Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Full House


__ADS_3

"Apa perlu aku suapi? Sini aku suapi." Tangan Arnav langsung mengambil nasi dan suwiran ayam bakar. Ia menyuapi Namira yang masih berusaha menahan ekspresi malunya. Setelah selesai dan menyikat gigi, ia menuju ke kamarnya berharap agar sisa hari ini benar-benar tenang.


"Namira, mama dan papa akan kemari besok lusa." Arnav duduk di sisi ranjang sebelah istrinya. Namira sedikit panik.


"Tenang, mereka tidak menginap karena harus menghadiri pelatihan wirausaha di hotel Bahari. Kita yang akan kesana menemui mereka." Arnav menenangkan Namira. Pria itu sangat mengerti jika menantu akan kikuk dan risih saat bersama mertua mereka. Sudah banyak teman-teman wanitanya di kantor yang selalu merisaukan hal itu. Terlebih antara menantu perempuan dan mertua biasanya sering berdebat karena mempertahankan perasaan mereka di atas logika. Mertua akan merasa menantunya merebut kasih sayang anak lelakinya sedangkan menantu merasa tidak bisa berbuat banyak sekalipun harga dirinya terinjak. Akhirnya hubungan suami istri akan merenggang akibat si istri yang selalu merasa terpojokkan.


"Aku tidak apa-apa mas jika mereka mau menginap atau berkunjung kemari." Sahut Namira.


"Kita lihat saja situasinya besok lusa ya." Arnav membelai pipi Namira. Tanpa aba-aba, istrinya memberanikan diri mengecup Arnav. Sontak ia terkejut dengan kelakuan Namira. Tanpa mau membuang kesempatan, Arnav membalasnya dengan lebih hingga suasana sore hari di kamar terasa panas.


Namira sempat menahan pergerakan Arnav karena khawatir saat ini masa suburnya.


"Lupakan kalender itu Namira!" Seru Arnav yang sudah tidak mampu menahan hasratnya selama dua bulan ini.


***


Mereka mandi dan bersiap makan malam di luar. Jam baru menunjukkan jam lima sore.


"Kita kencan!" Ajak Arnav sambil tersenyum. Mereka menuju ke pantai yang cukup jauh. Sekalipun besok harus masuk kerja, Arnav nampak santai mengajak istrinya melakukan perjalanan selama dua jam. Ia merasa harus membicarakan semua kegelisahannya kepada Namira.


"Boleh aku bertanya?" Arnav menggenggam tangan istrinya. Wanita itu mengangguk.


"Apa uang yang kuberikan kurang?" Tanya Arnav sambil fokus menatap jalanan.

__ADS_1


"Tidak." Jawab Namira singkat. Ia mulai memahami pertanyaan Arnav yang nantinya akan menjurus kemana.


Ternyata prediksi Namira salah. Lelaki itu tidak melanjutkan pertanyaannya. Mereka menghabiskan waktu di perjalanan dengan hening. Bahkan saat tiba dan menyantap makanan pun keduanya saling diam.


"Namira, kita akan kembali ke tengah kota besok. Malam ini kita akan menginap di Hotel Q di seberang restoran ini." Arnav kemudian mengajak Namira memasuki mobil dan menuju hotel.


"Tapi ini baru jam delapan mas. Kalaupun kita kembali, jam sepuluh kita sudah tiba di rumah." Namira mencoba menjelaskan karena ia khawatir akan ada persalinan mendadak.


Arnav meliriknya tajam. "Matikan ponselmu!" Perintahnya. Namira hanya menurut. Mereka menuju ke hotel.


Kamar yang sangat indah dengan pemandangan pantai. Di teras belakang kamsr terdapat kolam renang air hangat. Arnav menggiring Namira ke tepi kolam seolah ingin melanjutkan aktivitas panasnya tadi sore.


"Aku tidak bawa baju ganti." Namira berusaha menjernihkan pikiran Arnav.


Namira tidak menyangka Arnav memiliki sisi seperti ini. Pria itu menggunakan celana pendeknya dan membawa Namira memasuki kolam.


"Aku mencintaimu." Ucap Arnav sambil mencium bibir istrinya. Lama kelamaan ciuman itu melebar kemana-mana.


"Namira, apa kamu menyukai pria yang pintar?" Tanya Arnav di sela-sela aktivitasnya mencumbu.


Gadis itu hanya diam dan tidak menjawab.


"Apa aku pernah menyakitimu selain permasalahan sebelum kita berangkat kemari? Arnav masih bertanya sambil mencumbu membuat Namira tidak bisa menahan diri.

__ADS_1


"Apa kamu berpikir akan meninggalkanku?" Masih dengan pertanyaan dan aktivitasnya kepada Namira, akhirnya gadis itu mempertahankan logikanya.


"Berhenti! Ayo kita mandi dan setelah itu bicara baik-baik." Ajak Namira yang langsung mendorong tubuh Arnav dan menuju toilet.


Arnav pun menyusul dan mengikuti saran istrinya. Setelah mereka berkepala dingin, keduanya duduk di ranjang.


"Aku tidak pernah berfikir meninggalkanmu, tapi setelah kejadian di pulau ini beberapa waktu lalu, aku berfikir mas Arnav lah yang kemungkinan bisa meninggalkanku. Aku memang sangat sakit hati dengan semua ucapan mas Arnav waktu itu sampai rasanya aku jijik untuk diberika satu sen pun uang dari usaha mas Arnav. Aku bukan matre dan aku bukan murahan." Ucap Namira sambil menahan tangis.


"Apa semua wanita seperti ini? Bahkan setelah aku meminta maaf pun kamu masih dendam? Aku suamimu, bukan orang lain." Arnav menatap Namira penuh kelembutan dan membelai rambutnya.


"Semua orang berhak takut mas. Apalagi posisiku tidak sebanding denganmu." Namira menunduk karena hatinya tidak kuat membicarakan itu.


"Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf!" Arnav mengecup kening Namira berkali-kali dan memeluknya erat. Kini ia benar-benar takut istrinya akan pergi suatu hari nanti. Mungkin setelah uang yang dikumpulkan Namira sudah banyak atau menunggu hal lainnya? Yang jelas ia merasa sudah sangat bodoh. Ia tidak bisa bersikap dewasa di hadapan Namira. Ia juga tidak bisa melindungi perasaan istrinya.


"Kita harus memperbaiki semuanya dan pasti bisa." Lanjut Arnav masih dengan memeluk Namira. Arnav pun berencana mengikat istrinya dengan kehadiran seorang anak.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2