
Para tamu sudah pulang. Semua kado dibawa oleh orang tua Arnav menuju rumah mereka. Arnav dan Namira sedang makan di pelaminan hingga akhirnya keluarga mereka berpamitan.
"Semangat Nav!" Ejek mbak Sari.
Arnav hanya tersenyum sambil menggelrng-gelengkan kepalanya.
"Hei Namira, hati-hati besok tidak bisa berjalan!" Ledek Ria.
Namira memasang wajah polosnya yang bingung dengan maksud perkataan Ria.
Selesai makan, mereka menuju kamar hotel yang telah didekorasi khusus untuk mereka.
"Kamu sudah membawa tas perlengkapanmu dan baju ganti bukan?" Tanya Arnav gugup.
"Iya sudah. Mas Arnav mandi saja duluan, aku akan menghapus make up dulu." Jawab Namira.
Arnav melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ada rasa gugup berkecamuk pada dirinya. Ia mengisi bathub dengan air hangat dan mulai berendam.
"Haruskah aku agresif atau haruskah aku perlahan-lahan?" Ucapnya dalam hati.
Sementara di luar kamar, Namira menghapus riasannya sambil terus menatao kamar hotel yang luas tersebut. Di atas kasur telah tersedia kelopak bunga mawar berbentuk hati serta sepasang handuk yang ditautkan menjadi bentuk angsa saling bercumbu. Ia mencari remote televisi dan memencet angka-angka bergantian. Gadis ini sama sekali tidak gugup. Ia justru menikmati segala fasilitas di kamar hotel. Hingga Arnav keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan menggunakan kimono handuk.
"Aku sudah selesai. Apa kamu mau mandi?" Tanyanya sambil menatap Namira yang sedang fokus pada televisi.
"Iya." Jawabnya singkat kemudian menuju kamar mandi tanpa melihat Arnav.
Pria itu terkejut dengan tingkah Namira.
"Apa dia marah?" Batin Arnav.
Sementara di dalam kamar mandi, Namira menikmati aktivitasnya berendam.
"Aku hanya perlu terus menghindarinya agar tidak gugup dan terbawa perasaan. Ingat, jangan sampai terbuai dengan akting drama ini." Ia bergumam dalam hati.
Selang setengah jam, ia keluar dengan pakaian lengkap. Ia tidak membasahi rambutnya. Setelah memakai perawatan wajah dan mengoleskan losion di tubuhnya, ia masih duduk di kursi yang terletak di depan meja nakas.
"Hm.. Mas Arnav, saya tidur dimana ya?" Namira bertanya dengan polosnya.
"Hanya ada satu kasur di sini, jadi tentu saja di sini." Ucap Arnav dingin sambil menunjuk ke sisi ranjang.
__ADS_1
"Kenapa tidak ada guling ya mas?" Tanyanya lagi sambil mencari-cari yang dimaksud.
"Namira, aku-kamu! Kita kan sudah menjadi lebih akrab!" Tegur Arnav.
"Oh iya mas. Yasudah, aku tidur di sini." Ucap Namira sambil membalikkan badan membelakangi Arnav. Ia masih memainkan ponselnya melihat beberapa komentar teman-temannya soal pernikahannya. Namun Namira tidak membalasnya karena bingung harus menjawab apa.
Arnav memperhatikan punggung Namira. Rasanya ia harus memulai sesuatu atau hubungan mereka tidak akan ada kemajuan. Ia mendekat dan memeluk Namira dari belakang. Seketika Namira terkejut dan menjatuhkan ponselnya. Arnav mengecup puncak kepala gadis itu.
"Jangan berbalik, pokoknya aku tidak boleh berbalik badan." Batin Namira.
"Namira, aku rasa ucapanmu soal Dilla itu benar. Sepertinya dia memang menyukaiku." Arnav memulai pembicaraan.
Tiba-tiba Namira teringat soal Novi, orang yang dulu pernah disukai Arnav. Karena terlalu semangat, ia membalikkan badannya.
Arnav terkejut karena jarak wajah Namira dengannya menjadi sangat dekat.
"Oh iya, mbak Novi, kenapa dia tidak mau menunggu mas Arnav? Lalu apa yang membuat mas Arnav menyukainya selain karena dia cantik?" Tanya Namira bersemangat. Ia tidak sadar dengan kedekatan mereka karena terlalu fokus dengan rasa keingintahuannya.
