Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Negosiasi


__ADS_3

Arnav pergi dan Dilla merasa sedikit terancam. Ia tak hentinya menatap Arnav.


"Dilla, sejak kapan kamu menyukaiku?" Arnav membuka suara saat pesawat mulai lepas landas.


"Ehem.. Aku kurang tau." Jawab Dilla menunduk.


"Apa yang kamu inginkan? Aku menikah denganmu atau bagaimana? Kamu tau kan aku tidak memilihmu?" Arnav berkata santai sambil membuka majalah di hadapannya.


"Aku yakin suatu saat kamu akan menyukaiku. Sebelum saat itu tiba, tidak sepantasnya kamu memilih orang lain." Dilla masih menunduk.


"Saat itu tidak akan pernah tiba." Arnav menutup majalah dan menutup matanya. Ia sebenarnya mengkhawatirkan Namira. Namun ini satu-satunya cara mengurai sikap keras kepala istrinya.


***


Namira tidak mendapati siapapun di rumahnya. Ponsel Arnav juga tidak aktif.


Benarkah ini yang aku inginkan?


Ia meminum obatnya dengan teratur. Hari ini dilaluinya dengan baik-baik saja.


Arnav turun dari pesawat dan menghubungi ibunya.


"Aku di pulau Samo." Ucapnya dingin. Dilla yang berada di sebelahnya hanya bisa menebak jika mungkin Arnav menghubungi Namira.


"Apa Namira ikut?" bu Santi bertanya dan dia mengeraskan pembicaraannya agar Dilla mendengar.


"Dia tidak ikut. Aku akan memperkenalkan seseorang yang mungkin akan menggantikan Namira sebagai menantumu ma. Dengan begitu orang ini juga akan menggantikan posisinya untuk kamu rendahkan." Arnav berkata dengan tegas sedangkan Dilla hanya bisa menelan ludah.


"Maksudmu apa? Kamu selingkuh?" Bu Santi bertanya seolah tidak percaya.


Arnav mematikan panggilan dan mengganti dengan panggilan video.


"Dilla? Kamu pergi dengan Dilla?" Ibunya menatap murka.


"Iya. Jadi bagaimana? Apa mama akan melepas Namira dan membiarkannya digantikan oleh Dilla?" Arnav nampak emosi namun masih terkontrol.


"Mama tidak paham. Mama rasa kamu kurang istirahat." Jawab mamanya dan mematikan panggilan.


"Kamu akan tetap menyukaiku sekalipun mamaku membencimu? Sekalipun aku tidak menyukaimu apa benar kamu akan terus menyukaiku?" Arnav menyindir Dilla.


"Aku tidak paham kenapa mamamu membenciku. Tapi asal bisa bersamamu aku rasa semua masalah akan aku tanggung." Dilla berusaha meyakinkan Arnav. Ia hanya butuh Arnav dan tidak yang lain. Obsesinya hanya pada pria itu.


"Aku sungguh berharap orang lainlah yang mengucapkan itu." Keluh Arnav frustasi.

__ADS_1


Di sisi lain, bu Santi menghubungi Namira. Gadis itu menghela nafas karena mertuanya menghubunginya di tengah-tengah aktivitas kuliahnya.


"Selamat malam bu." Namira menjawab dengan tegas dan tegar.


"Apa kamu tau Arnav keluar kota dengan siapa?" Bu Santi bertanya penuh selidik.


"Aku tidak tau. Urusan pekerjaan." Namira menjawab santai dan tidak beretika. Ia sudah lelah menjadi orang yang diinjak-injak.


"Kamu kenal Dilla tidak? Dia kesana bersama perempuan itu. Apa benar dia kesana untuk keperluan pekerjaan?" Bu Santi mulai menaikkan nada suaranya.


"Biarkan saja bu. Aku baru saja kecelakaan dan sedang pemulihan. Sebaiknya aku tidak berpikir macam-macam seperti ibu." Tegas Namira.


"Ya sudah." Jawab bu Santi mematikan panggilan.


Dia bahkan tidak bertanya bagaimana keadaanku?


Namira merutuki dirinya. Bisa-bisanya posisinya menjadi seperti ini. Arnav dan Dilla kini sudah bersama. Lambat laun nasibnya juga akan terpuruk disertai membawa anak dalam sisa hidupnya.


Kita harus bersiap-siap nak!


Gumam Namira.


***


Namira masih bekerja walaupun Serkan sudah melarangnya karena ini mandat dari Arnav. Namira menceritakan semuanya pada Serkan bahwa sebentar lagi ia akan terhempas dari kehidupan Arnav.


