
Masih lima hari lagi sebelum perayaan kelahiran Armi. Arnav sudah memberitahukan David agar tidak menjadi lelaki penggosip. Adik sepupu Arnav itu pun setuju setelah mendengar beberapa alasan Arnav.
Ketika ia berangkat ke kantor, ia merasa seseorang menguntitnya sejak di rumah. Namira berkali-kali menenangkan suaminya bahwa tidak akan terjadi hal buruk namun Arnav masih merasa firasatnya tak enak. Ia pun memerintahkan Namira untuk tidak keluar rumah sendiri atau meninggalkan Armi di rumah bersama bu Ijah.
Ruang menjemur di rumah Namira berada di ruang belakang yang mirip dengan rumah kaca. Tidak nampak dari luar apapun jenis pakaian milik si penghuni rumah. Begitu pun dengan aktivitas pemilik rumah. Sangat tertutup dari lingkungan luar.
Bu Ijah tiba jam sembilan. Seperti biasa wanita paruh baya tersebut membuka gerbang sendiri dan menguncinya kembali dari dalam. Namira tidak pernah meninggalkan Armi sehingga membiarkan gerbang tidak terkunci saat Arnav berangkat bekerja. Hanya pintu rumahlah yang ia kunci.
Sekalipun Namira menenangkan Arnav, ia pun sebenarnya juga merasakan sesuatu yang aneh dan tidak nyaman. Untuk itu ia ekstra waspada dan berusaha melindungi Armi apapun caranya.
"Bu Namira, di daerah Tidore ini ada sebuah kepercayaan untuk tidak membiarkan bayi tertidur sendiri saat senja atau membawa bayi pergi malam-malam. Maaf jika saya lancang." Bu Ijah mengatakan hal tersebut setelah melihat Armi sedikit rewel hari ini.
"Iya bu Ijah. Terima kasih. Angin malam memang kurang baik. Sebaiknya saya memijat Armi dengan minyak telon selesai mandi." Namira berusaha mengajak bu Ijah berpikir logis.
"Dibalurkan bawang saja bu. Itu efektif menghilangkan makhluk tidak kasat mata." Sambung bu Ijah.
Namira hanya mengangguk dan tersenyum.
***
Bu Ijah selesai memasak makan siang. Masih ada dua jam namun ia bingung harus mengerjakan apalagi.
"Bu, mari makan siang bersama saya. Jika sudah selesai, untuk mengisi waktu bu Ijah bisa membuatkan saya kudapan. Saya sering lapar karena Armi terus saja menyusu." Namira berkata sambil tersenyum. Armi nampak lelah menangis dan kini tertidur di pangkuan Namira. Bayi mungil itu hari ini tidak mau berpisah dengan ibunya.
Sambil memperhatikan bu Ijah membuat kudapan, Namira merasa lelah dan hendak tertidur.
"Bu, masuk saja ke kamar bersama Armi. Saya rasa bu Namira lelah." Bu Ijah memperhatikan majikannya.
__ADS_1
"Mari kita ngobrol saja bu agar saya tidak mengantuk." Ajak Namira karena ia khawatir Armi belum nyenyak jika diletakkan di kasur.
"Tadi ada seorang wanita di samping rumah menatap saya. Cukup cantik bu." Bu Ijah meletakkan adonan ke loyang.
"Bu, jika ada orang bertanya macam-macam seputar saya atau mas Arnav, tolong dijawab tidak tahu. Terutama soal Armi." Tegas Namira. Wanita paruh baya ini tidak paham apa yang terjadi namun ia berusaha patuh. Ia tidak mau pekerjaan yang menyenangkan ini berakhir apalagi majikannya kerap memberi gaji yang besar.
"Iya bu." Bu Ijah dengan patuh mengangguk.
***
Sepulang bu Ijah, Namira kini sendiri. Ia menghubungi Serkan.
"Dok, apa ada orang lain yang tau saya melahirkan?" Tanyanya. Kini ia seakan terserang baby blues syndrome.
"Perawat Sylvia saja belum saya beritahu." Jawab Serkan santai.
Di saat yang bersamaan, Serkan yang hendak ke lobi bertemu dengan wanita yang dulu pernah berpapasan dengannya.
"Maaf dok, apa Namira ada di klinik?" Tanya wanita tersebut. Melihat cara ia bertanya, Serkan yakin bahwa Namira tidak akrab dengan wanita tersebut.