"Novi? Dulu di kampus dia terkenal pintar. Sekarang dia sudah membuka kantor akuntan sendiri. Dia juga kerap menjadi pembicara di berbagai acara. Banyak yang menyukainya. Tapi sebenarnya Novi juga menyukaiku." Terang Arnav yang sedikit kesulitan berkonsentrasi karena hembusan nafas Namira terasa menggelitik lehernya.
"Lalu kenapa tidak berpacaran atau bertunangan dulu?" Tanya Namira penasaran. Sebenarnya ada rasa tidak nyaman di hatinya saat menanyakan hal tersebut.
"Kita tidak akan menikah jika dulu aku bersama Novi. Bukankah begitu? Aku sangat ingin istriku nanti nyaman denganku. Sebab itulah aku memapankan diri. Novi tau jika keluargaku termasuk mampu, tapi aku tidak mau jika hidupku disokong keluargaku." Jelas Arnav.
"Tidak. Saat kami akhirnya memilih jalan masing-masing untuk memapankan diri, dia memilih suaminya yang sekarang. Novi orang yang baik. Ia dan suaminya melangkah bersama-sama dari kehidupan yang belum terbilang mapan hingga jadi seperti sekarang." Jawab Arnav sambil menatap Namira. Ia kemudian membelai rambuy gadis itu dan menyelipkannya ke belakang telinga Namira.
"Seharusnya dulu mas Arnav melangkah bersama-sama, bukan hanya mau memapankan diri sendiri dan menganggap pasangan hidup mas Arnav tidak bisa membantu." Sela Namira.
"Sudahlah! Itu masa lalu. Aku hanya tidak mau wanitaku bersusah payah untuk membantu kemapanan kehidupan kami." Balas Arnav sambil memeluk Namira.
Gadis itu merasa nyaman dalam pelukan Arnav.
"Kamu sendiri bagaimana? Kenapa tidak mengundang mantanmu supaya aku tau bagaimana dia?" Goda Arnav.
"Dia seorang artis mas. Jadi akan susah untuk diundang" Jawab Namira asal.
Arnav melepaskan pelukannya.
"Benarkah? Siapa namanya? Akan aku cari di Google." Jawabnya serius.
__ADS_1
"Hahaha! Dia artis lokal mas. Aktingnya sangat bagus. Sejak itu aku jadi susah mempercayai ucapan atau perbuatan orang lain." Jawab Namira sambil menggigit bibir bawahnya.
Tanpa sadar Arnav mengecup bibir tersebut.
"Tidak apa-apa. Kita akan mulai dari awal secara pelan-pelan. Aku tidak berbakat menjadi artis. Jadi bisakah kamu pelan-pelan percaya padaku?" Tanya Arnav.
Namira masih mematung menatap wajah Arnav.
"Tolong jangan meminta lebih dari ini." Pinta Namira dengan wajah memelas.
"Baiklah! Tenang saja!" Jawab Arnav tersenyum sambil memeluk Namira kembali. Mereka pun terlelap bersama hingga pagi menjelang.
***
Arnav terbangun lebih dahulu lalu mengecup kening Namira. Hal itu membuat Namira mau tidak mau membuka matanya.
"Siapa yang mandi duluan?" Namira bertanya dengan matanya yang setengah menutup.
"Aku duluan ya!" Balas Arnav yang memang harus melakukan ritual seorang diri di kamar mandi.
Tak berapa lama kemudian ia keluar dan Namira bersiap mandi.
Kini mereka berdua sudah merasa lebih segar dan menuju ke restoran hotel. Mereka sarapan dengan damai dimana Arnav tak hentinya menggenggam tangan Namira.
"Siang ini kita checkout. Kita menuju rumahmu lalu mengantar keluargaku ke bandara. Setelah itu kita pulang ke rumah KITA." Arnav menegaskan kata terakhir dalam kalimatnya.
"Baiklah. Tapi sebelumnya kita beli beberapa bahan makanan dulu ya mas." Saran Namira. Arnav mengangguk sambil tersenyum senang.
Mereka kembali ke kamar dan merapikan barang bawaan masing-masing. Tiba-tiba Arnav memeluk Namira dari belakang. Gadis itu terkejut sekaligus merasa geli.
"Rasanya nyaman sekali. Aku merasa rileks." Ujar Arnav yang menautkan dagunya pada pucuk kepala Namira.
Gadis itu hanya bisa terdiam.
.
.
.
__ADS_1
vote ya bagi yang punya poin lebih..
semoga hari-hari kalian menyenangkan.