Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Kota Sura


__ADS_3

"Pagi Namira! Kalau nanti sepulang kerja saya mampir bagaimana?" Sapa Arnav di hari Senin nan ceria ini.


Namira menoleh ke kiri dan ke kanan.


"Mas, jangan sampai ada yang tau ya." pintanya.


"Kenapa? Kamu malu nikah sama saya?"


"Saya tidak mau cari masalah. Pokoknya tidak boleh ada yang tau."


"Ah, atau kamu mau menjadi lebih dekat dengan Rhino?"


"Mas, tolong deh. Pokoknya begitu. Oke?" Namira berjalan mendahului Arnav.


"Tapi kan besok kamu harus berhenti kerja. Suami istri tidak boleh bekerja di tempat yang sama." Arnav menyusul langkah Namira.


"Bilang saja saya mau kuliah. Beres kan? Pokoknya saya tidak mau cari masalah di sini." Ujarnya yang langsung berlari kecil meninggalkan Arnav. Lelaki itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Arnav, ke ruangan saya sebentar." Ucap pak Bambang selaku kepala kantor pusat. Tak beberapa lama setelah itu Arnav kembali ke divisinya.


"Teman-teman, saya harus ke kota Sura selama tiga hari. Mohon dikondisikan divisi ini sampai saya kembali. Tama, tolong handle segalanya." Tama pun mengangguk mantap. Ini adalah kesempatan bersantai bagi Namira. Ia dan Raja menonton video musik Korea selama jam bekerja. Pencairan sedikit terhambat karena tanda tangan Arnav tertunda. Momen-momen ini diabadikan oleh Tama dan dilaporkan pada Arnav.


"Sudah dua hari dan dia tidak menanyakan kabar sama sekali." Gumam Arnav. Di kota Sura, beberapa gadis di divisi Mikro Sura mencari perhatian Arnav. Memang ketampanannya yang khas Timur Tengah itu tak dapat dielakkan.


Bep, pulang kapan? Aku titip oleh-oleh lumpia dong.


Pesan dari Prita.


Arnav tidak menanggapinya dan justru sibuk melihat status-status Namira. Wanita itu pergi karaoke bersama Riyan, Adit, dan Ria. Ia juga menengok istri Rido yang baru melahirkan.


"Mas, sudah disiapkan semua? Kita ke bandara setengah jam lagi." Tiba-tiba Ida membuyarkan aktivitas Arnav. Ida yang tingginya setengah kepala Arnav nampak cocok berdampingan dengannya. Berbeda dengan Namira yang hanya sepundak Arnav namun sukses membuat pria itu selalu khawatir.


Dua jam kemudian Arnav tiba dan langsung menuju kantor pusat. Ia tidak peduli dengan lelahnya.


"Hore! Mas Arnav datang!" Sorak Tama. Arnav tersenyum dan membagikan oleh-oleh.


"Ini untukmu." Pria itu memberikan tote bag untuk Namira. Sementara Siska diberikan satu paket kripik talas khas kota Sura.


"Namira, nanti saya mau bertamu ke rumahmu sekalian membawa oleh-oleh." Ucap Arnav.


Namira justru kaget hingga tersedak.

__ADS_1


"Uhuk uhuk! Kenapa mendadak sekali?" Protesnya.


"Dua hari lagi orang tua saya kesini." Balas Arnav.


Namira sejenak teringat perihal acara lamaran tersebut. Ia menyetujui Arnav yang hendak berkunjung.


"Tapi sebelumnya antarkan saya pulang dulu. Tadi saya kesini naik taksi. Saya akan numpang di motormu. Urusan helm saya akan pinjam punya pak Riko." Ujarnya santai.


"Mas, saya bawa motor dulu ke cafe. Nah, mas nyusul saja ya! Saya khawatir ada yang melihat kita boncengan." Jelas Namira.


Beberapa menit setelah menunggu, Arnav tiba. Ia duduk di depan dan membonceng Namira. Wanita itu mulai canggung dan terpaksa meletakkan kedua tangannya ke belakang memegang pinggiran motor. Arnav melajukan motor dengan kecepatan sedang. Setibanya di rumah Arnav, ia menyuruh Namira masuk tapi gadis itu menolaknya.


"Saya tidak tertarik dengan apa yang ada di dalam mas. Saya tunggu di sini saja." Tegasnya.


"Saya kan harus mandi dulu baru ke rumahmu. Apa kamu akan terus menunggu di luar?" tanya Arnav.


