
Pagi hingga siang semua menjalankan aktivitasnya. Siang hari saat Namira pulang, ia mendapati David telah kembali dari mencari data.
"Kak, aku sudah memesan makanan. Jangan sampai aku menumpang tanpa tau diri!" David terkekeh. Namira hanya tersenyum. Ia pergi makan siang dan membuka laptopnya.
"Kakak sedang apa?" Tanya David.
"Aku mau mengerjakan tugas." Jawabnya.
"Oh iya aku lupa. Kakak kuliah online ya?" Tanya David. Namira mengangguk.
"David, kita seumuran. Bisakah panggil aku Namira saja?" Pinta gadis itu. David pun mengangguk dan tersenyum.
Namira memasak makan malam dan David membantunya.
"Anak orang kaya tapi pandai membantu ya?" Goda Namira.
"Haha! Jangan salah! Aku mengagumi Arnav dan belajar banyak soal rendah hati darinya. Ibunya pun semula begitu. Tapi entahlah kak! Manusia jika sudah kaya lalu lupa jika ia juga berasa dari tanah." David berceloteh.
Mereka menunggu Arnav di meja makan.
"Apa dia selalu datang malam-malam?" David bertanya penuh selidik.
"Biasanya jam lima sudah pulang." Namira menjawab sambil teringat kebiasaan Arnav pulang kantor yang selalu mengecupnya. Mereka juga kerap makan malam di luar.
"Kalian tidak sedang baik-baik saja kan?" David menyelidik.
"Ehem, kita makan saja duluan. Aku akan kuliah sebentar lagi." Namira mengalihkan pembicaraan.
Hingga jam sepuluh Arnav tidak juga kembali. Namira tertidur di kamar setelah menyelesaikan kuliahnya serta menyicil tugas.
Arnav baru tiba jam sebelas malam dan mendapati David di depan televisi.
"Kerja apa sampai jam segini baru pulang?" Selidik David.
"Kamu lebih cerewet dari seorang istri." Ketus Arnav yang langsung menuju kamarnya.
Setelah membersihkan badannya dan mengganti baju, Arnav menatap punggung Namira. Ia sangat rindu pada gadis itu. Saat Arnav memejamkan mata, Namira terbangun dan ke toilet. Mungkin ini adalah rutinitasnya ke toilet di malam hari sejak kehamilannya memasuki trimester kedua. Arnav memunggungi Namira dan gadis itu hanya bisa menghela nafas. Ia pun rindu dengan pundak bidang Arnav.
***
Pagi menjelang, Namira bangkit tanpa suara. Ia menyiapkan sarapan seperti biasa. Nafsu makannya sudah sangat membaik di awal trimester kedua ini.
"Ayo David, silahkan sarapan!" Ucap Namira. Sedangkan Arnav yang baru hendak menuju meja makan hanya mendengus sebab ia tidak ditawari.
"Namira, tawari juga kak Arnav!" Protes David.
"Silahkan makan mas!" Ucap Namira. Arnav masih terpaku memandang David karena memanggil istrinya dengan nama saja.
"Kalian akrab sekali ya?" Sindir Arnav.
"Tentu saja! Kami seumuran! Kamu juga kerap meninggalkan istrimu seharian di rumah!" Gerutu David.
Arnav membayangkan apa saja yang dilakukan Namira dan David di rumah ini berdua. Ia mengepalkan tangan dan bertekad tidak akan pulang telat lagi.
__ADS_1
***
Jam empat sore Arnav sudah kembali ke rumah. Ia tidak mendapati Namira.
"Dimana Namira?" Tanyanya pada David.
"Entah. Seharusnya dia sudah pulang dari klinik dan mengerjakan tugas kuliahnya." Jawab David. Seketika Arnav teringat jika Namira masih harus kuliah online. Biasanya ia membantunya saat gadis itu mengantuk dan lelah. Semua terasa bagai kenangan semata.
Hari sudah gelap. Namira belum juga kembali.
"Kak, aku lapar! Ayo pesan makanan! Namira menyuruhku memesan saja. Dia masih agak lama katanya." Ajak David.
"Kenapa kamu bisa tau?" Arnav bertanya penuh selidik.
"Aku menelponnya lah! Memangnya aku cenayang? Kak, aku tidak tau apa yang terjadi pada kalian. Tapi kurasa kalian sudah dewasa. Bahkan saling mengirim pesan pun tidak." Celoteh David yang kemudian memesan makanan seperti saran Namira.
Kemana dia?
