
Iwan memikirkan jawaban yang tepat untuk bosnya. Lelaki yang baru berusia dua puluh dua tahun itu hanya bisa berpikir dari apa yang ia lihat dan baca.
"Saya rasa mungkin dia suka dengan lelaki itu." Jawab Iwan gugup sambil menyeruput kopinya.
"Tapi dia tidak pernah berkata suka." Timpal Arnav sambil menatap keluar jendela.
"Suka tidak harus diucapkan mas. Terkadang sikap saja sudah cukup merefleksikan perasaan seseorang." Iwan mencoba memperbaiki pikiran bosnya yang sedah pesimis.
"Sikap yang seperti apa?" Arnav kembali bertanya sambil kini membuka bungkus sebuah roti. Sebenarnya ia cukup gugup membahas ini tapi ia tidak mau Iwan meledeknya.
"Cemburu mas. Ngomong-ngomong ini tentang siapa sih mas? Beberapa waktu lalu saat keluarga mas Arnav kemari, mereka berkata jika mas hendak menikah. Kenapa tidak cerita pada saya? Sekarang tiba-tiba curhat mengenai sandiwara." Iwan memprotes kelakuan Arnav yang hanya mencarinya jika galau.
"Ini tentang saya." Arnav menjawab tanpa mau menatap Iwan.
"Jadi pernikahan ini sandiwara? Berapa uang yang mas tawarkan?" Iwan menjadi bersemangat mencari tau.
"Saya sejak awal menyukai dia karena dia sedikit berbeda dengan kebanyakan perempuan yang saya kenal. Sandiwara ini hanya akal-akalan saya saja agar dia menerima. Saya memberinya uang lima puluh juta dan mini market ini." Jelas Arnav masih dengan tatapan menunduk.
"Wah gila mas! Siapa yang tidak mau dengan penawaran mas Arnav?" Iwan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sebagai bentuk frustasi atas kelakuan bosnya.
"Ya tapi dia bilang akan mengembalikan uang saya setelah saya mengatakan kalau dia menerima pernikahan ini karena uang." Sambung Arnav yang bingung dengan tingkah frustasi Iwan.
"Saya menyerah! Entah ini tarik ulur atau dia memang suka. Saya tidak tahu mas! Coba saja membuatnya cemburu." Saran Iwan.
****
__ADS_1
Tanggal tiga April.
Seperti biasa Namira berangkat bekerja. Kali ini ia akan mengundurkan diri. Keputusannya untuk tidak bertemu Arnav lagi mungkin yang terbaik agar mereka dapat saling introspeksi. Ia memarkirkan motornya dan menuju lantai dua tempat kerjanya. Arnav yang melihat Namira datang hanya acuh dan mulai mencari Prita.
"Prita, bagaimana acaramu kemarin?" Tanya Arnav seraya mengajaknya berbaris mengikuti briefing yang sebentar lagi dimulai. Posisi Namira saat itu adalah baru saja keluar dari ruang kerjanya setelah meletakkan tasnya dan hendak mengikuti briefing.
"Aku inginnya kamu ikut." Ucap Prita dengan nada manjanya.
"Baiklah, atur ulang nanti aku ikut." Arnav menatapnya sambil tersenyum.
Namira yang berada di depan mereka hanya bisa menghela nafas. Ia bahkan tidak tau apa yang harus dilakukan. Berpura-pura sibuk dengan ponselnya mungkin menjadi pilihan bijak.
"Tapi tanggal dua puluh aku akan menikah. Aku harap kamu dapat mengatakan pada keluargamu jika kita tidak berjodoh." Sambung Arnav.
"Apa aku salah dengar?" Prita menatap Arnav tidak percaya.
"Siapa dia? Kamu tau kan berapa lama kita dekat? Bahkan sejak kamu belum seperti sekarang." Balas Prita dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu pasti akan mendapatkan yang lebih baik. Aku minta maaf." Arnav menjadi iba dan menarik tangan Prita ke sisi pinggit agar tidak menjadi pusat perhatian.
"Apa itu Ida?" Tanya Prita lagi dengan nada terisak.
"Bukan, kamu tidak akan pernah menyadari siapa dia." Jawab Arnav masih menggenggam tangan Prita.
