Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Train to Tidore


__ADS_3

Namira tertabrak tepat di dada dokter Serkan. Pria itu menatap wajah Namira dan refleks menyentuh belakang kepala gadis itu. Mata mereka saling beradu hingga akhirnya dokter Serkan menoleh ke arah belakang Namira. Ia menyaksikan bagaimana Arnav berkelahi dengan beberapa pria mabuk yang diantaranya menggunakan motor.



"Tunggu di sini, aku akan menolong suamimu." Ucap dokter Serkan seraya memegang kepala Namira.


"Kamu bisa membunuhnya!" Teriak Serkan kepada Arnav.


"Mereka juga mau membunuhku!" Tegas Arnav dengan keringat bercampur darah dari pelipisnya.


Dokter Serkan menendang perut masing-masing dari mereka. Saat motor dari salah satu pria dengan kecepatan tinggi hendak menabraknya, ia menghindar sambil menyempatkan diri menendang ke arah motor tersebut hingga pengemudinya terjatuh. Serkan mengambil ponsel dan menelpon seseorang. Beberapa satpam dan polisi pun tiba.


"Pak Serkan! Maafkan kami! Akan kami urus!" Ucap salah satu satpam. Sementara itu Arnav menuju ke tempat Namira mematung.


"Kamu tidak apa-apa?" Ucap Arnav sambil memegang pipi istrinya. Namira hanya terdiam seolah masih trauma akan kejadian tadi.


"Aku obati. Ayo kembali ke hotel." Serkan menarik tangan Arnav sementara pria itu akhirnya juga menggandeng Namira. Mereka masuk ke kamar dokter Serkan.


"Kalian duduklah!" Perintahnya.


"Namira, minumlah teh herbal ini." Pinta dokter Serkan. Namira masih terdiam namun ia mengambil gelas tersebut dari tangan Serkan.


"Aku sudah menitip pesan pada Namira untuk tidak keluar dari hotel. Kalian belum memahami daerah sini." Ucapnya seraya membersihkan luka pada pelipis Arnav.


"Apa mereka mahasiswamu? Seharusnya kamu usul pada rektor untuk menambah mata kuliah pengabdian masyarakat! Menolong sesama! Bukan hanya fokus pada gadget!" Gerutu Arnav.


"Aku rasa dimana pun sama. Anak jaman sekarang bukankah begitu?" Jawabnya cuek.


"Aku sangat berterima kasih untuk hari ini." Ucap Arnav tulus.


"Tidak masalah. Namira, kamu baik-baik saja?" Serkan memegang pundak Namira.


"Aku ingin istirahat." Jawabnya dengan tatapan kosong.


"Aku obati dulu telapak kakimu. Sandalmu terlepas bukan?" Serkan hendak memegang kaki Namira namun tangannya ditahan oleh Arnav.


"Aku yang akan membersihkannya. Tidak ada darah di kakinya. Hanya kotor. Aku bisa membersihkannya." Ucap Arnav. Ia kemudian menggendong Namira di pundaknya.


"Baiklah, selat malam. Lain kali jangan abaikan nasihat baik." Serkan kembali mengingatkan.


Arnav beranjak tanpa berkomentar.


***

__ADS_1


"Namira, maaf!" Arnav menyatukan keningnya pada gadis itu.


"Mas Arnav baik-baik saja? Apa kita perlu ronsen?" Namira mulai mendapatkan kesadarannya kembali.


"Aku baik-baik saja. Kamu yang paling penting. Mereka tidak menyakitimu?" Arnav masih menatap wajah Namira sambil membelai rambutnya.


"Ketika mereka hendak maju, aku menendang, menggigit, melakukan apapun sebisaku." Namira mulai menangis.


"Aku takut sekali!" Ia menangis dengan keras. Arnav membawanya ke pelukannya.


"Aku siapkan air hangat. Kita mandi kemudian istirahat. Besok kamu harus menghadiri seminar kan? Atau aku perlu meminta ijin pada Serkan?" Tanya Arnav.


"Tidak usah. Besok aku pasti lebih baik." Jawab Namira.


****


"Aku akan sarapan di ruang seminar. Bagaimana dengan mas Arnav?" Tanya Namira saat ia sudah berpakaian rapi dan hendak menuju ruang pertemuan.


"Aku akan memesan makanan. Apa kamu sudah tidak apa-apa?" Tanyanya.


"Aku baik-baik saja." Jawab Namira. Ia merasa sangat lapar sehingga bergegas ke ruang pertemuan.


Tok Tok!


