Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Hotel Blue Moon


__ADS_3

"Ah, cincin emas! Lengkap dengan bandrol nya! Lumayan lah, bisa dijual. Haha!" Namira bergumam sendiri.


Ia tidak berpikir untuk mengirim pesan berucapkan terima kasih pada Arnav karena baginya ini semua masuk dalam rencana pernikahan sandiwara yang digawangi Arnav.


Paginya, mamanya terlihat menatap cincin di jari Namira.


"Dari Arnav?" tanyanya. Namira hanya mengangguk.


"Biaya pernikahannya bagaimana? Kamu ada tabungan tidak?" Mamanya kembali bertanya dengan cemas.


Namira sudah mengira ini akan menjadi masalah. Mengingat usaha furniture orang tuanya yang naik turun.


"Nanti Namira diskusikan dengan mas Arnav." Ucap Namira.


"Kalau kamu nikah, kamu akan tetap kerja atau bagaimana? Mama masih ada tanggungan adik sekolah. Kalau kamu tidak kerja bagaimana bisa mama papa meminjam uang jika sedang susah?" Mamanya kembali khawatir.


"Mama tenang saja. Pokoknya harus tenang." Namira menyunggingkan senyumnya.


Hari ini adalah hari Minggu dan kantornya berencana mengadakan field trip ke Pulau Samo. Arnav sudah tiba di kantor dan hendak memilih tempat duduk di bis. Ia tidak mendapati Namira. Segera ia mengambil ponselnya dan menghubungi gadis itu.


"Halo." Sapa Namira di telepon.


"Kamu dimana?" tanya Arnav.


"Di rumah mas." Jawabnya santai.


"Kamu tidak ingat acara kantor ke pulau Samo?"


"Ingat mas. Aku tidak ikut. Lagian temanku hanya Siska. Nanti kalau sekamar dengan kucing-kucing garongnya mas Arnav gimana?" ucap Namira santai.


"Saya jemput sekarang. Bersiap-siaplah." Perintah Arnav.


Duh, ni orang seenaknya saja. Batin Namira.


"Bisa-bisanya dia tidak datang padahal jelas sekali dia butuh hiburan. Daripada hanya fokus dengan teman-teman bayinya." Gumam Arnav yang langsung mengemudikan mobilnya.


Namira menimbang-nimbang. Kasihan juga jika Siska harus sendirian.


"Ma, Namira mau ikut field trip ke pulau Samo. Sepertinya dua hari. Besok tanggal merah jadi bank Az juga tutup." Namira meminta ijin pada mamanya.

__ADS_1


"Jangan melakukan aneh-aneh. Sebentar lagi menikah. Jangan kebelet dengan Arnav di tempat menginap nanti." Nasihat mamanya.


"Dih, mama mikir apa sih!" tegur Namira.


Tak berapa lama kemudian mobil Arnav tiba dan langsung menekan bel. Mereka berpamitan pada bu Megumi. Arnav mengemudikan mobilnya dengan cepat.


"Santai dikit dong mas." Keluh Namira.


"Kamu mau kita ketinggalan bis?" tanya Arnav sambil tetap fokus pada kemudi.


"Ketinggalan ya tidak usah ikut." Jawab Namira asal.


Kurang dari 100 meter menuju parkiran bank Az Namira membungkuk.


"Mas, keluar saja duluan. Aku menyusul. Nanti tinggal mengunci mobil pakai remote. Ya kan?" pinta Namira.


"Kamu segitu takutnya jadi calon istri saya?" tanyanya dengan ketus.


"Sudah tidak perlu banyak debat. Cepat turun sana mas." Pinta Namira lagi. Arnav benar-benar terheran-heran.


Setelah Arnav turun, ia masuk ke bis dan menyuruh Siska duduk satu deretan dengannya. Siska di dekat jendela sedangkan nanti Namira di sisi luar. Arnav pun akan duduk di sisi luar sebelah kanan. Pria itu memastikan Namira sudah keluar dari mobilnya dan menguncinya. Kini Namira hanya mesam-mesem saja dan duduk di sebelah Siska.


"Duh mba, kupikir tidak ikut. Aku sedih kalau harus terdampar di sini sendirian." Ucap Siska penuh syukur.


Masuklah sekumpulan divisi lain. Mulai dari teller hingga Back Office. Arnav sudah duduk di tempatnya bersama Tama. Ia merasa tenang karena secara tidak langsung ia bersebelahan dengan Namira.


"Bep, aku di sebelahmu ya." Pinta Prita tiba-tiba. Ia menghalangi jalan bagi orang-orang di belakangnya.


"Aku sama Tama." Tolak Arnav.


