Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Bingung


__ADS_3

Namira benar-benar lelah dan emosi. Keesokan harinya saat ia ingin bersenang-senang, mertuanya mengunjunginya pagi-pagi. Namira, Arnav, Vita, perawat Sylvia, dan dokter Serkan sedang sarapan bersama.


"Selamat pagi, maaf saya menimbrung. Oh jadi ini atasan Namira di klinik? Omsetnya berapa sih kalo klinik? Tentu tidak sebesar rumah sakit atau mall ya?" Bu Santi kembali bersua. Serkan hanya tersenyum. Ia menatap Namira yang sudah nampak kesal.


"Ma, bicarakan yang lain saja." Arnav menyela.


"Ini asistennya Arnav? Cantik sekali kamu. Tidak ingin jadi model? Bayarannya tinggi lho!" Bu Santi kembali berkomentar.


"Ma, sudah, makan dengan tenang." Tegur pak Arya.


Vita hanya tersenyum.


"Anda siapa bu?" Tanya bu Santi pada Sylvia.


"Saya perawat." Jawabnya santun.


"Sekolah hanya untuk disuruh-suruh dan melakukan pekerjaan kotor, ya kan? Membersihkan luka, merawat orang sakit." Celetuknya.


"Namira sudah kenyang. Dokter, ayo kita rapat! Kita harus menambah ilmu agar banyak nyawa dapat ditolong. Mari perawat Sylvia. Oh Vita, apa kamu mau ikut? Kita upgrade otak kita!" Namira beranjak dan tersenyum paksa kepada rekan-rekannya. Mereka memahami dan beranjak pamit.


"Ma, dulu mama tidak begini! Sejak mama minder dengan keluarga besar papa, mama selalu mencari sasaran kekesalan mama. Mama ingin juga merendahkan orang supaya ada yg lebih rendah dari mama. Nyatanya semua ini membuat mama menjadi yang paling rendah." Tegas Arnav.


Bu Santi hanya diam.


"Mama jadi mengukur semua hal dari materi..Mama menyuruh Arnav mencari wanita sederhana agar mama bukanlah satu-satunya yang bisa direndahkan. Apa analisa papa salah? Seharusnya dinasti seperti ini dimusnahkan!" Pak Arya nampak emosi.


Ia mengajak bu Santi pulang. Arnav mencari keberadaan Namira. Ponsel gadis itu tidak diangkat. Ia pun menghubungi Serkan.


"Dimana Namira?" Tanya Arnav sambil berlari keluar hotel.


"Setelah curhat dia ke bandara. Dia berpamitan padaku dan yang lain. Dia akan menemui orang tuanya." Jelas Serkan.


Arnav memegang keningnya. Ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan.


"Menurutmu aku harus apa?" Arnav terdengar putus asa.


"Susul dia. Selesaikan masalah kalian." Saran Serkan.


Arnav mematikan ponselnya dan mencari tiket ke Pulau Delta.


"Apa begini perpisahan kita dengan Namira?" Serkan nampak frustasi.


Vita yang melihat penampilan Serkan mulai menaruh curiga. Ternyata Serkan menyukai Namira.


"Tenang pak! Kita bisa mengunjunginya dan bertemu lagi suatu saat." Perawat Sylvia memegang pundak Serkan.


"Dia sudah bersuami pak!" Celetuk Vita.


"Lalu? Saya menyukainya!" Hardik Serkan yang membuat Vita terdiam.

__ADS_1


"Dulu, sekarang menyukainya sebagai adik. Bukankah begitu pak?" Sahut Sylvia. Serkan tidak menjawab.


***


Arnav berlari di bandara dan mendapati pesawat baru lepas landas. Pantas saja ponsel Namira tidak aktif. Ia menyusul dengan penerbangan selanjutnya.


Selang satu jam, Namira tiba. Ia menggunakan taksi menuju rumahnya.


"Namira! Ada apa kemari?" Tanya pak Edi.


"Namira masih rindu kalian!" Rengeknya manja.


"Mana Arnav? Kamu sendiri?" Tanya pak Edi kembali.


"Dia masih rapat. Tidak apa." Jawab Namira.


Ia pun masuk dan tidur di kamar kesayangannya. Ia menghubungi teman-temannya dan janjian bertemu.


Selang dua jam Arnav tiba.


"Lho Arnav! Silahkan masuk!" Sambut pak Edi.


"Namira sedang pergi bersama teman-temannya. Kamu sampai menyusul kemari segala! Padahal baru selesai rapat ya?" Sambung pak Edi.


