
Arnav dan Namira baru tertidur jam dua pagi dan bahkan melewatkan makan malam mereka. Tentu saja Arnav merasa ketagihan dengan aktivitas yang mereka lakukan hingga ia sadar bahwa kesehatan Namira baru saja pulih.
"Maaf, aku kurang mengontrol diri." Ucap Arnav sambil membelai rambut wanitanya. Namira sudah sangat lelah hingga ia tidak mampu merespon pernyataan suaminya. Arnav memutuskan bangun lebih awal mengingat hari ini adalah hari Minggu. Ia membersihkan tubuhnya, menyiapkan sarapan dan membangunkan Namira. Gadis itu merasa seluruh badannya lengket namun tidak berdaya untuk bangkit dari tempat tidur.
"Aku akan membantumu." Ucap Arnav namun Namira menolak. Ia tidak mau dianggap yang tidak-tidak oleh Arnav.
Namira berendam untuk menyegarkan badannya. Ketika menuju ke ruang makan, ia sedikit terkejut dengan menu sarapan di atas meja.
"Apa mas memesan makanan?" Tanyanya lirih.
"Tidak. Aku yang memasak. Ayo duduk." Ajak Arnav sambil menarik kursi untuk Namira. Selesai makan, Namira hendak mencuci piring.
"Tidak perlu, biar aku saja. Kamu istirahatlah." Saran Arnav. Namira pun kembali ke kamarnya karena merasa badannya sungguh pegal dan lelah.
Gadis itu mengecek kalender.
Untunglah kemarin bukan masa suburku. Ucapnya dalam hati. Ia juga mengingat-ingat jika hari ini adalah jadwal ujian masuk. Sayangnya ia sudah mengubah pikirannya untuk mengikuti ujian masuk.
Aku akan mengumpulkan uang dari jerih payahku. Di sini tenaga kesehatan digaji sangat tinggi. Dalam dua tahun aku bisa membayar biaya kuliahku sendiri. Lagi-lagi Namira bergumam seorang diri.
Arnav masuk ke kamar Namira. Ia duduk di samping ranjang dan membelai rambut istrinya.
"Terima kasih." Ucapnya.
"Aku harap tidak ada lagi sindiran baru untukku setelah menyebutku matre dan sekarang menjadi murahan." Ketus Namira.
"Aku tidak berpikir seperti itu. Tolonglah Namira, kemarin aku hanya emosi. Aku benar-benar tulus memberimu apa saja. Jangan rendahkan aku dengan menolak semua pemberianku." Ucap Arnav sambil menggenggam tangan istrinya. Namira perlahan memejamkam matanya dan tertidur karena tidak sanggup memperpanjang perdebatan.
***
Hari sudah siang. Arnav membangunkan Namira dengan lembut.
"Namira, ayo kita keluar mencari makan siang." Ajak Arnav. Namira hanya melengus dan tidak membuka matanya.
"Mas saja yang beli dan bungkus untukku." Jawabnya masih dengan mata terpejam. Mau tidak mau Arnav pun pergi setelah sebelumnya mencubit hidung Namira gemas.
Mereka makan siang bersama. Arnav kembali mengingatkan Namira soal ujian masuk.
"Ikutlah, jangan sampai usahamu sia-sia sejauh ini. Kapan kira-kira mulai masuk kuliah?" Tanya Arnav sambil melanjutkan makan siangnya.
__ADS_1
"Sekarang bulan Mei, perkuliahan dimulai Agustus." Jawab Namira tanpa menoleh ke arah Arnav.
"Masih ada waktu sekitar tiga bulan. Ke depannya kita juga tetap bisa bertemu paling tidak sebulan sekali. Aku tidak masalah." Jawab Arnav dengan tatapan lembutnya.
"Haha! Sekarang jawabnya tidak ada masalah? Kemarin sebelum berangkat mas Arnav marah-marah karena aku tidak mau ikut. Aku terlalu berambisi untuk balas dendam pada mantanku dan laki-laki yang mengejekku. Sekarang setelah mendapatkan apa yang mas mau tadi malam lantas menyia-nyiakan aku?" Balas Namira dengan ketus. Ia menyudahi makan siangnya dan hendak ke kamar.
"Namira sayang, bukan begitu maksudku." Arnav menahan tangannya dan memeluknya.
"Kemarin aku tersinggung karena kamu serasa tidak masalah jauh dariku. Ditambah lagi ucapanmu soal balas dendam. Aku cemburu. Aku benar-benar cemburu." Jelas Arnav sambil mengeratkan pelukannya.
