Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Salah Target 2


__ADS_3

Setelah rumah dipasangkan CCTV, Namira merasa lebih baik. Pantauan kamera tersebut mencakup area di luar pagar. Bu Ijah datang seperti biasa dan memasak untuk makan siang. Namira merasa membutuhkan camilan sehingga tetap memesan layanan antar. Ia tidak mengecek CCTV karena sibuk mengurus Armi. Kurir makanan datang dan menyerahkan pesanan pada bu Ijah. Ia berkata bahwa Namira mendapat minuman gratis dari pesanannya.


Di kantor, sekalipun sibuk, Arnav tetap memantau rumahnya dan aktivitas Namira di rumah. Pria itu menyadari ada yang tidak beres dengan kurir pengantar makanan karena sempat bertemu dengan wanita bertopi di persimpangan dekat rumah. Arnav menghubingi Namira berkali-kali namun tidak diangkat. Arnav pun menghubungi bu Ijah.


"Bu, tolong jangan biarkan Namira meminum sesuatu yang dibawa kurir makanan tadi." Perintah Arnav dengan tegas.


"Kenapa bapak bisa tau?" Bu Ijah menjawab dengan bingung.


"Iya saya tau. Cepat sampaikan pada Namira bu!" Arnav berkata dengan panik.


Bu Ijah pun berlari mencari keberadaan majikannya. Nampak Namira baru saja menghabiskan minuman tersebut.


"Pak, minumannya sudah dihabiskan bu Namira." Bu Ijah berkata ketakutan.


Arnav mematikan sambungan telepon dan menghubungi Serkan. Ia meminta siapa saja yang bisa memeriksa Namira untuk datang ke rumahnya.


"Apa aku perlu membawa ambulans?" Tanya Serkan panik.


"Terserah." Arnav berkata tegas dan segera menuju rumahnya.


Namira merasa perutnya mulas. Rasanya sama seperti menstruasi. Namun saat ini ia sedang nifas sehingga ia pun bingung dengan rasa mulas yang terjadi. Darah nifasnya bertambah banyak.


Suara ambulans memecah keheningan. Namira bingung dengan suara yang terhenti di depan rumahnya. Seorang wanita yang berdiri di persimpangan jalan dan cukup jauh dari rumah Namira sedang tersenyum. Dokter Serkan dan perawat Sylvia datang dan dibukakan pintu oleh bu Ijah yang kebingungan. Namira berdiri sambil menahan perutnya yany mulas.

__ADS_1


"Ambil sampel darahnya." Perintah Serkan. Sylvia mengangguk cepat.


"Apa yang kamu rasakan? Mual, pusing?" Tanya Serkan panik.


"Mulas. Hanya mulas yang teramat sangat." Namira berkata sambil menahan sakit. Peluhnya sudah membasahi dahi sekalipu. rumah tersebut ber AC.


"Aku akan memberikan suntikan antinyeri." Dengan sigap Sylvia menyuntik Namira. Mereka segera pamit karena harus membawa sampel darah Namira untuk diuji.


"Mana Armi?" Tanya Arnav.


"Dia bersama bu Ijah di ruang samping sepertinya." Namira menjawab lemah.


"Namira, apa kamu sudah melahirkan? Perutmu kempis. Maaf aku bertanya." Sylvia berkata dengan takut. Ia khawatir anak Namira kenapa-kenapa.


"Iya sudah, anakku Armi. Carilah ia di ruang samping." Jawab Namira dengan senyumnya. Sylvia pun berlari kecil ke ruangan yang ditunjuk Namira. Setelah mengulas senyum ia dan Serkan kembali ke ambulans. Tepat saat itu juga Arnav tiba.


"Aku cek dulu sampel darahnya." Serkan langsung menyuruh supir untuk pergi.


Wanita yang sedari tadi mengamati dengan posisi agak jauh dari rumah Namira pun tertawa senang.


***


"Namira, kamu tidak apa-apa?" Arnav mengecup puncak kepala Namira.

__ADS_1


"Aku sudah lebih baik. Tadi aku sangat mulas. Apa mas Arnav yang menghubungi dokter Serkan? Terima kasih, tapi sebaiknya tidak perlu heboh dengan ambulans." Gerutu Namira.


Arnav tidak menanggapi sikap Namira. Ia hanya perlu tahu motif kejadian ini dan siapa dalangnya. Arnav bergegas menghubungi toko kue yang tadi dipesan Namira. Ia meminta nama kurir dan perusahaan asal kurir tersebut.


Ia langsung menghubungi jasa kurir makanan dan menanyakan nama pengemudi bayu. Dengan sigap manajer mendengarkan keluhan Arnav dan berusaha mempertemukan mereka besok.


"Namira, istirahatlah. Aku akan menemani Armi." Arnav mengajak istrinya berbaring di kamar. Bu Ijah sudah pamit pulang karena sudah hampir sore. Artinya ini giliran Arnav mengasuh anaknya.


Namira tidak mau hanya berdiam diri. Ia mengerjakan tugas kuliahnya. Lagipula ia sudah diberikan antinyeri oleh Arnav.


"Namira, apa tidak ada petunjuk? Terutama saat seseorang menerormu?" Arnav lagi-lagi berfirasat buruk.


"Hm.. Apa ya? Oh! Mbak Dilla menghubungiku. Tapi tidak kuangkat karena bertepatan dengan si teror yang muncul di depan pintu." Jelas Namira.


Arnav langsung menghubungi Kepala Cabang Siantar menanyakan soal Dilla. Beliau pun memberitahu bahwa wanita itu sedang cuti seminggu.


Seolah menjadi detektif, ia juga menghubungi Serkan menanyakan perihal hasil lab sampel darah Namira. Ternyata terkandung substansi penggugur kandungan. Arnav merasa geram dan berjanji akan menyobloskan siapapun yang melakukan ini ke penjara. Untung saja Namira merahasiakan kehamilannya dan kelahiran putranya. Jika tidak entah apa yang akan terjadi. Membayangkannya saja Arnav sudah ngeri.


.


.


.

__ADS_1


.


tbc


__ADS_2