Ucap Arnav dalam hatinya.
Mau tidak mau Arnav akhirnya menghubunginya.
"Kamu dimana?" Arnav berkata dengan datar.
"Aku di dokter Sulli." Jawab Namira tak kalah datar.
"Oh, aku hanya mau bertanya apa mau disisakan makanan?" Arnav bingung hendak berkata apa.
"Tidak usah mas. Sudah dulu, ini giliranku." Jawab Namira dan mengakhiri panggilan.
Sudah jam sembilan malam, Namira belum juga pulang.
Apa dia mampir ke suatu tempat?
Arnav bergelut dengan pikirannya.
Di sisi lain, Namira menenangkan diri di sebuah restoran siap saji. Ia meminum coklat hangatnya dan memesan ifu mie. Ia menikmati saat-saat sendirinya dan bersyukur bahwa badannya tidak terlalu membengkak.
Pak Arya menelponnya.
"Halo pak." Sapa Namira.
"Halo Namira. Bagaimana keadaanmu?"
"Saya baik-baik saja Pak." Jawab Namira santai.
"Maaf saya baru menghubungi. Apa kamu sudah tau berita mengenai Arnav? Saya harap kamu bisa menyikapi dengan bijaksana dan tidak terpancing." Pinta Pak Arya.
"Bapak tenang saja." Jawab Namira.
"Saya sangat berharap berita itu bohong dan masih menelisik siapa penyebarnya. Apa kamu ada kecurigaan?" Tanya Pak Arya berharap mendapat solusi.
"Tidak pak." Jawab Namira gugup.
__ADS_1
Panggilan pun berakhir. Jam menunjukkan jam sepuluh malam. Namira memutuskan pulang.
Arnav menunggu dengan gusar.
"Dari mana saja kamu?" Tanyanya di depan pintu.
"Aku mampir makan malam." Jawab Namira ketus.
"Apa kamu tidak kuliah?" Arnav masih mengekor Namira.
"Aku menyimak di sela-sela aktivitasku. Minggu depan sudah ujian. Jadi materi pun sudah berakhir." Jawab Namira singkat.
"Dengan siapa kamu makan malam?" Tanya Arnav menarik tangan Namira.
"Aku hanya makan malam. Aku bukan sedang berkencan berhari-hari." Ketus Namira.
"Kamu terlalu yakin dengan pikiranmu. Kamu egois karena bahkan tidak menanyakan kebenarannya pada orang tersebut." Keluh Arnav.
"Kalau begitu jelaskan! Kondisiku memang sedang hamil, tidak cantik. Aku paham kamu butuh sesuatu sebagai pria. Aku juga sangat paham kamu ingin dicintai dengan perasaan membuncah." Belum selesai Namira berbicara, Arnav menyelanya.
"Hentikan!! Kamu terlalu merendahkan dirimu sendiri! Setelah mama merendahkanmu, kamu menganggap aku dan sekitarmu sama! Aku bukan pria yang tidak bisa menahan diri! Camkan itu!" Arnav masuk ke kamar mendahului Namira. David yang sedari tadi belum tidur mau tidak mau mendengar semuanya. Ia berniat menyelidiki gadis yang dimaksud Namira. Bisa jadi gadis itulah penyebar skandal tentang Arnav.
Namira mengambil bantal dan hendak tidur di sofa. Arnav melarangnya.
"Mana hasil USG nya? Aku ingin melihatnya." Arnav menghadang Namira.
Gadis itu menyerahkan hasilnya.
"Lagi-lagi aku tidak bisa melihatnya bergerak." Gumam Arnav sedih.
Namira melihat kesedihan di wajah Arnav. Namun ia masih tidak habis pikir dengan kelakuan Arnav.
Lelaki itu tiba-tiba memeluk Namira. Ia menumpahkan semua perasaannya yang berkecamuk selama ini.
"Ayo tidur. Kamu pasti lelah?" Arnav membimbing Namira ke atas kasur dan menyelimutinya. Namira sempat tersentuh pada sikap Arnav.
"Tidurlah, aku akan tidur di sofa." Ucap Arnav.
Namira merasa sesak saat suaminya beranjak ke sofa.
"Tidur saja disini." Ucap Namira canggung.
Arnav sedikit terkejut dengan perkataan Namira.
"Aku tidak bisa tidur dengan orang yang membenciku." Arnav beranjak keluar kamar.
Apa itu artinya dia bisa tidur dengan Dilla ?
Namira kembali berpikir buruk.
.
.
__ADS_1
.
.