Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Descendants of the Sun


__ADS_3

Namira melihat Dilla dan seorang wanita cantik tinggi semampai. Tingginya setara dengan leher Arnav. Wanita itu berjalan mendekatinya dan menjabat tangannya.


"Saya Vita bu." Ujarnya. Namira membalas dengan menyebutkan namanya dan tersenyum. Mereka pun berangkat ke RSIA Permata. Sebelumnya Arnav sudah mengkoordinir beberapa orang untuk menyiapkan sumbangan serta parsel. Semua atas dasar gotong royong dan bukan atas nama pribadi.


"Wah, senang sekali kalian menjengukku rame-rame." Ujar seorang wanita yang diketahui bernama Cindy.


"Iya. Kehormatan juga di sini ada kepala cabang kita pak Arnav." Sambung Dilla.


"Wah Mas Arnav! Saya tadinya sudah bilang sama pak Harri jika sebentar lagi akan melahirkan. Tapi beliau bersikeras menyuruh saya ke Tidore." Ucap Cindy.


"Iya saya paham. Makanya karena kita semua sudah saling mengenal jadi diputuskan menjengukmu bersama-sama. Oh iya perkenalkan ini istriku, Namira." Jelas Arnav. Namira pun maju dan mengulurkan tangannya ke arah Cindy yang masih berada di atas kasur pasien. Wanita itu nampak heran dan mengamati Namira. Tak berapa lama kemudian ia tersenyum.


"Kamu nikah nggak bilang-bilang ya? Ngomong-ngomong, kita semua sudah saling kenal karena sudah lama di bank Az. Lantas anak barunya ditempatkan dimana?" Tanya Cindy pada Arnav.


"Mereka di bagian Teller dan Customer Service." Jawab Dilla sambil berdiri hendak ke ranjang bayi.


"Wah lucunya, cewek atau cowok Cin?" Tanyanya antusias.


"Cewek." Jawab Cindy sambil tersenyum senang.


"Oh iya, ini siapa?" Sambil menunjuk ke arah Vita.


"Perkenalkan saya Vita bu, bagian PR." Jawabnya sopan.


"Anak baru?" Tanya Cindy memastikan.


"Oh bukan bu, saya dari cabang Siantar." Jawabnya sopan.


"Boleh kugendong?" Tanya Arnav mengalihkan pembicaraan. Cindy pun mengangguk.


"Ayo Nav kejar tayang terus sampai berhasil." Goda Cindy sementara yang lainnya juga mendukung perkataan Cindy.


"Iya ini saya usaha terus Cin." Jawab Arnav tersenyum sambil melirik Namira. Gadis itu menjadi salah tingkah sedangkan Dilla menatap penuh selidik.


Namira merasakan pandangan Dilla sangatlah membuatnya tidak nyaman.


"Mas, kasihan bayinya kalau kita terlalu lama di sini. Lagipula beramai-ramai di sini juga kurang baik. Mungkin kita membawa bibit penyakit tanpa disadari." Terang Namira.


Mereka menatap Namira dengan heran.


"Oh maaf. Istriku bidan. Baiklah mari kita pulang." Ajak Arnav. Teman-teman yang lain pun mengangguk-angguk membenarkan ucapan Namira.


"Semoga lekas pulih ya, kami pulang dulu." Pamit Dilla.

__ADS_1


***


"Bayi sangat menggemaskan ya!" Seru Arnav di dalam mobil sambil mengemudikannya.


Namira memilih tidak membahas perihal bayi.


"Mas, mbak Dilla tatapannya seram sekali." Ujar Namira.


"Aku tidak memperhatikannya." Jawab Arnav sambil menggenggam tangan istrinya.


"Dia pernah menyatakan suka atau tidak sih mas?" Namira bertanya penasaran.


"Tidak pernah. Lagipula aku juga kurang paham alasannya tidak mencari pasangan lain sampai selama ini." Jelas Arnav.


"Cinta dalam hati ya." Celetuk Namira.


"Sudahlah, biarkan saja dia mau bagaimana. Nyatanya sejak kuliah dia tidak pernah macam-macam bahkan saat tau aku menyukai Novi. Lebih baik kita fokus menghadirkan bayi yang lucu seperti tadi." Goda Arnav sambil mencubit pipi Namira.


Gadis itu hanya diam.


"Setelah tamu mu pulang, kita harus lebih giat lagi." Ucap Aenav bersemangat.


"Bukankah sudah kesepakatan kita untuk menunda? Aku masih harus kuliah kan? Tentu jika lulus ujian masuk." Ucap Namira lirih.


"Oh, mas Arnav belum tau rasanya hamil ya! Mual muntah tidak karuan ditambah masih teganya menyuruhku melakukan perjalanan udara selama empat jam untuk ke Delta." Komentar Namira sengit. Ia sangat sebal jika ada orang yang seenaknya meremehkan apa yang dialami ibu hamil.


"Yasudah cuti saja." Celetuk Arnav kembali.Namira mendengus kesal.


"Kita pacaran dulu saja mas. Aku akan menandai kalender dan tolong tidak melebihi batas pada tanggal-tanggal yang aku tandai." Pinta Namira dengan tegas


"Oh, aku tidak janji ya!" Goda Arnav sambil tersenyum riang melirik Namira.


***


Pagi ini Namira bersiap wawancara di Klinik Sehat.


"Mas, sarapannya di meja ya? Aku berangkat duluan." Ucap Namira.


"Kira-kira selesai jam berapa? Datanglah ke kantorku. Motor barumu sudah siap sepertinya nanti siang." Timpal Arnav.


"Mas beli motor baru? Ya ampun! Baru kerja belum gajian malah sudah beli motor! Aku kan bisa pakai ojek atau naik bis?" Gerutunya.


"Masih mending aku belikan motor daripada mobil. Atau harus aku tukar mobil?" Ucap Arnav gemas sambil mencubit pipi Namira.

__ADS_1


Gadis itu mendengus dan berangkat berjalan kaki menuju halte bis di dekat perumahannya.


Hanya butuh waktu lima belas menit untuk tiba di klinik.


"Maaf permisi, saya Namira yang akan wawancara." Ucapnya pada seorang satpam.


"Baik mbak, akan saya antar ke ruangan dokter Serkan." Sahut pak Satpam


Tak lama kemudian Namira mengetuk pintu dan mendapati seorang dokter berwajah dingin sedang menatapnya.


"Silahkan masuk."


Namira pun masuk dengan perasaan tidak menentu.


.


.


.


.


.


Cast dulu lah ya biar greget bacanya.



Arnav Dirga Raiza





Namira Inggrid




Hm.. siapa lagi ya?

__ADS_1


Gimana? Kurang cocok nanti diganti deh. haha.


__ADS_2