
Konfrensi pers dilakukan. Ini saatnya Namira dan Arnav menuju kota Tua. Lagi-lagi Namira harus berhadapan dengan keluarga besar Arnav. Namun pria itu terus menguatkan Namira. Di kehamilannya yang menginjak lima bulan, Namira semakin kuat melangkah dan tegar.
"Baiklah para wartawan kota, terima kasih karena sudah bersedia hadir di sini. Akhirnya saya memiliki kesempatan untuk memberikan titik terang terhadap gosip yang menerpa saya pribadi. Saya ingin mengatakan jika itu semua tidak benar. Tujuan saya ke Pulau Samo adalah untuk memutasi salah satu rekan kerja saya." Terang Arnav.
"Tapi dari sumber mengatakan Anda akan menikah dengan wanita yang dimutasi tersebut dan proses mutasi hanya untuk menghindari gosip saja." Celetuk salah satu wartawan.
"Itu tidak benar. Istri saya ada di sebelah saya ini. Seorang wanita yang tidak mungkin saya tinggalkan ataupun duakan." Tegas Arnav. Namira tetap menunduk. Ia tidak hanya tersipu namun juga malu dengan keterangan Arnav.
"Apa yang akan bapak lakukan terhadap penyebar isu?" Seorang wartawan kembali bertanya.
"Akan saya biarkan. Di Pulau Samo ia tidak mungkin dipermalukan karena berita ini hanyalah berita lokal. Selain itu di sana dia juga tidak akan bisa mengganggu kehidupan saya di sini." Terang Arnav sambil menggenggam tangan Namira.
Usai konfrensi pers, semua keluarga mengadakan makan malam dan seperti biasa Namira hanya diam.
"Namira, kamu lebih gemuk ya sekarang!" Celetuk Saudara Arnav bernama Norin.
Namira hanya tersenyum.
"Suami sedang ada skandal masih bisa-bisanya kamu menggemukkan badan." Celeuh Farah, ibu Norin.
"Ma, stress itu juga bisa membuat gemuk!" Norin kembali berkomentar. Bu Sani yang mendengar itu lantas ikut berkomentar.
"Arnav saja jadi makin kurus, tapi kamu malah melebar." Celetuknya.
"Sudah ma! tante! Ini semua salah Arnav karena tidak secepatnya membereskan masalah. Lagipula Arnav menjadi lebih kurus karena banyak pekerjaan." Sela Arnav.
"Iya dia tidak memperhatikanmu dengan baik! Percuma menikah!" Celetuk bu Santi.
"Jadi mama ingin Arnav melajang terus? Sebelum menikah mama memaksa Arnav terus menikah!" Bentaknya.
"Sudah diam! Kalian ini berdebat saja!" Tegas pak Arya.
__ADS_1
"Menikahlah dengan yang bisa memperhatikanmu! Di kantor mu dulu pasti ada kan? Kenapa harus memilih Namira?" Komentar pedas bu Santi.
"Iya ma. Dulu ada namanya mbak Prita. Namira sudah memberitahu mas Arnav tapi dia tidak mendengarkan. Katanya dia akan membuat saya belajar menyukai dia karena sulit baginya untuk menyukai mbak Prita. Saya permisi dulu." Namira berkata dengan santun.
"Namira, mau kemana?" Arnav menggenggam tangan istrinya.
"Aku tidak kemana-mana. Aku akan menghirup udara segar di luar." Jawabnya. Arnav menemaninya dan memberikan jaket.
"Benar kan kataku, sebaiknya dulu mas Arnav bersama mbak Prita. Dia mencintai mas Arnav dengan sepenuh hati. Pasti dia akan totalitas memperhatikan mas Arnav." Namira menghela nafas.
"Tolonglah jangan seperti ini. Kita kemarin sudah membahasnya kan? Kita harus maju. Pikirkan anak kita." Terang Arnav.
Namira tetap menekuk wajahnya. Mereka masuk ke dalam dan berpamitan.
"Tidurlah di rumah." Ajak mbak Sari.
"Maaf mbak, kami bukannya tidak mau. Mbak tau sendiri mama seperti apa. Segitunya dengan Namira!" Keluh Arnav.
"Dulu juga mama begitu dengan masmu!" Jawab mbak Sari.
"Tunggu, apa kamu hamil? Aku merasa perutku menyentuh sesuatu." Sari menatap bingung.
Namira mengangguk.
"Kenapa diam saja saat yang lain tadi mengomentarimu gemuk?" Protes Sari.
"Biar saja mbak. Aku malas berdebat." Komentar Namira.
"Ya ampun! Mereka pasti kualat sudah menyakiti ibu hamil!" Sari nampak emosi.
"Sudahlah mbak. Kami pamit dulu ya!" Arnav memeluk kakaknya dan pergi bersama Namira.
__ADS_1
Sari kembali ke dalam restoran.
"Kalian semua tadi menyakiti Namira ya? Hati-hati kualat! Dia sedang hamil! Seenaknya saja kalian berkata aneh-aneh! Mama juga! Menyebalkan!" Sari mengajak Queen dan suaminya pulang.
Bu Santi mendongak sedangkan pak Arya tidak peduli pada kekagetan istrinya. Begitu pun dengan anggota keluarga lain yang cukup santai mendengar kehamilan Namira. Bagi mereka anak-anak mereka adalah yang terbaik dengan berbagai fasilitas terbaik.
Namira dan Arnav tiba di hotel. Mereka merebahkan tubuh dan menyiapkan koper yang akan dibawa besok pagi.
"Maaf ya Namira. Aku merencanakan jalan-jalan di bulan Desember ini tapi ternyata malah pergi kemari." Arnav membelai rambut Namira.
"Kita memang berencana kemari awalnya untuk resepsi. Sepertinya bagian itu dikabulkan hanya saja bukan dalam rangka resepsi." Jawab Namira.
"Aku sangat berterima kasih padamu. Mulai sekarang asal kita bertiga bahagia, apapun yang terjadi di luar sana jangan dijadikan beban. Kita fokus pada keluarga kecil kita saja." Terang Arnav. Namira hanya diam.
"Januari sudah semester dua. Sebaiknya aku cuti di semester tiga saja ya mas. Atau lebih baik tidak cuti?" Tanya Namira mempertimbangkan kuliahnya.
"Melahirkan tidak cuti? Apa bisa?" Tanya Arnav memastikan.
"Online bisa dijalankan dimana saja. Aku akan berhenti bekerja setelah melahirkan." Terang Namira.
"Jadi kamu ingin kita tetap di Tidore?"
"Iya mas. Sekalipun usahu memajukan cabang sudah selesai, tetaplah di Tidore." Jawab Namira yakin.
Arnav mengangguk. "Apa alasanmu?"
"Aku bertemu banyak orang baru yang memahami dan peduli padaku." Jawab Namira seraya memejamkan matanya karena ia mulai lelah.
.
.
__ADS_1
.
like and comment dong biar author semangat!