"Aku lebih tua darimu! Dimana Namira?" Tanyanya masih dengan tatapan dingin.


"Masuklah, ia sudah menuju ruang pertemuan untuk sarapan terlebih dahulu." Ajak Arnav.


"Ada apa mengajakku kemari?" Tanyanya cuek.


"Aku ingin minta maaf karena sebelumnya bersikap kurang ramah. Terima kasih untuk tadi malam." Ucap Arnav.


"Jika maksudmu kurang ramah karena khawatir aku mendekati istrimu, sebaiknya tidak perlu minta maaf. Aku memang menyukainya." Ucap Serkan dengan tatapan membunuh.


"Kamu tau dia istriku kan?" Arnav sedikit naik darah.


"Aku paham. Seandainya saja kami bertemu lebih dulu sebelum dia bertemu denganmu. Tapi sudahlah. Aku hanya ingin melindungi dia. Dia nampak selalu membuat khawatir." Ucap Serkan seraya berjalan menuju pintu dan hendak keluar.


"Aku pun dulu juga merasa seperti itu saat pertama mengenalnya." Sambung Arnav.


"Oh iya! Dia mengatakan jika akan kuliah di kota ini. Aku akan membantu pengurusan berkasnya. Satu hal lagi, sebaiknya kamu bisa mengontrol ibumu agar tidak terlalu menekan gadis itu." Nasihat Serkan sebelum pergi.


Sejauh apa keakraban mereka? Kenapa Namira bisa menceritakan soal mama padanya?

__ADS_1


Arnav bergumam dan larut dalam pikirannya sendiri.


****


"Pagi Namira, bagaimana kabarmu hari ini?" Tanya Serkan.


"Saya baik dok. Terima kasih banyak untuk semalam." Jawab Namira sambil tersenyum. Mereka duduk di meja yang sama dan bersiap menyimak materi.


"Jika saya bertemu duluan denganmu sebelum Arnav, apa mungkin kamu menyukai saya?" Serkan menatap mata Namira tajam dan membuat gadis itu terkejut dengan pernyataannya.


"Jika seperti itu, kita tidak akan bertemu. Saya ada di sini karena mas Arnav ditugaskan kemari." Namira menjawab penuh senyuman.


"Jika akhirnya bertemu di suatu tempat selain di sini?" Serkan kembali mengajukan pertanyaannya.


"Kemungkinan saya memang menyukai dokter Serkan tapi hubungan itu tidak akan berlanjut." Namira masih menjawab dengan senyum.


"Kenapa?" Serkan bertanya penuh selidik.


"Dokter Serkan sangat sibuk. Bagaimana kita bisa memiliki waktu saling mengenal lebih lanjut? Kemudian pastinya orang seperti dokter akan memilih wanita yang sepadan. Sebenarnya kita tidak perlu membahas ini. Dulu saya pernah menyukai seorang dokter. Kami praktek bersama justru sering dalam ruangan yang sama. Ternyata saya bertepuk sebelah tangan. Wanita yang dia incar adalah yang lebih dari dia serta berpendidikan tinggi. Tentu dia tidak akan malu memamerkannya terlebih ke hadapan keluarga besarnya." Kenang Namira.


"Hahaha! Kekanakan sekali!" Sambung Serkan.


"Dokter belum ada di posisi itu. Jika sudah dan melihat kekasih dokter tidak diterima di keluarga besar, bersiaplah." Namira kembali tersenyum.


Mereka kemudian fokus pada materi seminar sedangkan Arnav memilih berenang di kolam renang hotel dan menikmati fasilitas yang disediakan.


***


Namira makan dengan lahap saat coffee break.


"Aku rasa aku hamil." Ucapnya dalam hati. Namun ia tidak mau memberitahu siapapun soal tersebut. Ia berusaha tenang apalagi tidak ada gejala mual muntah.


Materi pun dilanjutkan. Setelah makan siang mereka kembali ke kamar. Seminar dilanjutkan kembali nanti malam.


"Namira, kamu sudah kembali. Bagaimana tadi?" Arnav menutup laptopnya dan menyambut istrinya.


"Semua baik-baik saja." Ia merebahkan diri di kasur.


"Apa saja yang mas Arnav lakukan daritadi?" Tanyanya.


"Aku berenang, berjalan-jalan, menikmati kopi, dan mengurus laporan mall dan gerai." Jawabnya sambil memainkan rambut Namira. Tidak lama kemudian gadis itu tertidur. Arnav pun ikut berbaring di sebelahnya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2