Namira merasa sangat tentram saat Arnav memeluknya.
"Tapi perjanjian itu sudah tidak berlaku. Bukankah begitu?" Tanya Namira memastikan.
"Iya. Tidak berlaku. Tapi bukan berarti kamu tidak boleh kuliah dengan uang itu. Anggaplah itu pemberian dari suamimu. Bisakah mulai sekarang kamu benar-benar menganggapku suamimu?" Pertanyaan Arnav terdengar sebagai pernyataan cinta bagi Namira.
"Apa kamu sekarang sedang melamarku dengan benar?" Namira kembali bertanya.
Arnav memutar tubuh Namira agar berhadapan dengannya.
"Iya. Aku sedang melamarmu. Apakah kamu bersedia menjadi istriku? Aku mencintaimu." Ucap Arnav.
"Baiklah. Aku akan mengajarkanmu mencintaiku seperti janjiku." Ucap Arnav tersenyum. Ia membelai rambut Namira lalu memberi kecupan lembut. Lama kelamaan aktivitas mereka menjadi memanas.
"Kita lanjutkan nanti. Masih ada waktu untuk mengikuti ujian masuk." Ucap Arnav seraya mengajak Namira ke ruang tengah dan menghidupkan laptop.
Sambil memeluk Namira dari samping, Arnav meletakkan dagunya pada bahu Namira.
"Mas, aku tidak bisa berkonsentrasi." Ujar Namira. Arnav hanya tersenyum kemudian mengubah posisinya menjadi tertidur di paha gadis itu.
Namira hanya menghela nafasnya.
"Ah sudahlah. Apapun hasilnya itu yang terbaik." Ucap Namira yang membuat Arnav tertawa nakal. Bagaimana Namira tidak risih jika Arnav menatap wajahnya terus sambil tertidur di pahanya.
"Sudah selesai? Bisakah kita lanjutkan lagi yang tadi?" Goda Arnav kembali. Namira hanya tersenyum tanpa menjawab namun Arnav sudah lebih dulu memegang kendali.
***
Hari sudah malam, mereka berdua kelaparan setelah membakar kalori cukup banyak dari aktivitas mereka.
__ADS_1
"Ayo kita pergi sekaligus kencan." Ajak Arnav. Mereka ke swalayan kemudian makan malam di sebuah restoran dekat pantai. Mereka juga mampir membeli perlengkapan rumah serta kebutuhan sehari-hari.
Arnav tak hentinya menatap istrinya sambil terus tersenyum.
"Apaan sih mas? Aku risih." Ujar Namira sambil memalinhkan pandangannya.
Arnav tidak menanggapi ucapan Namira dan tetap memandangnya.
"Aku potongkan dagingnya ya." Tawar Arnav yang langsung mengambil piring Namira lalu mengiris daging menjadi potongan-potongan siap santap.
"Terima kasih." Ucap Namira.
"Apakah kamu sudah mengirimkan lamaran kerja di Klinik itu?" Arnav memecah keheningan.
"Iya, sudah." Jawab Namira sambil membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Semoga diterima ya. Setidaknya itu untuk aktivitasmu tiga bulan ke depan." Ucap Arnav sambil memberikan senyum manisnya. Namira lagi-lagi dibuat salah tingkah.
Mereka kembali ke mobil dan bersiap untuk pulang.
"Namira, apa kamu tidak menahan sakit daritadi saat berjalan?" Arnav bertanya dengan hati-hati.
"Maksudnya?" Namira menoleh ke arah Arnav pertanda tidak mengerti.
"Katanya jika wanita baru pertama kali berhubungan terasa sakit bahkan hingga tidak bisa berjalan." Jawab Arnav.
"Siapa yang bilang?" Namira menatap Arnav tajam karena curiga suaminya itu curhat soal hal privasi pada orang lain.
"Aku hanya membaca beberapa artikel." Jawab Arnav gugup.
"Mas, aku ini bidan. Aku tau bagaimana mengurangi rasa sakit itu. Lalu satu hal lagi, jangan pernah curhat urusan ranjang pada siapapun. Paham?" Ucap Namira tegas dengan wajah menyeramkan.
"Iya aku paham." Jawab Arnav sambil fokus pada kemudi.
Pria itu menggenggam tangan Namira, menciumnya tanpa mengalihkan pandangan dari kemudinya.
.
.
__ADS_1
.