Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Siapa Kamu?


__ADS_3

Namira dan Arnav kembali ke rumah mereka. Saat Namira sedang mandi, ponselnya berdering dan tanpa nama. Akhirnya Arnav mengangkatnya.


"Halo." Ucap Arnav.


"Halo. Bisa berikan ponselnya pada Namira?" Jawab pria di seberang dengan ketus.


Arnav cukup terkejut saat mengetahui seorang laki-laki menghubungi istrinya.


"Anda bisa menyampaikan pesan padaku. Aku suaminya." Tegas Arnav masih dengan menahan emosi.


"Baiklah. Dia ditunggu oleh pasien persalinan. Bukaan tiga." Sambung laki-laki tersebut.


"Baik akan aku sampaikan." Jawab Arnav yang merasa sedikit lega karena ini berhubungan dengan pekerjaan.


"Jangan lebih dari dua jam." Tegas dokter lelaki tersebut sambil menghentikan panggilan.


"Ada apa mas?" Tanya Namira sambil menutup kembali pintu kamar mandi di kamarnya.


"Apa kamu baik-baik saja bekerja di klinik tersebut?" Tanya Arnav masih dengan tangan yang menggenggam ponsel istrinya. Raut wajahnya nampak cemas.


"Aku baik-baik saja. Gajinya juga besar, tunjangan dan bonusnya banyak. Oh iya, aku belum menyelesaikan artikel online ku." Namira bergegas meletakkan handuknya di balkon kamar dan mencari laptopnya.


"Ada pasien yang hendak melahirkan. Sepertinya tadi dia bilang buka tiga. Buka atau apa ya tadi?" Arnav nampak berusaha mengingat-ingat ucapan dokter yang tadi menghubungi Namira.


"Bukaan mas. Yasudah aku ke klinik dulu. Artikelnya akan aku kerjakan di sana. Tapi sebelum itu aku akan menyiapkan makan malam dulu." Jawab Namira. Ia hendak membuka pintu kamar namun ditahan oleh Arnav.


"Aku akan mengantarmu, menemanimu, jadi kamu tidak perlu memasak makan malam." Pinta Arnav masih dengan wajah khawatir. Ia takut istrinya akan sakit karena kelelahan apalagi setelah ini akan berhadapan dengan pasien persalinan.


"Kita sudah berbelanja sangat banyak, nanti keburu busuk. Sebaiknya aku masak dulu lalu kita membawa bekal ke klinik." Usul Namira.


"Aku saja yang memasak. Setelah itu kamu yang menyiapkan sementara aku akan lanjut mandi." Ucap Arnav seraya melangkahkan kaki keluar kamar dan menuju dapur.


"Mas tidak capek?" Tanya Namira sambil memeluk suaminya dari belakang.


"Kepala cabang tidak selelah kepala divisi. Aku hanya perlu memeriksa laporan-laporan atau menandatangani dokumen-dokumen saja." Jawab Arnav sambil mengelus tangan Namira yang kini memeluknya.


"Baiklah. Aku siap-siap dulu." Lanjut Namira sambil melepaskan pelukannya dan menuju kamar.


***


Mereka tiba di klinik.

__ADS_1


"Aku masuk dulu, nanti aku akan keluar lagi dan mememanimu makan bekal kita." Ucap Namira sambil membuka pintu mobil. Ia hanya perlu meyakinkan kondisi pasien dan meminta perawat menjaganya. Setiap dua jak sekali ia akan mengecek pembukaan rahim dan jika semua sudah lengkap dan tidak ada indikasi maka semua akan selesai.


Arnav dengan sabar menunggu di tempat parkir sambil memainkan ponselnya. Ia melihat seorang pria dengan tinggi yang sama dengannya menggunakan jas putih khas dokter berlalu di koridor. Ia nampak ingin berjalan sejajar dengan Namira.


"Namira! Kamu sudah datang rupanya." Dokter Serkan berjalan di sebelahnya.


"Selamat sore dok. Saya akan segera.ke ruang observasi." Sahut Namira sambil membungkukkan badannya dan berjalan cepat.


"Selamat sore, dengan ibu Nanda?" Sapa Namira ramah setelah ia menggunakan jasnya dan masker.


"Ah, sakit bu! Aduh ini sakit banget!" ucap wanita tersebut dengan ekspresi berkeringat. Bahkan suami dari pasien tersebut juga nampak gelisah.


Dokter Serkan membuka pintu.


"Namira, kamu cek semua tanda-tanda vitalnya. Jika ada yang kurang beres saya akan segera menelpon dokter kandungan atau merujuknya ke rumah sakit tipe C." Nasihat dokter Serkan. Namira mengangguk.