Dua minggu berlalu. Bulan sudah berganti menjadi Oktober. Arnav tidak juga menghubungi Namira. Gadis itu menghubungi Vita. Mereka bertemu di rumah Namira.


"Maaf menyuruhmu kemari. Apa semua pekerjaan di kantor baik?" Tanya Namira sambil menuangkan teh.


"Baik bu. Besok pak Arnav kembali." Jawab Vita. Ia sudah melapor pada Arnav jika ia diundang ke rumah.


"Bersama Dilla?" Tanya Namira memucat.


"Entah bu, saya tidak tau." Jawab Vita.


Ia menghubungi Arnav diam-diam agar pria itu mendengar jawaban Namira secara langsung. Apapun yang Vita katakan, ia sudah diberikan alur oleh Arnav.


"Ada urusan apa mereka pergi hingga dua minggu?" Namira berusaha menahan tangis. Bagaimanapun Arnav adalah suaminya. Bagaimana bisa ia akhirnya memilih Dilla saat istrinya hamil?


"Saya kurang paham bu. Maaf. Saya tidak mengetahui keseluruhan." Jawab Vita sedikit takut.


Namira menangis.

__ADS_1


"Ya, memang ini yang aku mau. Tapi sungguh aku tidak menyangka secepat ini dan dalam kondisi seperti ini." Ia terisak.


Arnav mendengar semuanya. Ia harus bertahan dan tidak iba lagi pada istrinya hingga ego Namira turun.


"Bu, saat ibu kecelakaan, pak Arnav nampak sangat khawatir." Vita menjelaskan karena tidak tega melihat kondisi Namira yang menangis. Apalagi ia terlihat menyedihkan dengan tampilannya.


"Tapi sudah dua minggu ini dia tidak menghubungiku." Jawabnya terisak.


"Kenapa tidak ibu yang menghubunginya?" Tanya Vita.


"Aku sudah menghubunginya saat dia pergi tapi ponselnya tidak aktif. Seharusnya begitu ponsel aktif ia menerima pesanku. Tapi dia tidak membalasnya hingga sekarang." Namira sesenggukan menangis.


"Bu, ibu sedang hamil kan? Kasihan bayinya. Sebaiknya kalian menurunkan ego masing-masing. Maaf jika saya ikut campur." Akhirnya Vita mengeluarkan pendapatnya. Arnav yang masih mendengarkan percakapan itu merasa bahwa Vita benar. Seharusnya mereka saling sadar karena ada nyawa yang harus dijaga.


Gadis itu pamit. Serkan yang baru tiba cukup kaget melihat Vita.


"Pak Serkan! Sebaiknya Anda tidak mencari kesempatan dalam kesempitan! Ayo kita pulang." Vita menarik Serkan untuk kembali ke mobilnya.


"Kamu naik apa kemari? Saya antar!" Serkan menawarkan. Vita pun hanya mengangguk. Ia sudah tidak terlalu benci pada pria tersebut.


***


Ponsel Namira berdering. Sebuah nomor tidak dikenal. Ia mengangkatnya, terdengar seperti suara yang sangat ramai di kafe.


"Aku akhirnya mendapatkan Arnav dengan cukup mudah. Aku bersedia mencintai dia seorang diri walaupun dia tidak. Aku juga akan melawan keluarganya jika mereka membenciku. Sesimpel itu. Arnav setuju karena dia memang butuh wanita sepertiku." Suara itu terdengar seperti Dilla.


"Selamat ya. Akhirnya penantianmu terjawab. Arnav sudah setuju?" Tanya pria itu.


"Arnav masih memikirkannya. Tapi memang dia menyedihkan sekali. Dia butuh cinta. Aku siap memberikan kapanpun. Dia sosok paling sempurna di mataku. Apapun akan kulakukan untuknya. Laki-laki mana sih yang tidak mau diberikan servis memuaskan? Aku akan hadir saat dia benar-benar galau dan memulai rencanaku menghiburnya, memberi minuman supaya mabuk, mencumbu, dan hamil. Kalau belum hamil ya ulangi lagi." Celoteh Dilla.


Namira menjadi panas. Ia menghubungi Vita bertanya kemana Arnav pergi.


"Bu, dia ke Pulau Samo. Tapi sudah berangkat pulang. Tidak perlu khawatir." Terang Vita. Namira menghubungi nomor tak dikenal tadi. Lama tak dijawab hingga panggilan ke sepuluh.


"Halo." Ucap suara di sebrang.


"Halo. Siapa ini?" Tanya Namira emosi.


"Aku Raja. Masih ingat aku?" Ucap pria di seberang telepon.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2