Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
A Moment To Remember


__ADS_3

Ini akan menjadi hari melelahkan


Begitulah isi pikiran Namira. Mereka kembali saat malam kemudian tertidur dengan pikiran masing-masing. Di pagi yang cerah, Namira berpesan pada calon anaknya agar tidak rewel. Ia bersiap ke rumah bu Santi bersama Arnav.


Ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari Serkan.


"Halo, dokter Serkan!" Namira nampak sedikit bersemangat.


"Aku akan berangkat bersama perawat Sylvia. Apa teman kantor Arnav ada yang ikut? Kami bisa menjemputnya." Tawar Serkan.


"Oh, ada Vita dok! Tapi sepertinya dia bisa berangkat sendiri." Jawab Namira. Serkan mengiyakan dan mengakhiri panggilan.


Setidaknya aku memiliki teman. Aku tidak sendiri.


Gumam Namira dalam hati.


Ia dan Arnav menuju rumah bu Santi. Papa, mama, Firda, serta dua orang sepupunya telah tiba dan sedang dirias.


"Namira!" Panggil Firda.


"Hei! Terima kasih sudah datang!" Celetuk Namira.


Firda melihat ekspresi kakaknya yang tidak biasa. Ia menemui Arnav.


"Kenapa dia?" Tanya Firda.


Arnav mengangkat bahu.


Bu Megumi menyapa Namira dan Arnav begitupun dengan Pak Edi. Sepanjang perbincangan Namira kembali diam. Ia merasa risih dengan sekitarnya yakni keluarga besar Arnav yang bahkan acuh padanya.


"Nanaaaaav!" Sapa seorang wanita berpenampilan timur tengah. Ia mirip dengan Arnav dan bergelayut manja di lengannya.


"Oh, halo Sally! Ini Namira, istriku!" Arnav memperkenalkannya.


"Hai! Aku Sally, sepupu Nanav." Gadis itu menyerahkan tangannya. Namira menyambutnya.


"Namira." Jawabnya singkat dan tersenyum. Semua penampilan keluarga besar Arnav bagaikan artis papan atas.


"Besok kita harus ke Klinik dokter D untuk perawatan. Nanti malam kita spa karena pasti acara hari ini melelahkan." Ucap seorang bibi Arnav pada Sally.


"Siap mami." Jawab Sally. Ia melangkahkan kakinya yang telah memakai sepatu hak tinggi merk ternama. Bahkan tasnya saja mungkin di kisaran puluhan juta.


"Namira, ayo segera ke kamar untuk dirias." Ucap Bu Santi.


Ia hanya menurut selayaknya boneka.


"Nanav selera oriental. Tapi dia kurang semampai." Bisik seorang wanita yang bahkan Namira pun tidak tau asal usulnya.


"Santi memang senang yang sederhana seperti Novi dulu. Tapi Novi lebih modis dari yang ini." Jawab seseorang di sebelah wanita pertama.


"Ya kalau jurusan ilmu sosial memang beda dengan ilmu pasti." Sahut wanita pertama.

__ADS_1


Namira menahan perasaannya.


***


Mereka tiba di lokasi acara. Arnav dan Namira mendengarkan arahan pembawa acara. Betapa anggunnya Namira dan saat Arnav menghampiri, ia mengajak istrinya duduk agar tidak lelah. Rangkaian acara dilanjutkan mulai dari memotong kue, melemparkan bunga, hingga mendengarkan para keluarga bernyanyi. Pandangannya nampak senang saat dokter Serkan dan Perawat Sylvia datang. Mereka memberi selamat dan berbincang sebentar.


"Cantik sekali Namira!" Serkan tersenyum.


"Ehem!" Arnav mengingatkan.


Keduanya tersenyum.


"Keduanya serasi bagai pasangan drama Korea!" Celetuk seorang remaja.


"Bu Santi, Selamat ya!" Salah seorang ibu-ibu bersalaman ke pelaminan bersama anak remajanya.


"Menantumu cantik seperti artis Korea. Tapi lebih cocok dengan pria yang tadi dibanding Arnav." Ia tertawa-tawa.


"Aku seperti menyaksikan drama Korea di depanku." Sambungnya.


Bu Santi hanya menghela nafas.


"Kak Arnav cocoknya sama kakakku, mbak Elsa. Kan sama-sama mancung." Celetuk wanita remaja tersebut.


"Jika seperti itu terus, penghuni dunia tidak bervariasi. Aku sedang menciptakan generasi baru yang unggul." Arnav tersenyum dan menimbrung.


Gadis remaja itu memonyongkan wajahnya. Sementara di kejauhan nampak Vita yang mengobrol dengan perawat Sylvia.


