
Namira yang sudah cuti akhirnya menghabiskan waktu untuk belajar, mengerjakan tugas, dan mengurus Armi. Selain itu ia juga merencanakan perayaan kelahiran Armi dengan lebih detail. Arnav rasanya tidak rela pergi ke kantor. Ia juga sudah menyuruh Vita membawakan berkas ke rumahnya namun Namira bersikeras menyuruh Arnav ke kantor.
"Aku masih ingin bersama Armi." Ucapnya. Sebenarnya ia tidak yakin Namira akan memperhatikan Armi mengingat istrinya itu lebih sering asik sendiri.
"Nanti ada bu Ijah juga. Aku akan menelponmu agar bisa melihat Armi." Ucap Namira menenangkan. Ia dengan sigap membereskan tas kerja suaminya.
"Pesan saja makan siangnya ya mas." Namira mengingatkan.
"Sayang, ingat, aku juga butuh kamu ya. Tidak hanya kesibukanmu dan Armi yang membutuhkanmu." Sahut Arnav prlan namun tegas. Namira hanya tersenyum.
Ponselnya berdering, ternyata David menghubunginya. Arnav melihatnya tidak suka.
"Halo David!" Sapa Namira.
"Hai kakak ipar! Bagaimana kabarmu? Sudah melahirkan? Aku akan wisuda bulan depan."
"Wah syukurlah! Selamat ya! Aku sudah melahirkan. Datanglah minggu depan kemari. Kita bisa pesta ganda yang intinya adalah bersyukur." Ide Namira antusias.
Arnav menghela nafas.
"Dari kota Tua kemari cukup mahal kalau untuk berpesta saja." Protes Arnav.
"Tenang. Aku akan mencari sponsor. Sampai jumpa minggu depan!" David berkata riang.
Arnav hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Sudahlah, semakin ramai semakin asik." Ucap Namira sambil mendorong Arnav ke pintu.
"Kalau begitu kita kumpulkan keluarga kita juga." Usul Arnav. Namira nampak berpikir dan terdiam lalu kemudian hanya pasrah mengangguk.
Bu Ijah datang dan mulai membereskan rumah. Namira keluar kamar sejenak hendak memesan makan siang.
"Bu Namira, selamat siang." Sapa bu Ijah.
"Siang bu. Sudah makan belum? Saya hendak memesan makanan."
"Sudah bu. Saya akan mulai mencuci baju sambil bersih-bersih ya bu?" Ucap Bu Ijah lalu beralih ke ruang cuci.
Di jemuran ada baju bayi. Ternyata anak bu Namira sudah lahir. Gumam bu Ijah. Ia ingim bertanya namun tidak nyaman. Terlebih ia dan Namira belumlah akrab. Majikannya itu sangat irit bicara.
"Bu, kalau sudah selesai tolong memasak ya? Saya rasa nanti malam saya akan makan di rumah saja." Perintah Namira.
__ADS_1
"Saya takut kurang sesuai selera ibu. Bu Namira ingin masak apa?" Tanya bu Ijah khawatir.
"Tolong buatkan rawon. Resepnya akan saya carikan di utub dan bu Ijah hanya perlu meniru. Atau jika ibu sudah bisa silahkan langsung memasaknya saja bu." Usul Namira sambil tersenyum.
"Apa bahannya sudah ada bu?"
"Nanti dicek saja di kulkas. Jika belum ada bu Ijah bisa membelinya. Akan saya pesankan ojek." Pesan Namira.
Bu Ijah mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.
Sudah jam empat sore. Perjanjiannya adalah bu Ijah bekerja setengah hari saja. Jika datang siang maka ia akan kembali sore hari.
"Bu Ijah boleh memasak sekarang dan pulang setelah selesai." Ucap Namira keluar dari kamarnya bersama Armi.
"Baik bu. Jadi kemarin lusa ibu melahirkan? Pria atau wanita bu?" Tanya bu Ijah hati-hati.
"Pria bu. Namanya Armi. Oiya, minggu depan kami akan mengadakan pesta kecil-kecilan. Saya minta tolong bu Ijah untuk lembur." Pesan Namira.
"Baik bu." Kemudian bu Ijah ke dapur untuk memasak.
