Siska. Nampak jelas gadis itu berusaha untuk tidak bertatap wajah dengannya.


"Mba kok udah di sini? Tadi tidak sarapan?" tanya Siska.


Namira hanya menggeleng.

__ADS_1


"Aktivitas kita berat lho mba." Sambung Siska. Hal itu tidak digubris Namira.


Arnav mengikuti kehendak Namira untuk saling cuek. Mereka memungut sampah dan saat hari mulai terik mereka mendapatkan giliran untuk diving. Jam 12.30 mereka naik dan makan siang kemudian beristirahat di kamar hotel sebelum akhirnya pulang jam 3 sore. Namira meminum parasetamol untuk mengobati pusingnya. Tak lupa ia meminum air sebanyak-banyaknya untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang. Bis adalah tempat dimana nantinya Namira akan tidur nyenyak.


__ADS_2