"Saya tidak tau karena beda divisi. Tapi sepertinya dia cuti." Jawab Serkan saat mengingat bahwa dokter Alvin sudah mengetahui alasan Namira cuti. Tadinya Serkan ingin menyuruh wanita tersebut ke ruangan KIA namun ia urungkan. Wanita tersebut kembali ke parkiran dan melajukan mobilnya.
"Halo, Alvin! Apa kamu membocorkan kelahiran anak Namira ke orang lain?" Serkan langsung menghubungi Alvin.
"Aku tidak sempat. Aku hanya memberitahu bu Sylvia saja. Pasien-pasien pun belum ada yang bertanya. Ada apa?" Alvin menyelidik.
"Tolong dirahasiakan dulu. Sepertinya ada yang aneh." Komentar Serkan.
__ADS_1
"Siap. Aku juga tidak suka bergosip. Santai saja." Jawab Alvin cuek.
***
Seseorang memencet bel rumah Namira. Gadis itu mencoba mengingat. Ia tidak merasa memesan paket. Kalaupun iya, pastinya kurir akan menghubinginya terlebih dahulu. Apakah ini hadiah untuk Armi? Siapa yang mengirimnya? Ia berucap dalam hati. Gerbang juga tidak dikunci. Namira bergegas mengunci pintu dan pergi ke ruang belakang bersama Armi. Bayi itu memang sedikit rewel sehingga Namira harus memastikan suara tangisannya tidak terdengar.
"Mas Arnav, sepertinya ada seseorang membuka gerbang dan menuju ke pintu. Bisakah kamu pulang? Tapi jangan terburu-buru. Besok kita harus memasang CCTV. Armi juga rewel hari ini. Cepat pulang ya, dan jangan terburu-buru di jalan!" Perintah Namira. Arnav berusaha mencerna perkataan istrinya dan bergegas menyelesaikan pekerjaannya.
"Pak Eka saya harus pergi. Jika ada yang mencari saya tolong wakilkan." Ucap Arnav pada manajernya.
Arnav kemudian melajukan mobilnya. Butuh tiga puluh menit untuk sampai ke rumah dalam kecepatan normal.
Sementara itu seseorang nampak mengetuk-ngetuk pintu rumah dan menoleh ke kanan kiri mencari celah untuk dapat melihat isi rumah. Ponsel Namira berdering. Tertulis nama Dilla di sana. Gadis itu tidak mengangkat ponselnya dan secepatnya mengecilkan volume suara ponselnya. Sekitar sepuluh menit, orang tersebut keluar gerbang. Namira menghembuskan nafas lega. Ia kembali ke kamar bersama Armi. Bahkan untuk menyiram tanaman di depan rumah pun ia tidak berani. Jarak antara gerbang dengan rumahnya sekitar lima puluh meter. Jarak itu selain berisi berbagai tanaman juga merupakan tempat parkir kendaraan Arnav. Rumah minimalis tersebut tidak tingkat namun memanjang dan tinggi. Tidak ada celah untuk melihat ke sepanjang rumah dari samping karena berisi bangunan penuh. Satu-satunya yang bisa dilakukan untuk melihat isi rumah adalah melalui sepasang jendela di depan.
Sepuluh menit kemudian Arnav tiba. Ia melihat sebuah mobil merah di dekat pagar rumahnya. Ia membuka gerbang, memasukkan mobilnya dan menguncinya kembali. Pagar tersebut tidak tinggi namun memiliki celah untuk melirik ke arah pintu rumah. Namira dengan cepat membukakan pintu.
"Kamu dan Armi tidak apa-apa?" Tanya Arnav panik.
"Kami baik. Ayo secepatnya kita memasang CCTV. Suruh saja teknisi di bank." Pinta Namira. Arnav mengangguk dan mulai menghubungi teknisi di kantornya. Ia menyuruh mereka segera membeli CCTV yang dapat dipantau dari manapun.
Satu jam kemudian beberapa orang muncul dan mulai memasang. Sementara wanita yang mencurigakan itu beralih menuju bank Az. Ia bertemu dengan Cindy. Ia menyesal dulunya tidak banyak berteman selama di sini. Itu karena divisinya berdiri sendiri dan diisi olehnya sendiri.
.
.
.
__ADS_1
.