Namira memandikan Armi lalu bersiap kuliah. Ia menuju ruang tengah dan mulai mencium aroma rawon.
"Bu Ijah, bawalah dua porsi untuk keluarga di rumah." Perintah Namira.
"Baiklah kalau begitu bawalah camilan di kulkas." Ia beranjak ke kulkas dan membungkus beberapa camilan lalu menyerahkannya pada bu Ijah.
"Lain kali tidak perlu repot bu. Terima kasih." Ucap bu Ijah dan ia pun pamit.
Sudah jam lima. Namira bersiap kuliah sementara Arnav belum tiba di rumah. Namira menghubungi suaminya.
"Halo, sayang maaf, aku sedang ada tamu. Kepala cabang dari negara Sin. Sebelum makan malam aku akan pulang. Satu jam lagi." Ucap Arnav. Ia tahu jika Namira harus kuliah namun pembicaraannya dengan pak Edo belum selesai.
Belum selesai Namira bicara, Arnav telah mematikan panggilan.
Armi mulai menangis dan Namira pun menyusuinya dengan harapan bayi tersebut berhenti menangis. Terpaksa ia menutup kamera laptopnya dan mengucapkan maaf pada dosennya.
Armi pun terdiam setelah kenyang. Namira melanjutkan kuliahnya. Arnav tiba jam enam sore.
"Maaf sayang." Ia mencium pipi Namira membuat gadis itu membelalakkan mata dan memberi kode jika ia sedang kuliah.
"Ups, aku mandi dulu." Arnav memberi kode dengan tangannya.
__ADS_1
Jam tujuh Namira selesai kuliah. Memang jadwalnya setiap hari berbeda-beda namun pasti dimulai sore hari.
"Ayo makan, ada rawon." Ajak Namira.
"Kamu sempat memasak?" Tanya Arnav heran.
"Tidak mas. Bu Ijah yang membuat. Besok aku akan memintanya memasak lagi. Oiya, bisakah kita ke swalayan membeli bahan makanan?" Tanya Namira di meja makan.
"Armi akan pergi ke swalayan?" Arnav masih tidak habis pikir.
"Aku pergi sendiri. Aku bosan di rumah terus." Keluh Namira. Arnav pun mengiyakan asal istrinya hati-hati.
"Kamu bisa mengajak bu Sylvia atau Vita." Saran Arnav.
"Tidak usah. Aku sendiri saja." Ucap Namira.
Entah mengapa firasat Arnav tidak enak.
"Begini saja, aku akan mengantar dan menunggu Armi di mobil. Kamu bisa berbelanja sendiri." Saran Arnav. Namira mengangguk setuju karena ia belum merasa nyaman menyetir sendiri.
"Kita punya waktu dua jam sebelum swalayan tutup." Namira mempercepat langkahnya setelah menutup pintu mobil. Arnav pun terus mengecek kiri dan kanan memastikan firasatnya salah.
***
Pulau Samo
"Ada apa pak?" Ucap Dilla kepada seorang jurnalis.
"Berita yang anda berikan bohong. Nyatanya Anda bukan calon istri kedua pak Arnav. Perusahaan meminta ganti rugi." Keluhnya.
"Anda seharusnya punya backing yang kuat. Itu hanya alasan mereka saja." Dilla masih bersikeras.
"Istrinya itu hamil. Saya tau dari keluarga besarnya."
"Namira hamil? Ini akan tambah sulit. Aku akan ke Tidore dan memastikan dia keguguran dengan cara bodoh sehingga Arnav akan membenci Namira." Gumam Dilla. Ia segera memesan tiket ke Tidore dengan tabungannya. Ia beralasan cuti tahunan dan berjanji kembali seminggu lagi.
***
"Namira, soal perayaan itu aku rasa sebaiknya keluargamu saja yang diundang. Aku juga akan membayari David. Jangan sampai dia mengajak keluarga besarku kemari. Firasatku tidak enak. Aku tidak mau kamu dan Armi kenapa-napa." Arnav melajukan kemudinya.
Namira merasa sedikit aneh dengan tingkah Arnav namun ia hanya bisa menurut.
__ADS_1
.
.