
Tanggal 12 April
"Aku ke kantor dulu ya! Firda, jaga kakakmu baik-baik!" Arnav pamit sedangkan Firda juga akan menuju sekolah.
"Mas Arnav gimana sih? Aku mau sekolah malah disuruh jagain kamu!" Ketus Firda.
"Yasudah sana berangkat! Aku mau cari-cari kerjaan onlen." Timpal Namira. Ia mulai sibuk memainkan jemarinya di atas laptop dan mencoba melamar ke beberapa perusahaan penyedia jasa artikel ilmiah. Tidak banyak aktifitas yang ia lakukan kemudian.
Sementara di kantor, Arnav menarik Riyan ke gudang.
"Apa maksudmu mengganggu Namira?" Tanyanya sambil mencengkram kerah baju Riyan.
"Sabar dong! Bicarakan baik-baik! Kamu kekanakan sekali." Ucap Riyan sambil menarik diri dari cengkraman Arnav.
"Namira susah dihubungi, jadi aku hanya mampir." Ucapnya sambil tersenyum.
"Susah dihubungi? Dia bahkan tidak pernah tau kamu menghubungi dia. Jangan banyak alasan! Apa maumu?" Tanya Arnav dengan kilatan matanya yang tajam.
"Aku mau mendekati dia. Kenapa? Dia terlihat menarik dan wajahnya yang ketakutan itu membuatku puas." Tantang Riyan.
Arnav meninju pipi Riyan.
"Aku memiliki bukti yang bisa membuatmu ke penjara!" Seru Arnav. Sontak hal itu membuat Riyan kaget.
Suara keributan tersebut memancing satpam untuk mendekati gudang. Saking terkejutnya, mereka melaporkan hal tersebut kepada pak Bambang. Mereka pun dipanggil ke ruangan beliau.
"Kalian ada masalah apa?" Tanya Pak Bambang pada Arnav dan Riyan. Arnav pun menceritakan kronologinya.
"Hm.. dilihat dari tingkat kekerasannya, daya rasa kamu memukul Riyan dan artinya kamu juga salah Arnav. Tapi saya mohon untuk tidak membawa ke jalur hukum karena pers akan membesar-besarkan. Tentu imbasnya adalah nama Bank Az. Riyan, mulai besok pindahlah ke cabang Siantar. Itu akan memakan waktu satu jam dari sini jadi kamu tetap bisa tinggal bersama orang tuamu." Terang pak Bambang.
Riyan terkejut dengan keputusan itu.
"Tapi Prita seharusnya juga terlibat pak!" Tiba-tiba Riyan kehilangan akal sehatnya karena posisinya terancam. Di mutasi artinya ia harus mengulang membangun karir di cabang tersebut dan menjadi anak baru merupakan hal buruk di sejarah perusahaan.
"Kalau nanti sudah ada buktinya, saya juga akan melakukan mutasi pada Prita. Sekarang keluarlah! Arnav, kamu tetap di sini!" Perintah pak Bambang.
"Nav, selama saya mengenal kamu, kamu adalah orang yang tenang. Bagaimana bisa kamu memukul dia? Padahal jelas-jelas ini bukan soal kamu, tapi Namira." Tanya Pak Bambang heran.
"Saya akan menikah dengan Namira pak. Tanggal 20 besok. Maaf jika bapak akhirnya mengetahui dengan cara seperti ini." Ucap Arnav sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa tiba-tiba Namira? Saya pikir kamu akan bersama Prita." Pak Bambang kembali bertanya karena rasa ingin tahu nya yang besar.
"Semua tidak seperti yang terlihat. Saya menyukai Namira." Jawab Arnav.
__ADS_1
"Selamat untukmu Nav! Tapi kasus hari ini ke depannya akan berdampak pada karirmu. Tapi jangan pernah berpikir untuk keluar dari bank Az. Ingatlah apa yang dilakukan pak Harri untukmu dan keluargamu dulu." Jelas Pak Bambang. Arnav mengangguk.
***
"Gara-gara kamu aku di mutasi ke cabang Siantar!" Keluh Riyan.
"Aku suruh kamu main bersih. Kenapa malah main kotor dan ketahuan?" Prita tidak terima disalahkan.
"Arnav sudah tau kamu terlibat. Selamat bersenang-senang!" Ejek Riyan.
Hal ini membuat Prita semakin jengkel.
***
"Nav! Undangannya sudah kuberikan teman-teman. Mereka terkejut waktu tau kamu akan menikah." Seru Dilla saat jam makan siang.
"Pantas saja Anton langsung menghubungiku. Aku harap teman-teman akrabku bisa datang." Gumam Arnav.