Namira memilih pulang dan memberi alamatnya pada Arnav. Setibanya di rumah, ia langsung mandi dan berpakaian serapi mungkin.


"Ma, Pa, teman Namira mau kemari. Eh salah, bos nya Namira." Ralatnya.


Papa dan mamanya saling pandang.


Namira hanya mendengus kesal.


Bel rumah berbunyi. Namira segera membukakan pintu. Nampak Arnav mengenakan kaos putih dan celana jins panjang membawa dua kerdus oleh-oleh kota Sura. Mulai dari pakaian hingga camilan.


"Duh mas, repot-repot segala." Celetuk Namira.


"Silahkan masuk." Ucap mama Namira ramah. Papanya pun mempersilahkan Arnav masuk dan duduk.


"Pak, Bu, ini ada sedikit oleh-oleh." Ujar Arnav.


"Kota Sura, mas dari Kota Sura?" tanya Papa Namira sembari menunggu anak dan istrinya selesai membuat minuman.


"Saya baru pulang tugas dari sana Pak." Jawab Arnav sambil tersenyum. Setelah minuman tersaji dan Namira serta mamanya duduk, barulah Arnav memulai pembicaraan.


"Pak, Bu, perkenalkan nama saya Arnav. Saya adalah teman kerja Namira di kantor." Jelasnya namun buru-buru diralat oleh Namira.


"Bukan teman, tapi atasan." Sanggahnya jutek yang langsung disusul dengan cubitan mamanya.


"Ya memang di kantor status saya atasan tapi di luar kami adalah teman. Maksud saya kesini ingin mengubah status pertemanan kami menjadi calon pengantin. Jika Bapak dan Ibu tidak keberatan, keluarga saya akan melamar besok lusa. Mereka tinggal di kota Tua." Terang Arnav dengan nada sesopan mungkin. Nampak ia sedikit gugup.

__ADS_1


Kedua orang tua Namira memandang putri mereka.


"Setelah menikah mau tinggal dimana?" tanya papanya.


"Tetap di pulau Delta. Rumah saya di jalan Sumbing Pak."


"Rumah atau ngontrak?" Papa Namira kembali mengajukan pertanyaan.


"Syukurnya sudah rumah milik pribadi Pak." Jawab Arnav lembut.


"Papa tidak keberatan. Mama bagaimana?" tanya papa Namira.


"Mama tergantung Namira. Kalau bisa jangan buru-buru. Mama belum siap kehilangan Namira." Ujar mamanya.


"Bu, tenang saja. Saya janji setiap akhir pekan jika tidak ada kesibukan mendesak kami akan tidur di sini." Jelas Arnav.


"Namira bagaimana?" tanya mamanya lagi.


Gadis itu terpana dengan semua penjelasan Arnav. Ia tidak menyangka pria itu sudah menyusun semua ini begitu rapi.


"Namira setuju-setuju saja asal Papa Mama setuju." Jawabnya. Arnav pun menatapnya dengan lembut dan tersenyum.


Pria itu pulang dan melihat sekeliling rumahnya. Ia mulai berpikir menambah beberapa perabotan dapur dan alat-alat kebersihan. Atau lebih baik pergi mencarinya berdua dengan Namira? Iya benar, sebaiknya begitu agar Namira juga merasa memiliki rumah ini. Ia mungkin sudah hanyut dengan karakter Namira yang selalu membuatnya ingin melindungi. Gadis panikan itu benar-benar selalu membuatnya khawatir.


Di sisi lain, mama dan papa Namira merasa tenang karena anaknya akhirnya akan menikah.


"Biaya pernikahannya bagaimana ya?" Gumam mama.


"Besok lusa saja dirembuk ma." Ucap Namira menenangkan ibunya.


***


Suasana kantor hari ini memberi ketegangan bagi Arnav. Besok orang tuanya akan melamar. Keesokan harinya pula kantor akan mengadakan field trip ke pulau Samo yang terkenal dengan pantai dan wisata baharinya. Melihat Namira berjalan di depannya, ia hendak menyapa.


"Bep, udah sarapan belum?" tanya Prita tiba-tiba muncul di sampingnya.


"Sudah Prit. Oiya aku mau memberitaumu kalau mungkin sebulan lagi aku menikah." Arnav sedikit meninggikan suaranya agar Namira yang berjalan di depannya mendengarnya.


"Hah? Sama siapa? Ini kejutan mau tiba-tiba melamar aku ya?" tanya Prita sambil tersenyum. Namira tidak peduli dan malah bergegas pergi.


*** like and comment please 😋***

__ADS_1


__ADS_2