Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Angka Sial


__ADS_3

Tiga belas April


Arnav masih menginap di rumah Namira dan kali ini sedang bersiap ke kantor.


"Sarapannya sudah jadi. Mas Arnav, Firda, ayo sarapan!" Ajak Namira.


Arnav tidak menggubris dan beranjak pergi. Hal itu membuat Namira kesal.


"Kalau numpang di rumah orang, sopan sedikit dong!" Namira menyindir Arnav.


Pria itu tidak peduli dan langsung pergi ke kantor.


Apa dia marah? Namira membatin sendiri.


***


Sesampainya di kantor Arnav nampak kusut apalagi ia harus bertatapan dengan Prita. Satu hal yang membuatnya senang adalah ketika Riyan sudah menghilang dari kantor ini.


Tama dan Raja yang melihat wajah Arnav ditekuk, langsung menghampirinya sebelum briefing.


"Ada apa mas?" Tanya Tama.


"Perempuan itu susah ditebak ya. Kalau mereka berpikir buruk tentang sesuatu bagaimana cara merubahnya?" Arnav meminta pendapat Tama.


"Ya tinggal tunjukkan kebenarannya kan mas?" Jawab Tama santai.


Hal itu tidak membuat Arnav puas.


"Siapkan mobil, kita prospek ke daerah kantor cabang. Aku mau bertemu Pratama." Perintah Arnav.


Selesai briefing mereka langsung menuju kantor cabang.


"Kalian prospek daerah sini, saya mau bertemu Pratama dulu." Ujar Arnav.


"Lho Nav! Tumben kemari tanpa kabar!" Pratama tersenyum senang.


"Wah, laki-laki semua ya disini?" Celetuk Arnav.


"Memangnya kenapa? Artinya istri-istri kamu bisa tenang di rumah." Jawab Pratama sekenanya.


"Aku mau cerita. Seminggu lagi aku akan menikah. Ini undangannya untuk kalian."


"Namira? Ini Namira adminku dulu?" Pratama kaget tidak percaya.


Arnav mengangguk. Ia menceritakan segalanya pada Pratama.


"Memang Namira itu unik. Mungkin memang karena masa lalu yang membentuk dia menjadi mawas diri dan membangun pertahanan yang tinggi. Menurutku, kesalahanmu adalah perjanjian itu. Dia ketakutan setelah nanti dia menyukaimu, melepaskan pertahanannya, tiba-tiba kamu mengungkit perjanjian." Terang Pratama.


"Coba aku bicarakan lagi dengannya." Ucap Arnav pasrah.


"Jaga hatinya. Dia merasa kamu tidak pernah membela dia di hadapan umum, dihadapan dia. Mulai saat ini lindungi dia terang-terangan. Siapapun itu entah Dilla atau Prita, tolak dengan tegas." Saran Pratama dengan senyumnya.


"Dilla temanku sejak kuliah Pratama!" Sela Arnav.


"Pria dan wanita tidak ada yang namanya teman baik. Jika itu berlaku untuk Namira, bagaimana perasaanmu?" Pratama kembali memancing Arnav.

__ADS_1


"Kamu benar!" Timpal Arnav. Setelah berterima kasih pun ia pamit kembali ke kantor pusat.


"Orang itu bisa juga lemah letih lesu. Ternyata karena perempuan." Gerutu Adrian.


Pratama hanya tertawa mendengar Adrian menggerutu.


***


Sesampainya di kantor, Dilla menunggu Arnav.


"Nav, apa kamu sudah tau kalsu Riyan dimutasi?" Tanya wanita itu.


"Iya. Aku tau. Ada apa?" Arnav mulai menjaga jarak dengan Dilla.


"Saranku kamu hati-hati juga Nav! Bisa saja kemudian kamu yang dimutasi! Oh iya, apa Novi boleh datang ke acara pernikahanmu?" Tanya Dilla dengan senyum manisnya.


"Boleh. Aku sudah tidak ada perasaan apa-apa dengannya. Kamu juga boleh membawa pacarmu." Ucap Arnav sambil duduk ke meja kerjanya.


"Haha! Tidak udah meledek. Aku masih belum punya pacar." Seru Dilla.


"Kenapa? Apa kamu berharap ada pria yang langsung melamarmu seperti aku pada Namira?" Balas Arnav dengan sombongnya.


"Iya. Kalau bisa ya tidak seperti kamu. Tapi kamu." Ucapnya mendekat.


Seketika Arnav menjadi kaget.