"Ibu sabar ya! Tarik nafas dan buang. Lakukan berkali-kali. Saat rasa sakitnya hilang, ibu mulailah memakan sesuatu untuk menambah tenaga. Pak, tolong belikan istri Anda roti dan minuman. Untuk kondisi bukaannya, ini sudah bukaan lima. Sepertinya persalinan ini akan lebih cepat." Ujar Namira sambil mengelap peluh ibu tersebut.


Seharusnya aku meminta bola hamil dan matras yoga. Mungkin akan berguna di sini.


Gumam Namira.


Tak butuh waktu lama, ketuban ibu tersebut pecah. Ibu tersebut kembali berteriak.


Di sisi lain, Arnav mencemaskan Namira yang tidak juga memberi kabar. Hari sudah mulai gelap. Ia pun turun dari mobil dan memasuki lobi. Merasa kurang nyaman dengan antrian pasien, ia memutuskan mencari kantin dan menghubungi ponsel Namira.


Gadis itu keluar dari ruang observasi sambil mengangkat panggilan Arnav.


"Mas, makanlah dulu. Sebentar lagi persalinan karena ibu tersebut sudah hampir bukaan lengkap." Ucap Namira cepat.


"Semangat ya, aku tunggu di kantin." Jawab Arnav.


Dokter Serkan sudah berganti pakaian hendak pulang dan berpapasan dengan Namira yang penuh keringat.


"Bagaimana?" Tanyanya datar.


"Semua baik dok. Saya sudah cukup lama tidak menangani pasien persalinan. Saya sedikit gugup." Jawab Namira. Dokter Serkan pun memegang pundak gadis itu.


"Kamu pasti bisa! Yasudah saya pulang dulu. Hubungi saja jika terjadi sesuatu." Ucapnya sambil berlalu.


"Tentu saja aku berharap tidak ada sesuatu." Gumam Namira dalam hati.

__ADS_1


Ia kembali dan bersiap dengan persalinan. Akhirnya seorang bayi perempuan lahir sambil menangis dengan kencang. Bayi tersebut dibersihkan, ditimbang, dan diukur oleh perawat Sylvia. Namira tengah menjahit pasien serta membereskan plasenta yang ada. Bayi tersebut langsung diberikan ASI dan ini membuat Namira terharu.


"Apa kamu tidak ingin segera punya anak?" Tanya perawat Sylvia.


Namira hanya tersenyum kikuk.


"Terima kasih bu bidan!" Ucap ibu Nanda.


"Sama-sama bu. Tidak perlu khawatir jika ASI belum keluar. Bayi mampu bertahan selama tiga hari tanpa ASI. Saya pamit dulu ya bu. Nanti Anda akan dipindahkan ke bangsal. Besok saya akan melakukan pemeriksaan kembali. Jika ibu dan adik bayi sudah buang kotoran dan tidak ada masalah, kalian besok sudah boleh pulang." Terang Namira sambil tersenyum.


Jam menunjukkan jam delapan malam. Namira mencari Arnav ke kantin. Pria itu memainkan ponsel sambil meminum secangkir kopi.


"Sayang, maaf aku jajan." Ucap Arnav sambil tersenyum memamerkan giginya.


"Tidak apa mas. Maaf aku lama." Jawab Namira dengan wajah lesunya.


"Tidak apa. Bagaimana? Apakah semua lancar?" Tanya Arnav seolah memahami kelelahan istrinya.


"Syukurlah lancar mas. Jika tidak kita tidak akan bertemu secepat ini." Jawab Namira.


"Makanlah dulu, aku tambahkan makanan lain yang hangat ya? Bagaimana?" Tawar Arnav.


"Baiklah, terima kasih. Besok kita beli wadah makanan yang bisa menyimpan panas ya mas?" Pinta Namira.


Arnav mengangguk. Ia juga memesankan susu coklat hangat untuk istrinya.


"Kita pulang ya mas. Aku lelah sekali." Pinta Namira setelah ia menyelesaikan hidangannya.


Arnav mengangguk.


"Kita perlu mengubah mobil ini menjadi ruangan yang nyaman. Jadi aku bisa menunggumu sambil mengerjakan sesuatu di mobil." Usul Arnav.


"Lebih baik mas Arnav pulang lalu jemput aku lagi." Balas Namira sambil tertawa.


"Tadi ada seorang dokter yang tampan, siapa dia?" Tanya Arnav menyelidik.


"Siapa ya? Apa dokter Serkan? dia CEO di sini." Jawab Namira dengan mata terpejam. Arnav pun mengelus rambut istrinya dan membiarkannya tertidur.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2