Arnav nampak bingung namun ia hanya tersenyum. Ia paham jika Namira tidak menceritakan apapun ke orang tuanya. Oleh sebab itu ia berencana menyusul Namira melalui nomor ponsel Ria dan meminta Ria tidak berbicara apapun soal pembicaraan mereka di ponsel. Arnav mengendarai mobilnya yang ia titipkan pada mertuanya selama ini.


"Namira, aku minta maaf. Aku tau mama salah. Aku serahkan selanjutnya padamu." Arnav menatap Namira memelas.


"Jadi kalau aku mau meninggalkanmu juga tidak apa-apa?" Namira menyelidik.


"Asal jangan itu." Pinta Arnav dengan tatapan tajam. Ia mulai menatap Namira dengan rahangnya yang tegas. Meminta haknya dengan harapan Namira luluh. Usai ritual panas mereka, Namira kembali dengan kesadarannya.


"Aku akan tetap di sini. Mas Arnav kembalilah ke Tidore." Tegas Namira.


"Kamu akan menjalani kehamilan sendiri?" Arnav masih tidak habis pikir.


"Iya." Jawab Namira datar.


"Kamu marah pada mama kenapa harus aku yang ikut menanggung?" Arnav bertanya sinis dan mulai emosi.


"Cintaku sudah menguap. Mas Arnav bahkan tidak membelaku." Namira menanggapi dingin.


"Mudah sekali cintamu menguap. Kamu istriku, tanggung jawabku. Kita kembali bersama ke Tidore. Kamu sendiri yang ingin merahasiakan kehamilan ini kan? Lebih baik tetap di sisiku. Kita hadapi bersama. Aku akan melindungimu dari mama dan orang-orang yang mengusikmu." Arnav memegang pundak Namira.


Gadis itu masih bimbang namun tidak dapat berbuat apapun.


Mereka ke bandara dan bermaksud langsung ke Tidore. Lika liku pernikahan yang sulit. Saat di bandara, Namira bertemu dengan sosok yang tidak asing.


"Namira! Kamu Namira!" Seorang pria menyapanya.

__ADS_1


Degh...


Kilatan memori mengisi kepala Namira. Pria itu adalah orang yang memberi luka.


"Permisi!" Pamit Namira.


"Tunggu! Aku mau menjelaskan!" Tegasnya dan mengunci pergerakan Namira.


"Jelaskan apa? Setelah delapan tahun baru mau menjelaskan? Selama ini kemana?" Namira mendongakkan kepalanya. Pertahanan pria itu mengendur. Namira memberanikan diri melangkah pergi.


"Namira, aku baru mau menyusulmu karena kamu agak lama." Ucap Arnav di ruang tunggu.


Gadis itu hanya diam.


"Ayo kita ke ruang tunggu yang lain. Atau ke resto di sana." Ajak Namira.


"Katakan ada apa." Pinta Arnav yang melihat gelagat tidak biasa pada Namira.


"Aku bertemu Bani. Sudahlah, ayo pergi." Ajak Namira lagi.


"Kenapa harus pergi? Aku akan melindungimu. Bilang saja aku suamimu." Saran Arnav.


Namira nampak belum siap memberitahu Bani. Ia masih ingin mendengar penjelasan dan segala hal tentang Bani.


"Besok saja. Ini tempat umum." Sahut Namira. Entah apa yang terjadi padanya. Ia merasa tak ingin statusnya diketahui oleh Bani.


Arnav menatap tak percaya. Apa benar istrinya sudah tidak mencintainya? Atau ada maksud lain yang disembunyikan Namira?


Arnav menatapnya kecewa.


***


Empat jam perjalanan dan keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Mereka tiba saat hari sudah larut. Setelah menbersihkan diri dan makan malam tanoa bicara, mereka menuju tempat tidur.


"Beritahu aku apa keinginanmu." Pinta Arnav.


"Aku bingung." Jawab Namira sambil membenamkan dirinya di dalam selimut.


"Aku mencintaimu, menyayangimu, dan ingat itu. Mungkin kamu kecewa denganku karena aku tidak sepintar Serkan ataupun semenyenangkan Bani. Tapi jikapun kamu memilih mereka, kamu belum mengetahuinya secara keseluruhan. Tidak ada yang sempurna dalam pernikahan. Suamimu baik, mertuamu tidak. Suami dan keluarganya baik, tapi kesulitan memiliki anak. Keseluruhan tak ada masalah, tapi finansial bermasalah. Pikirkan baik-baik." Arnav menutup pembicaraan mereka.


.


.


.


Dukung siapa nih gaes?

__ADS_1


__ADS_2