Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Oh My Venus


__ADS_3

Ah badanku rasanya remuk semua!


Namira merasa sudah dua hari ini Arnav seolah mengajaknya kejar setoran. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan memesan makanan. Menuju ke kamar mandi, Namira berendam air hangat.


Tak berapa lama pesanan makanan tiba. Namira bergegas menyelesaikan aktivitas mandinya dan mengenakan pakaian sekenanya. Wajah suaminya tetap tak bergeming di atas tempat tidur.


"Mas Arnav, ayo bangun! Kamu tidak mau telat ke kantor kan?" Namira menggoyangkan pundak Arnav.


"Hm.. Rajin sekali kamu bangun, apa semalam kurang melelahkan? Aku harus menambah rondenya!" Arnav membuka mata sambil membelai pipi Namira.


"Sudah ayo cepat bangun!" Ujar Namira gemas. Akhirnya seperti membangunkan anak kecil, ia berhasil menyeret Arnav ke kamar mandi. Lelaki itu dengan cepat membereskan ritual mandinya dan menuju meja makan.


"Waw, istriku rajin sekali memasak semua ini!" Goda Arnav ketika melihat sajian di atas meja lebih heboh daripada biasanya.


"Oke, mulai besok aku tidak akan pesan antar." Namira menyilangkan kedua tangannya di dada dengan wajah cemberut.


"Jangan marah dong Namira, aku hanya bercanda. Aku suka kamu sedikit lebih boros." Arnav terkekeh sambil duduk di kursi di samping istrinya.


"Mas, pulang dari klinik kita langsung menemui mama dan papa ya?" Tanya Namira sambil memasukkan makanan ke mulutnya.


"Iya. Nanti aku jemput." Jawab Arnav sambil mengamati makanan di atas meja.


"Tanggung jawab ya Namira, ini makanan pasti akan sisa banyak. Kamu sanggup habiskan?" Arnav bertanya keheranan.


"Iya nanti aku habiskan. Mas Arnav bawa sebagian untuk makan siang di kantor." Jawab Namira tenang karena memang ia merasa nafsu makannya meningkat. Tak hanya itu, aktivitas melayani Arnav belakangan ini juga sangat menguras tenaga.


"Mas, bagaimana kalau aku berangkat naik motor? Kita bertemu di rumah dan membersihkan diri dulu sebelum ke hotel mama dan papa." Usul Namira.


"Ya sudah kalau itu maumu. Jika hujan hubungi aku, nanti aku jemput. Tinggalkan motormu di klinik." Timpal Arnav. Namira mengangguk setuju.


Semua berjalan normal di klinik. Jadwal untuk kegiatan seminar besok pun juga sudah dibagikan. Dokter Serkan mengusulkan untuk berkumpul di klinik dan pergi ke stasiun bersama.


***


Namira pamit pulang lebih cepat. Ia mampir ke sebuah toko oleh-oleh khas Pulau Tidore. Ia cukup banyak menghabiskan uangnya di toko itu dengan harapan mertuanya akan menyukai oleh-oleh yang ia bawa. Mulai dari syal, kain, hingga makanan kering diboyong olehnya. Ia juga membelikan keponakannya sebuah daster yang lucu.


"Aku rasa segini sudah cukup." Batin Namira. Namun saat ia melihat lulur rempah serta makanan sehat yang dijual di toko sebelah, ia tertarik untuk menambahkan oleh-olehnya. Alhasil ia pun jadi membeli satu kardus oleh-oleh.


"Aku gugup sekali." Namira mengambil nafas dalam. Ia akhirnya meminta supir ojek membawakan barang-barangnya ke rumah.


Arnav tiba di rumah berbarengan dengan Namira dan supir ojek.


"Maaf mbak, ini mau diletakkan dimana?" Tanya supir ojek tersebut.


"Oh di bagasi mobil suami saya saja pak." Jawab Namira tersenyum. Arnav memandang bingung.


"Itu apa?" Tanyanya terheran.

__ADS_1


"Oleh-oleh untuk mama dan papa mas." Jawab Namira sambil tersenyum.


"Banyak sekali. Apa nanti mereka tidak kelebihan bagasi di pesawat?" Tanya Arnav. Namun ia kemudian meralat perkataannya karena melihat ekspresi wajah Namira yang siap menerkam.


"Oh baiklah, silahkan dimasukkan pak!" Ucap Arnav.


Namira yang kesal langsung masuk ke dalam rumah dan mandi sementara Arnav terpaksa harus membayar supir ojek tersebut.


"Sayang, maaf ya!" Ucap Arnav di balik pintu kamar mandi.


"Balikin saja semua oleh-olehnya ke toko mas!" Teriak Namira.


Arnav menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Entah kenapa istrinya menjadi sensitif seperti ini.


"Pasti mama papa akan menyukainya. Apalagi aku lihat tadi ada dress lucu juga untuk Queen." Celetuk Arnav.