"Tentu! Aku pastikan mereka datang! Ngomong-ngomong, semua penasaran dengan keputusanmu menikah apalagi kamu terlihat tidak pernah pacaran." Dilla memancing Arnav.
"Haha! Kapan-kapan aku ceritakan! Sudah ya!" Arnav beranjak dari Pantry. Ia berpapasan dengan Prita.
"Mas Arnav! Apapun yang dikatakan Riyan tentangku itu bohong!" Ujar Prita.
Arnav menaikkan alisnya pertanda heran dengan ucapan Prita. "Apa aku bertanya sesuatu padamu? Apa aku mencurigai kamu?"
"Akhirnya aku tau sifat aslimu. Tapi tenang saja Prita, asal kamu tidak menggangguku dan Namira, semua akan baik-baik saja. Aku hanya ambisimu, bukan benar-benar orang yang kamu sukai." Tegas Arnav.
Prita menatap punggung Arnav sendu.
"Ulala! Kenapa kamu? Sedih? Makanya pintar sedikit dong jadi orang!" Timpal Dilla sambil lalu.
***
Namira menunggu Arnav untuk melakukan pemeriksaan. Mereka dinyatakan bebas penyakit menular dan tidak ada tanda-tanda penyakit serius. Namira juga sudah diberikan vaksin Tetanus 2.
"Bagaimana? Sudah lega sekarang?" Arnav memulai perbincangan di mobil.
"Iya." Jawab Namira singkat.
"Apa aku boleh bertanya?" Pinta Arnav.
"Tidak boleh." Jawab Namira tegas yang sontak membuat Arnav tertawa.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Riyan?" Tanya Namira pada Arnav.
"Kamu mengkhawatirkannya?" Arnav memancing pertanyaan.
"Tentu aku khawatir. Apa salahnya menyukai orang? Setidaknya kami bisa berteman walaupun rasa suka Riyan bertepuk sebelah tangan." Balas Namira.
"Semua tidak semudah itu. Jika kamu di posisi dia, apa masih bisa berteman?" Tanya Arnav.
Namira terdiam. Selama ini ia tidak pernah bisa berteman dengan orang yang menolaknya karena terlalu menyakitkan.
"Lagipula Riyan hanya orang iseng. Dia tidak serius menyukai kamu. Mungkin dia ada dendam juga denganku. Entahlah." Timpal Arnav.
"Menyedihkan! Selalu seperti itu! Tidak pernah ada yang benar-benar menyukaiku." Ucapnya sinis.
Arnav menggenggam tangan Namira.
"Orang dewasa tidak akan bermain-main karena masa bermain sudah habis. Jadi jika mereka mempermainkanmu, artinya mereka masih anak-anak." Hibur Arnav.
"Orang dewasa ya? Rido lebih dewasa dari aku. Tapi aku tidak bisa menyukai dia." Namira kembali bergumam dan membiarkan tangan Arnav menggenggamnya.
Jawaban Namira membuat Arnav terkejut.
"Kenapa tidak bisa?" Arnav mencoba mencari tahu.
"Dia tidak memiliki pemikiran yang dewasa. Arah hidupnya tidak jelas. Dulu waktu kecil aku menyukai dia. Entah saat dewasa aku tidak bisa lagi menyukai dia. Itu terlalu rumit untuk aku jelaskan. Bahkan dia pernah membawa perempuan ke kos nya." Terang Namira.
Arnav merasa lega karena gadis itu mau bercerita panjang lebar dan tidak seperti biasanya.
"Tapi waktu itu dia kan tidak pacaran denganmu. Belum tentu juga mereka melakukan hal buruk di dalam rumah." Sambung Arnav.
"Bagiku saat orang menyatakan menyukaiku, dia harus terus berjuang dan tidak mencoba berpaling. Kemudian apapun urusan mereka di dalam kos, aku percaya apa yang aku pikirkan." Jawab Namira tegas.
"Lantas apa yang kamu pikirkan soal aku?" Arnav memberi senyum manisnya pada Namira.
"Mas Arnav baik. Namun kurang tegas terhadap para wanita yang menyukai mas Arnav. Mas juga terlalu takut jika image baik yang sudah dibangun hancur sehingga selalu bermain aman." Timpal Namira.
"Maksudmu?" Arnav nampak tidak terima.
"Mas tidak pernah membela saya di hadapan umum. Seolah saya memalukan." Namira menatap Arnav tajam.
Pria itu juga menatap Namira tak kalah tajam karena kecewa dengan pemikiran Namira tentangnya.
.
__ADS_1
.
.