
Pagi ini aktivitas berlangsung seperti biasa. Hanya saja Namira merasa badannya cepat lelah. Ia ke klinik dengan mobil sedangkan Arnav ke kantor dengan motor. Kasak kusuk terdengar di kantor mengingat Arnav selaku kepala cabang malah datang dengan kendaraan roda dua beberapa hari ini.
"Kasihan pak Arnav yang tampan. Apalagi di bulan September ini terkadang hujan. Istrinya memang egois." Beberapa karyawannya menggosip.
Namun Arnav tidak ambil pusing. Saat siang ia segera menghubungi Namira menanyakan keadaannya. Kondisi berbadan dua seperti ini membuat Arnav ekstra khawatir.
"Sudah sampai di rumah? Minta saja bu Ijah ke rumah jika pekerjaan rumah menumpuk." Ucap Arnav melakukan panggilan video pada istrinya.
"Sudah tidak apa-apa. Aku akan memesan makanan lalu istirahat." Jawab Namira lelah.
Tak lama Dilla menghampiri Arnav ke ruangannya dan itu masih nampak oleh Namira yang belum mematikan panggilan. Karena kesal, ia segera mengakhiri pembicaraannya dengan Arnav. Terlintas ucapan mertuanya yang mengatakan jika di bank akan banyak wanita cantik. Hal itu membuatnya bersedih dan menangis sendirian di rumah hingga tertidur.
Arnav pulang tepat jam lima sore. Ia masuk menggunakan kunci cadangan karena istrinya tak kunjung membukakan pintu. Ia pun bergegas mandi saat mengetahui Namira masih tertidur. Gadis itu terbangun mendengar suara air di kamar mandi. Ia paham jika Arnav sudah kembali. Beranjak dari tempat tidur, Namira menuju kamar mandi tamu untuk membersihkan dirinya.
Arnav keluar dari kamar mandi dan mendapati Namira sudah tidak berada di atas kasur. Ia mengambil pakaian di lemari dan tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.
"Namira! Ka.." Belum sempat Arnav melanjutkan ucapannya, gadis itu mencium bibirnya dan mendesak meminta lebih. Namira benar-benar menunjukkan sisi yang sangat berbeda.
"Apa ini hormon kehamilan? Aku tidak pernah melihatnya seperti ini." Batin Arnav. Pria itu tak bisa berkutik. Namira mencumbu apapun yang ia mampu raih. Arnav pun tidak dapat bertahan dan menyambutnya dengan girang.
"Apa ini aman?" Tanya Arnav lirih. Namira hanya mengangguk. Hawa panas tercipta hingga malam menyambut.
"Ayo kita makan." Ajak Arnav yang masih berbaring polos di sebelah istrinya.
"Pesan makanan saja. Kita tidak usah kemana-mana." Namira berucap sambil menutup matanya.
Pemandangan yang membuat Arnav sangat bahagia. Mimpi apa dia semalam bisa mendapati sosok istrinya yang sangat mengagumkan. Kini mereka sudah duduk di meja makan dengan kimono handuk.
__ADS_1
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Arnav sedikit hati-hati. Apapun bisa menyinggung perasaan istrinya dengan cepat saat ini.
"Aku baik." Jawab Namira singkat.
"Apa aku melakukan kesalahan?" Arnav memandangi wajah gadis itu lekat.
"Coba pikirkan sendiri." Sahut Namira jutek.
"Sayang, aku sudah berpikir dan tidak menemukan jawabannya. Jika sudah begitu bukankah lebih baik menyelesaikannya sesegera mungkin?" Arnav berkata lembut walau sebenarnya sudah gemas dengan kelakuan istrinya.
"Baiklah. Katanya ruangan mas Arnav tidak boleh dimasuki wanita? Apa Dilla itu waria?" Namira memotong lauknya dengan keras hingga membuat Arnav menatap ngeri.
"Iya memang. Tapi terkadang dia masuk sembarangan." Arnav menjelaskan hati-hati. Ia merutuki panggilan videonya tadi siang yang berujung petaka.
"Kalau begitu siapa yang salah?" Namira mengintrogasi dengan tatapan tajam.
"Salah! Mas Arnav yang salah! Seharusnya mas mengunci pintu dari dalam!" Gerutu Namira.
Arnav menatapnya heran. Apa yang akan dipikirkan karyawannya jika ia mengunci pintu dan selalu menguncinya padahal ia berada di dalam ruangan?
"Oke baiklah." Arnav mengalah karena tidak ingin merusak emosi Namira.
Mungkin dengan begini dia bisa agresif terus setiap hari. Arnav bergumam sambil tersenyum.
***
"Mas, tolong hidupkan laptopnya. Sekarang matakuliah Farmakoepidemiologi. Saatnya mencatat!" Namira nampak bersemangat. Ia juga menyuruh Arnav duduk di sebelahnya walaupun pria itu sibuk dengan ponselnya. Baru setengah jam dosen menjelaskan, Namira sudah tertidur di pundak suaminya.
__ADS_1
"Baiklah, sepertinya aku harus lanjut kuliah mengingat sepertinya otakku sangat mampu menampung banyak hal." Arnav bergumam sambil memmbaringkan Namira di atas sofa dan ia melanjutkan mencatat hal-hal penting.
Arnav memperhatikan Namira dengan sangat intens.
"Aku senang kamu sudah mulai ekspresif. Apalagi kamu juga bisa terang-terangan cemburu. Terima kasih nak, sudah mengubah mamamu! Kita satu tim ya!" Arnav berbicara sendiri sambil membelai perut Namira.
Hujan membasahi wilayah itu. Ketika perkuliahan selesai, ia menggendong Namira ke kamar lalu mematikan lampu kamar. Baru saja ia hendak berbaring, Namira bangun dari tidurnya.
"Ayo lakukan lagi." Namira berkata dengan mantap dan ini jelas membuat Arnav keheranan.
"Dengan senang hati!" Ia berkata penuh senyum dan mulai mengunci tubuh Namira.
Hujan tak lagi terasa dingin. Namira yang sudah cukup lelah akhirnya memejamkan matanya kembali.
"Aku hebat kan? Bagaimana?" Ia bertanya dengan nafas sedikit ngos-ngosan.
"Sangat hebat!" Arnav berusaha memuji dengan tulus.
"Jadi walaupun aku sudah tidak cantik, tapi aku hebat di ranjang!" Ia menatap Arnav dengan senyum manisnya.
"Siapa bilang? Kamu akan selalu cantik apalagi saat hamil seperti sekarang. Memangnya ada apa? Ingat, jangan terlalu memasukkan semua komentar ke dalam hati. Itu tidak bagus untuk perkembangan bayi." Arnav menasihati.
"Jadi orang-orang di kantor tidak ada yang cantik?" Namira berharap jawabannya adalah tidak namun pria itu malah berkata, "Banyak yang cantik tapi tidak lebih cantik darimu." Namira mencoba bersikap biasa saja walaupun sebenarnya ia sedikit kesal.
.
.
__ADS_1
.