Namira membuka pintu hendak keluar.


"Sudahlah, cepat mandi dan kita bersiap!" Balas Namira dengan ekspresi datarnya.



***


Mereka tiba di hotel Paradise dimana kedua orang tua Arnav mengikuti pelatihan dan menginap. Namira merasa sangat gugup hingga Arnav harus menggenggam tangannya. Lelaki itu menggunakan jaket kulit dan kaos putih walaupun mereka kemari menggunakan mobil. Tak hentinya ia memegang pundak Namira dan berkata, "Tenanglah! Mama orangnya menyenangkan! dan papa terlalu menyenangkan!"


Mereka pun bergegas sambil meminta petugas hotel membawakan oleh-oleh yang mereka bawa.


"Namira bagaimana kabarmu?" Sapa bu Sari sambil menautkan pipinya.


"Baik bu." Jawabnya sambil tersenyum.


"Apa ini dalam kardus?" Tanya Pak Arya yang terheran.


"Ini dari Namira pa, ma." Jawab Arnav sambil melirik istrinya dan tersenyum.


"Ya ampun! Jangan repot-repot nak!" Sambung bu Sari.


"Tidak repot kok bu." Jawab Namira sopan.


Mereka duduk di ruang tamu sambil menyeruput teh hangat yang dibuat oleh Namira dan bu Sari.


"Nav, bagaimana pekerjaanmu?" Bu Sari memulai perbincangan.


"Baik ma. Semoga tidak butuh dua tahun untuk mencapai target yang pak Harri inginkan." Jawabnya.


"Syukurlah. Gerai dan mall juga stabil. Harusnya mama dan papa berikan kepadamu jumlah yang lebih banyak karena jika kamu yang menangani, perkembangannya sangat baik." Sambung bu Santi.

__ADS_1


"Jangan begitu ma. Sari kan sedang belajar juga. Lama-lama dia pasti bisa. Saat ini dia sedang sibuk mengurus Queen." Sanggah pak Arya. Namira hanya diam saja seolah patung yang tidak paham perbincangan mereka.


Bu Santi merasa tidak nyaman dengan sanggahan suaminya. Ia pun mengalihkan pembicaraan.


"Oh iya Namira, ini kali keempat kita bertemu. Apa kesibukanmu nak?" Tanya bu Santi ramah.


"Saya kerja di klinik bu." Sahut Namira sopan.


"Kamu bekerja? Apakah sampai malam?" Tanya bu Santi khawatir.


"Hanya sampai sore kok ma." Sahut Arnav.


"Lalu siapa yang membantu mengurus rumah? Kamu masih jajan terus kalau makan?" Bu Santi melirik Arnav.


"Namira masih sempat memasak kok ma. Sudahlah, tidak usah khawatir. Pekerjaan rumah juga Namira ahlinya." Sahut Arnav sambil menggenggam tangan istrinya.


"Kalau hamil berhenti bekerja ya. Jangan sampai keguguran dua kali seperti Sari. Mama itu memberitahu bukan karena lebih pintar, tapi lebih pengalaman. Mama lihat Sari saja sampai kepikiran. Kasihan. Apalagi ketika katanya dimimpikan anaknya." Ucap bu Santi sambil mengusap air mata yang ada di pelupuk matanya.


"Mama mulai deh!" Keluh pak Arya.


"Ma, Pa, Namira lulus ujian masuk Magister Kesehatan Masyarakat di Universitas Siantar lho!" Ujar Arnav sambil memeluk pundak istrinya. Namira hanya tersipu malu.


"Selamat ya Namira!" Ucap Pak Arya penuh senyuman.


"Universitas Siantar? Bukannya itu di Pulau Delta? Lalu kalian akan berjauhan?" Tanya bu Santi terheran.


"Itu belum saya putuskan bu." Sahut Namira secepat mungkin karena khawatir ibu mertuanya mengomel.


"Mama bukan mau ikut campur tapi mama tidak setuju. Arnav sudah sepuluh tahun bekerja di sana sendiri. Sekarang sudah punya istri kenapa masih harus sendiri? Lagipula wanita-wanita di bank itu cantik-cantik lho Namira. Mama tidak mau rumah tangga kalian yang baru seumur jagung ini kenapa-kenapa." Bu Santi kembali cemas.


"Ma, biarkan mereka yang memutuskan." Ucap Pak Arya sambil membelai rambut istrinya.


"Namira belum tentu jadi kesana kok ma." Namira tersenyum kecut.


"Nah iya, cari saja Universitas di dekat sini. Sepertinya di Pulau Karimun ada kampus bagus." Usul Bu Santi.


Oh my....


Ucap Namira dalam hati.


.


.


.


.

__ADS_1


Like and vote ya.


semoga kalian selalu sehat.


__ADS_2