"Bercanda Nav! Duh, serius banget ya kamu!" Balas Dilla sambil tertawa.


Arnav terdiam dan memikirkan perkataan Pratama soal pria dan wanita yang tidak mungkin dapat berteman.


Kejadian ini difoto oleh Prita dan dikirimkan pada Namira.


Namira tampak bingung dengan identitas si pengirim pesan. Ketika dilihat foto profilnya, orang itu adalah Prita.


Mau apa sih orang ini? gumam Namira. Ia pun tidak ambil pusing dan memilih menemui Prita.


***


Arnav tiba di rumah Namira dan mendapati calon istrinya sudah berdandan rapi.


"Mau kemana? Aku antar." Tawar Arnav.


"Tidak perlu mas. Ini urusan perempuan. Kalau saya nanti tidak mengirim pesan satu jam dari sekarang, artinya saya sedang butuh bantuan." Tegas Namira.


"Baik, kita pasang aplikasi dulu untuk melacak keberadaanmu nanti." Arnav langsung menyetel aplikasi untuk melacak keberadaan Namira.


"Hati-hati ya!" Arnav mengelus rambut Namira karena sudah bertekad untuk menunjukkan perlindungan dan perhatiannya secara terang-terangan sesuai usul Pratama.


"Halo." Arnav menjawab panggilan dari Farhan.


"Dik, soal mobil yang menyerempet Namira diketahui milik bapak Frans." Terang Farhan.


"Alamatnya dimana mas?" Arnav mencoba menggali lebih dalam.


"Jalan Pemuda gang 5 nomor 12. Mungkin dia memiliki usaha rental mobil." Ucap Farhan.

__ADS_1


"Baik mas, terima kasih." Balas Arnav.


Ponsel pun dimatikan. Arnav menepuk pundak Firda yang sedang bermain game online.


"Bisa temani aku sebentar?" Tanya Arnav.


"Kemana mas?" Firda menjawab tanpa menoleh.


"Menjadi detektif." Ucap Arnav. Mereka langsung mengenakan jaket dan pergi.


***


"Ada apa mba Prita?" Namira tiba di cafe M dan duduk di depan Prita.


"Silahkan pesan. Aku yang bayar." Tegas Prita.


"Tidak usah mba. Saya takut seperti yang di berita televisi. Diracun sianida." Balas Namira enteng.


Prita menatap tidak percaya.


"Kamu sudah terima pesan yang saya kirim? Seharusnya kamu lebih waspada pada dia daripada saya." Ketus Prita.


"Saya hanya mencoba berhati-hati pada semua orang. Saya akan memesan camilan yang sudah disajikan di etalase saja." Namira pergi dari kursinya dan memesan camilan.


"Jadi intinya apa yang mau mba bahas dengan saya?" Ucap Namira sambil memasukkan potongan red velvet ke mulutnya.


"Sekarang saya sudah tau kalau kamu akan menikah dengan Arnav." Ucapnya tegas.


Namira tersedak, tapi ia belum memesan minuman.


"Siapa suruh kamu tidak pesan minuman? Kali ini bukan mati karena sianida tapi karena tersedak." Ucap Prita sinis.


"Mas, minta air putih ya!" Seru Namira kepada pelayan.


Ia menuju dapur pelayan untuk memastikan tidak ada zat apapun yang ditambahkan pada minumannya.


"Baiklah mba Prita. Mari dilanjutkan. Jadi memang benar saya akan menikah dengan mas Arnav." Ucapnya setelah tenggorokannya tidak tersumbat makanan.


"Saya tau. Tidak usah dikonfirmasi. Apa alasan kalian menikah? Kamu hamil?" Tanya Prita dengan tatapan menghina.


"Uhuk.." Lagi-lagi Namira tersedak.


"Duh, amit-amit! Bukan mba! Coba saja tanya sama mas Arnav!" Gerutu Namira.


"Arnav membenci saya sekarang karena ucapan Riyan." Gumam Prita.


"Oh, ternyata benar pria dan wanita tidak bisa berteman. Pasti salah satu ada yang menyimpan rasa." Namira bergumam sendiri.


"Apa maksudmu? Riyan sekarang sudah dimutasi dan kami tidak ada perasaan apapun!" Tegas Prita.


"Yang saya maksud itu mba Prita dan mas Arnav!" Protes Namira.


"Kalian kenapa menikah?!?" Prita mulai emosi karena pertanyaannya tidak juga dijawab.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2