Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Tell Me Your Wish


__ADS_3

Saat Namira dan Arnav memutuskan untuk pulang ke rumah karena hari telah larut, bu Santi kembali mengingatkan Arnav untuk mengantarnya besok sore ke bandara sedangkan Namira tidak dapat ikut karena harus pergi ke Pulau Karimun.


"Kami pamit dulu bu, pak!" Pamit Namira sambil menunduk dan membungkukkan badannya.


Sesampainya di mobil, Arnav terus saja memperhatikan wajah istrinya yang nampak tidak biasa.


"Tenanglah, mama tidak sedikitpun bermaksud buruk." Ucap Arnav sambil membelai rambut Namira. Gadis itu hanya mengangguk.


Mereka kembali ke rumah dan Namira mempersiapkan segala keperluannya.


"Aku tetap akan menyusul dengan mobil. Setelah mengantar papa dan mama ke bandara aku akan langsung menyusulmu." Ucap Arnav menenangkan istrinya. Namira tidak merespon apapun dan hanya mengangguk.


"Namira, apa ada sesuatu yang mengganjal?" Tanya Arnav sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya mencerna ucapan mama. Ini sudah bulan Juli dan aku pikir jika ingin kuliah di pulau Karimun itu artinya aku terlambat mendaftar. Apalagi bulan depan perkuliahan umumnya sudah dimulai." Ujar Namira yang akhirnya ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Arnav.


"Hh.. Aku sebenarnya juga bingung. Tadinya aku bermaksud membiarkan kamu di Pulau Delta karena aku yakin pertengahan tahun depan urusanku disini sudah beres. Kita tidak akan terpisah lama hingga bertahun-tahun. Paling lama hanya enam bulan. Aku juga tenang karena di sana akan ada mama Megumi yang menjagamu. Kalau menurutmu sendiri bagaimana?" Arnav menatap Namira lembut.


"Entah, aku bingung. Ayo kita tidur. Ini sudah terlalu larut." Ajak Namira sambil membenamkan dirinya ke dada Arnav.


***


Seperti biasa Namira diantar ke klinik oleh Arnav.


"Aku akan menyusul nanti dan teruslah memberiku kabar." Pesan Arnav sebelum Namira membuka pintu mobil. Gadis itu hanya mengangguk. Di depan pintu klinik dokter Serkan sudah menunggunya. Ia nampak antusias membicarakan program acara untuk besok. Namira hendak menabrak seseorang yang keluar dari lobi klinik dan sontak saja dokter Serkan menarik pundak Namira bagaikan seseorang yang memeluk.


"Ah, terima kasih dokter!" Ucap Namira salah tingkah.


"Tidak apa-apa. Hati-hatilah!" Jawab dokter Serkan. Ia sempat melihat ke arah parkiran dimana mobil Arnav masih setia berada di sana. Ia menyuruh Namira masuk terlebih dahulu dengan alasan jas praktiknya tertinggal di mobil.


Arnav masih mengamati gerak gerik dokter Serkan.


"Apa aku kekanakan jika menegurnya?" Ucap Arnav dalam hati sambil memegang setir mobilnya. Ia pun memutuskan keluar dari mobil.


"Selamat pagi. Perkenalkan saya suami Namira." Arnav mengulurkan tangan kepada dokter Serkan.

__ADS_1


"Saya sudah tahu." Jawab dokter Serkan tanpa membalas uluran tangan Arnav.


"Sebaiknya anda cepat pergi karena tempat parkir ini hanya diperuntukan bagi pasien." Ucap dokter Serkan dengan tatapan dinginnya. Tentu saja hal itu memancing amarah Arnav.


"Saya berterima kasih karena dokter mau menerima Namira bekerja di sini. Namun saya mohon untuk menjaga jarak dengannya karena dia sudah bersuami." Tegas Arnav.


"Saya tau tetapi panjang pendeknya jodoh tidak ada yang tau. Namun sebaiknya anda tidak perlu terlalu percaya diri. Saya tidak pernah mengatakan menyukai istri anda." Jawabnya acuh.


Arnav menelan ludahnya kasar. Dokter Serkan pun melewatinya.