"Apa kamu pernah menyukaiku?" Prita bertanya dengan nada putus asa.
__ADS_1
"Aku menganggapmu teman dan adik karena aku tidak punya adik." Terang Arnav.
"Seharusnya aku tidak manja agar kamu melihat aku sebagai wanita. Usiaku sudah 26 tahun. Tidak ada waktu selain menyingkirkan calonmu." Prita mengubah nada bicaranya menjadi mengancam. Bahkan Arnav pun tidak menyangka jika wanita itu bisa mengucapkan kata-kata seperti itu. Akan sangat bahaya jika Prita bekerja sama dengan Riyan yang diam-diam menyukai Namira. Arnav mengetahuinya sejak Riyan menjadi orang dibalik tragedi pintu besi. Ia sengaja membuat fitnah agar Namira tidak betah di dekat Arnav karena akan mengancam posisinya di kantor. Benar saja akhirnya hingga kini Namira menjadi menjaga jarak dengan Arnav selama di kantor. Riyan yakin tidak ada satu pun gadis yang tidak memandang Arnav. Oleh sebab itu ia khawatir jika Namira menyukai Arnav di tengah usaha Riyan mendekatinya.
***
Prita pergi meninggalkan Arnav yang masih berpikir tentang karakter Prita yang berbeda. Ia memutuskan semakin menjaga jarak dengan Namira. Sepulang kerja ia menuju jasa percetakan seorang diri. Ia memutuskan desain itu seorang diri.
***
Tanggal empat April
Setelah menimbang-nimbang semalaman, Namira memutuskan hari ini ia harus benar-benar menyerahkan surat pengunduran diri. Menunggu saat yang tepat dimana semua tim pergi ke lokasi nasabah sedangkan Siska mengerjakan pencairannya di divisi Back Office, Namira memberanikan diri menuju ke meja Arnav. Ia meletakkan surat itu di tengah laptopnya yang tertutup. Namira menyadari juga perubahan sikap Prita yang menjadi sangat dingin dan berdandan dengan tampilan dewasa.
"Terlalu banyak drama di sini." Batin Namira.
Ia kembali ke pekerjaannya dan merasa gugup saat tim telah kembali. Arnav kini telah membuka laptopnya dan melihat sebuah surat. Ia melirik ke arah Namira kemudian memasukkan surat itu ke dalam tasnya. Semua berjalan normal bahkan ketika Namira meminta tanda tangan Arnav untuk pencairan, pria itu tidak berbicara sepatah kata pun.
Jam menunjukkan pukul lima sore. Berhubung ini adalah tanggal muda, semua sudah bersiap meninggalkan meja kerjanya. Arnav juga bersiap untuk menuju lokasi bridal dress yang ia temukan di Gugel. Agendanya hari ini adalah mendapatkan tempat make up dan bridal dress yang sesuai konsep pernikahannya. Namira cukup sedih dengan sikap Arnav. Ia bahkan tidak berpamitan dengannya. Tidak biasanya juga ia pulang sedini ini. Namira berusaha menunggunya berharap saat sepi ia bisa memperjelas kelanjutan hubungan mereka.
***
Namira mematikan ponselnya. Ia benar-benar ingin beristirahat dengan tenang. Orang tuanya dan Firda pergi ke rumah nenek untuk memberi tahu tanggal pernikahan Namira. Alasan gadis itu tidak ikut adalah karena ia merasa sedang tidak enak badan. Ia juga merasa kurang nyaman bertemu dengan saudara-saudaranya dari pihak ayahnya di kota Sumba.
Arnav tiba di rumah dengan kondisi sangat lelah. Ia masih harus memeriksa stok minimarket berdasarkan laporan Iwan. Tangannya menjamah tasnya untuk menemukan laptop namun tertahan pada sebuah amplop. Perlahan ia membuka dan membaca isinya. Betapa terkejutnya Arnav bahwa itu adalah surat pengunduran diri Namira. Tak hanya itu, terselip sebuah amplop kecil yang di dalamnya berisi sebuah pesan yang mengacaukan perasaan pria itu.
__ADS_1
Mungkin kita belum berjodoh. Tolong kirimkan saya nomor rekening dan akan saya kembalikan semua uangnya.
Pria itu mencoba menghubungi Namira namun ponsel wanita itu tidak aktif.