"Saya di sini sejak kemarin. Permisi pak, saya mau ambil makanan." Ia beranjak pergi namun kakinya tersandung karpet. Serkan sontak menahannya.


"Terima kasih." Jawab Vita seraya berusaha melepaskan diri. Serkan menatapnya cemas.


"Seleramu berarti yang muda pak Serkan. Karena kamu senang melindungi dan mengayomi." Celetuk perawat Sylvia.


Serkan hanya tertawa. Ia ingat jika dulu hubungannya dengan Arini tidak berjalan mulus karena tidak ada yang saling tergantung. Untungnya mereka masih bisa berteman dan bahkan bekerja dalam satu klinik.


***


Acara selesai. Arnav dan Namira kembali ke rumah bu Santi lengkap dengan keluarga Namira. Ia bermaksud mengantar orang tuanya ke bandara malam ini.


"Namira, ambillah tas ini. Mama tidak oernah memakainya." Bu Santi menyerahkan tas pada Namira yang harganya hampir seratus juta.


"Tidak usah Bu." Tolak Namira halus.


"Tidak apa-apa. Jangan sampai kamu diejek terus dengan yang lain." Sambung bu Santi.


"Baiklah bu." Jawab Namira yang sebenarnya merasa jengkel.


"Mama! Biarkan saja Namira memiliki seleranya sendiri. Nanti Arnav marah jika mama bersikap begini. Biar Arnav yang membelikannya yang baru ma. Jangan memberi barang bekas!" Ucap Sari.


"Maaf ya dik! Tidak usah diambil hati." Ujar Sari.

__ADS_1


"Saya tidak masalah mbak. Oh iya, saya pamit sebentar menemui mas Arnav. Kami akan mengantar mama dan papa ke bandara." Namira beranjak keluar kamar.


"Pak Yanto! Oleh-olehnya mana? Tolong berikan pada bu Megumi dan pak Edi!" Bu Santi memanggil salah seorang pembantunya.


Pria paruh baya itu memberikan oleh-oleh pada keluarga Namira.


"Oh, ini ada baju yang saya jarang pakai. Mungkin bu Megumi mau!" Bu Santi bergerak ke kamarnya.


"Mama! Tidak perlu, Arnav sudah membelikan mereka pakaian untuk oleh-oleh." Jawab Arnav.


"Ayo pa, ma!" Arnav mengajak mertuanya ke mobil.


Sepanjang perjalanan mereka terdiam. Hingga tiba di bandara, pak Edi berbisik pada Namira.


"Jika keluarganya memperlakukanmu tidak pantas, pulanglah! Kamu masih punya orang tua yang akan melindungimu. Lalu jika Arnav bertindak kasar, kamu masih punya ayah yang melindungimu."


"Namira, jika ada apa-apa, cerita pada mama. Raihlah mimpimu hingga tak satu pun orang merendahkanmu." Bu Megumi menitikkan air mata. Namira ikut mengelap sudut matanya yang basah. Ia berusaha menahan tangisnya.


Seperginya mereka, Namira dan Arnav kembali ke mobil. "Kita kembalikan mobil dulu dan kembali ke hotel dengan dijemput supir hotel."


Namira hanya diam. Arnav paham perlakuan keluarganya sedikit keterlaluan. Mereka tiba di rumah bu Santi.


"Namira, bawalah ini untuk camilan. Oh iya, tolong cuci piring ya. Bi Sumi sedang keluar sebentar membeli sabun. Mama tidak mau saudara lain melihat dapur kotor. Masih banyak saudara di sini." Perintah bu Santi. Namira hanya mengangguk.


Arnav yang sejak tadi sedang berbincang dengan papanya mendadak bingung karena tidak melihat Namira. Ia menemukan Namira di dapur sedang mencuci piring.


"Sedang apa kamu?" Tanya Arnav marah.


Bu Santi muncul.


"Itu maunya Namira. Mama sudah katakan tidak usah tapi dia bersikeras." Jawab bu Santi.


Namira semakin jengkel namun berusaha menahannya.


"Kamu sudah lelah dengan acara hari ini lantas untuk apa memaksa cuci piring?" Arnav menegur Namira. Gadis itu masih diam.


Mereka pamit ke hotel.


"Jangan memarahiku lagi di depan orang tuamu atau keluargamu." Namira membuka suara.


"Maksudnya?" Tanya Arnav bingung.


"Tadi kamu pikir aku mencuci piring atas mauku bukan? Mamamu yang menyuruhku! Aku juga dianggap tidak selevel makanya bu Santi memberi tas bekasnya padaku. Aku bisa saja membeli barang mahal dengan uangmu. Tapi aku menghargai uang." Jawabnya datar.


Arnav menyesal dan semakin khawatir rasa cinta istrinya menguap.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2