"Eh admin, kamu pindah ya?" Prita mengusir Namira dan menariknya dengan tangannya. Arnav menatap Namira tajam memberi kode agar Namira tidak mau.


"Iya mba, saya pindah. Siska, ayo kita pindah." Ajaknya pada Siska. Gadis itu menurut karena memang ia juga ketakutan pada wanita-wanita divisi lain.


"Prita! Jangan seperti ini terus. Kamu tau kan aku akan menikah!" Tegas Arnav.


"Iya justru sebelum janur kuning melengkung mari kita yakinkan perasaan masing-masing. Kamu di sebelah si admin biasa saja. Di sebelahku malah panik. Kelihatan jelas kamu risih saat sama aku. Artinya kamu ada gelora asmara gitu deh di hatimu." Ia berkata dengan bangga sedangkan seseorang yang menguping pembicaraan itu nampak tersenyum senyum. Dia adalah Ida yang lagi-lagi mengira bahwa Arnav akan menikah dengannya.


"Mas Arnav, saya bawa camilan yang saya buat sendiri. Ini banana cookies. Bukankah waktu di kota Sura mas Arnav menyukai cookies ini?" Ida menawarkannya dengan ramah seolah menunjukkan kedekatannya dengan Arnav selama di Kota Sura. Arnav menolaknya dengan telapak tangannya sambil tersenyum risih.

__ADS_1


"Oh, jadi dia duduk dekat-dekat aku, jalan dekat-dekat aku tidak risih karena tidak ada perasaan?" Namira bergumam kecil.


"Jadi di kota Sura tiga hari sama Ida? Hahaha! Untung saja tembok yang aku bangun sangat tinggi jadi tidak baper." Namira masih bergumam.


"Kenapa mba?" tanya Siska. Namira hanya menggeleng dan tersenyum.


***


Perjalanan berlangsung selama 6 jam. Mereka berangkat pukul 9 pagi dan akan tiba pukul 3 sore. Tepat jam 12 bis berhenti untuk makan siang.


Arnav dengan sigap menyusuli langkah Namira. Walaupun Prita tak hentinya mengekor Arnav.


"Kita makan per divisi. Prita, carilah divisimu." Pinta Arnav. Gadis itu hanya memutar bola matanya dan pergi.


"Namira, nanti duduk di sebelahku. Titik." Perintah Arnav.


Namira tidak mempedulikannya. Ia mengambil makanan sesuai porsinya dan duduk di sebelah Siska dan Tama. Bis yang ditumpangi pegawai yang sudah berkeluarga juga sudah tiba. Di sana nampak Pratama dan istrinya serta Adrian dan anak istrinya. Saat melihat Namira di sebelah Siska dan Tama, Arnav menjadi kesal.


"Tama, pindah!" Tegasnya. Tama yang bingung hanya menurut saja.


"Saya suruh di sebelah saya tapi kenapa kamu malah pergi?" tanya Arnav berbisik. Namira diam saja dan tidak menanggapi. Tentu saja Arnav menjadi semakin kesal. Begitu kembali ke dalam bis, Arnav mencari tempat duduk di belakang di deretan Namira. Prita yang melihatnya menjadi kesal dan kembali menyuruh Namira pindah.


"Sudahlah jangan seenaknya menyuruh orang pindah-pindah." Tegas Arnav.


"Bep, kamu mau tidur ngorok atau apapun aku tidak akan ilfeel bep." Ucap Prita yang masih kepedean jika Arnav grogi di dekatnya.


"Prita, bis mau berangkat. Cepat duduk atau kamu bisa terjatuh." Tegas Arnav lagi.


Namira sedari tadi hanya memalingkan wajahnya dan bersikap tidak peduli.


***


Hotel Blue Moon di Pulau Samo. Setelah mengundi, divisi mikro akan sekamar dengan back office. Nama yang terpilih adalah Namira dan Siska akan sekamar dengan Fanny dan Rika.


"Ah, syukurlah sekamar dengan orang baik. Tapi entah dengan Fanny." Gumam Namira. Siska sudah merasa tenang karena selama ini Fanny maupun Rika tidak pernah jahat padanya.


"Siska! Dandan yang benar! Nanti diomelin mba Fanny." Ledek Namira. Siska hanya menatap bingung.


"Memang kalo tidak dandan dimarahi mba?" Siska menatap Namira tidak paham.

__ADS_1


"Wah, jadi kamu tidak pernah dimarahi? Keren! Aku berguru padamu saja soal dandan". Jawab Namira malas dan berjalan mendahului Siska.


Sesampainya di kamar, mereka merebahkan tubuh di twin bed masing-masing.


__ADS_2