***


"Kita berangkat bersama. Pak Eko akan mengantar kita ke stasiun." Ujar dokter Serkan. Namira dan Wisnu hanya mengangguk. Setibanya di stasiun mereka menaiki kereta eksekutif. Keadaan sangat tenang namun cukup penuh karena akhir pekan. Mereka yang bertempat tinggal di Pulau Karimun dan bekerja di Pulau Tidore akan memilih menghabiskan akhir pekan di kampung halaman. Melihat yang duduk di sebelah Namira merupakan orang asing, dokter Serkan pun menyarankan gadis itu untuk pindah dan digantikan oleh Wisnu.


"Kamu duduk di sebelah saya saja." Perintah dokter Serkan.


Namira merasa tidak nyaman namun tidak dapat menolak.


Perjalanan ini memakan waktu kurang lebih sau setengah jam dengan kereta. Sepanjang perjalanan, Namira memutuskan untuk mengobrol padahal ia sebenarnya mengantuk akibat semalam tidak dapat tidur lebih awal karena harus menemui bu Santi.


"Iya. Tapi saya hanya membimbing thesis dan skripsi. Kamu lihat sendiri kan jika setiap hari saya di klinik?" Jawabnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Namira mengangguk kikuk.


"Apakah pendaftaran untuk kuliah Magister masih terbuka?" Namira bertanya hati-hati.


Serkan meliriknya.


"Sudah tutup kemarin. Akhir bulan ini sudah orientasi mahasiswa baru." Jawab Serkan.


"Oh begitu. Berarti takdir saya harus kembali ke Pulau Delta." Namira berkata lirih.


"Maksudmu? Coba katakan sebenarnya keinginanmu apa? Kenapa harus kesana?" Serkan bertanya penuh selidik dan dengan intonasi yang sedikit tinggi.


"Saya sudah tidak punya keinginan." Jawab Namira asal.

__ADS_1


"Tell me your wish!" Ucap Serkan penuh penekanan.


"Pingin kuliah dok, di pulau Karimun. Sebenarnya saya sudah diterima di pulau Delta, tapi mertua saya inginnya saya tidak jauh dari suami." Celetuk Namira.


"Oh mertuamu old style" Ejek Serkan.


Namira hanya tersenyum.


***


Arnav kini sudah berada di bandara untuk mengantar kedua orangtuanya.


"Nav, akhir tahun kalian harus pulang ke kota Tua. Resepsi pernikahan belum dilangsungkan. Kasihan rekan-rekan mama yang kemarin belum hadir saat di Delta." Perintah bu Santi. Arnav hanya mengangguk.


"Satu lagi, mama pokoknya tidak setuju jika Namira kuliah di Siantar. Dia harus menemani kamu kemana-mana." Celoteh bu Santi kembali.


"Ma, sebenarnya Arnav bermaksud menyelesaikan pekerjaan di sini dengan lebih cepat. Paling lama kami berpisah enam bulan. Biar Namira juga bisa mengurus mini market di sana. Lagipula ada keluarganya di sana sehingga Arnav tidak perlu khawatir." Terang Arnav seakan putus asa dengan keinginan mamanya.


"Itu racun! Kamu tau kan bagaimana dulu saat mama berjauhan dengan papa, keluarga mama pun menghasut yang bukan-bukan. Pertengkaran antara mama dan papa terus saja terjadi. Akibatnya sampai sekarang papamu tidak sesayang dulu dengan mama." Kenang bu Santi.


"Arnav rasa setiap orang berbeda ma." Arnav kembali menjelaskan.


"Pikir baik-baik Nav!" Bu Santi kembali memberi penekanan.


"Ma, ayo! Kita tunggu di dalam saja. Kita belum check in lho!" Tegur pak Arya.


"Ma, Arnav rasa papa masih sama kadar sayangnya terhadap mama. Sebaiknya mama konsul ke psikolog agar tidak terlalu parno dan membuang trauma-trauma yang mama miliki." Nasihat Arnav. Ibunya hanya diam dan berlalu.


***


Sepanjang perjalanan, Arnav terus berpikir. Jika Namira di pulau Delta, tentu ia akan aman dari dokter Serkan. Tetapi mungkin Riyan akan kembali mengganggu dan akan sulit bagi Arnav untuk melindungi dikarenakan ia jauh.


Namira mengantuk dan tanpa sengaja kepalanya mengangguk-angguk. Dokter Serkan dengan sigapnya meletakkan kepala gadis itu ke pundaknya. Namira benar-benar mengantuk sehingga tidak peduli lagi ia bersandar kepada siapa.


***

__ADS_1


__ADS_2