
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Namira dan bayinya tertidur. Arnav pun membersihkan diri. Ia bertanya pada dokter kira-kira kapan istri dan anaknya boleh pulang.
"Jika besok ibu dan bayinya sudah BAB, maka keduanya sudah boleh pulang. Tentunya juga setelah visit dokter anak." Jawab dokter kandungan.
Pagi telah tiba. Namira nampak mencoba menyusui bayinya. Arnav justru tidur dengan nyenyak di sofa karena bayinya bahkan tidak menangis sama sekali sepanjang malam.
"Selamat pagi anak papa yang hebat! Oiya Namira, kita belum memberinya nama. Aku sudah mempersiapkannya. Bagaimana dengan Armi Raiza? Itu kepanjangan dari Arnav dan Namira." Jawab Arnav.
"Boleh mas. Oiya, aku akan ke klinik mengurus cuti hamilku. Mulai sekarang aku akan cuti tiga bulan." Jawab Namira tenang.
"Ya ampun! Biar aku saja yang mengurusnya." Cegah Arnav.
"Tidak usah. Aku khawatir mereka belum mempersiapkan dokter Alvin untuk menggantikanku. Jika itu terjadi, maka aku akan bekerja hari ini. Setidaknya hanya hari ini." Tegas Namira.
"Bagaimana jika Armi menangis?" Arnav mulai bingung.
"Gendong saja mas. Ini akan aku coba pompakan asi. Walaupun masih sedikit tapi itu cukup baginya. Lambungnya baru sebesar biji kelereng." Jawab Namira.
Arnav merasa kesal dengan keputusan Namira. Bagaimana bisa ia lebih mengutamakan pekerjaan daripada anaknya.
"Mas kan kepala cabang, mintalah libur sehari ini. Kemudian jangan membawa siapapun masuk ke ruangan ini sebelum mereka mensterilkan diri mereka. Jangan biarkan siapapun menyentuh Armi sebelum cuci tangan. Tidak ada juga yang boleh menciumnya. Paham kan mas?" Namira berkata seolah mengancam. Arnav pun hanya mengangguk.
***
Namira berangkat menggunakan taksi.
Sementara Arnav masih menatap Armi. Ia mencoba menggendong bayinya sambil sarapan. Ia masih kaku untuk menggendong. Tiba-tiba tangan Arnav basah.
"Armi pipis ya?" Arnav berucap seorang diri dan mulai mencari cara mengganti popok lewat internet. Ia pun sibuk mencari perlak dan popok yang baru. Memang bayinya tidak langsung dipakaikan diapers agar mengetahui kecukupan asi yang diberikan. Berhubung Arnav terlalu lama melihat video tersebut, Armi pun menangis. Arnav semakin panik dan meminta perawat untuk datang.
Tak lama berselang, Armi berhenti menangis setelah perawat mengganti popoknya. Arnav menghubungi Serkan.
"Halo." Sapa Serkan.
"Aku minta tolong dengan teramat sangat, suruh Namira kembali ke rumah sakit. Armi menangis dan aku tadi tidak paham bagaimana harus bersikap. Seharusnya kemarin aku belajar cara mengurus bayi." Cerocos Arnav frustasi. Kali ini Armi hanya mengerjap-ngerjapkan matanya di atas tempat tidur bayi.
__ADS_1
"Tunggu, aku tidak paham. Aku juga belum bertemu Namira hari ini. Kurasa dia di ruangannya. Armi siapa?" Tanya Serkan bingung.
"Haduh! Armi itu anakku dan Namira." Jawab Arnav menghela nafas.
"Namira kapan melahirkan? Sejak kemarin ia masih bekerja." Sahut Serkan yang semakin tak paham.
"Tadi malam. Tolong cepat ambil kebijakan selaku direktur klinik. Apa mau kulaporkan karena menyuruh pegawai pasca melahirkan bekerja?" Ancam Arnav. Serkan langsung bergegas ke ruangan Namira. Gadis itu menggunakan dress yang menyamarkan perutnya sehingga perawat Sylvia mengira Namira belum melahirkan.
"Namira! Aduh! Kamu benar-benar profesional dan saya hargai itu. Sekarang kembalilah ke rumah sakit. Kamu seperti punya sembilan nyawa. Kamu pikir kamu kucing? Cepat saya antar ke rumah sakit. Daripada kamu pingsan di sini." Omel Serkan dan menarik tangan Namira.
"Tunggu. Ada apa ini? Lalu bagaimana dengan pasien di luar dok?" Tanya Sylvia.
"Bu Sylvia, panggil dokter di UGD dan suruh kemari. Lalu hubungi dokter Alvin segera." Perintah Serkan. Sylvia hanya menurut sekalipun belum memahami kondisi yang terjadi.
"Saya antar! Ayo bergegas." Seru Serkan.
"Pasienmu bagaimana?" Tanya Namira.
"Anak internship bisa mengurusnya. Tadi ada satu yang mendampingi saya." Jawab Serkan.
Namira menghela nafas. "Saya tidak apa-apa. Tadi saya bermaksud menyampaikannya sepulang jam kerja." Sambung Namira.
"Salah dia sendiri yang tidak mau belajar. Dia hanya sibuk dengan keperluan-keperluan bayi dan tidak berpikir sampai bagaimana merawatnya." Namira menjawab dengan tenang.
"Kalian ini ya. Seharusnya kamu juga mengambil cuti sebulan sebelum melahirkan dan dua bulan setelahnya. Itu akan lebih aman daripada mengambil langsung tiga bulan. Untung saja melahirkan normal dan cepat. Bagaimana jika sesar dan butuh pemulihan? Dimana saya bisa mendapat penggantimu secara mendadak seperti sekarang?" Keluh Serkan.
"Maaf dok. Tapi dokter Alvin sudah siap kok. Karena saya bilang HPL saya pada beliau dan dia sudah menyiapkan diri." Sambung Namira.
Serkan berdecak tak paham.
***
Mereka tiba di rumah sakit dan nampak Arnav sedang menonton televisi dengan posisi bersantai. Sedangkan Armi sedang tertidur.
"Kamu memanggilku padahal disini sedang santai." Gerutu Namira.
__ADS_1
"Jangan salah, Armi menangis berkali-kali. Dia pup, pipis, haus, itu berulang kali. Baru saja aku selonjoran di sini." Protes Arnav karena dianggap hanya bersantai.
"Hahaha! Kalian lucu sekali! Dimana Armi?" Tanya Serkan penasaran. Ia menuju box bayi dan mendapati bayi mungil tertidur.
"Imut sekali." Ucap Serkan.
"Makanya cepat menikah dan punya anak!" Ejek Arnav.
"Sombong sekali. Punya anak tapi tidak bisa merawat. Lalu apa hebatnya?" Balas Serkan.
"Bukan tidak bisa, tapi belum bisa. Sudah ayo ngopi dulu. Aku butuh me time" Ucap Arnav. Mereka berdua menuju cafe rumah sakit sedangkan Namira membersihkan diri dan menemani Armi.
***
"Istrimu punya sembilan nyawa. Menakutkan." Serkan menyeruput kopinya.
"Entahlah. Dia itu datar, diam, susah dimengerti." Balas Arnav.
"Sepertinya dia ingin kamu peka. Contohnya saja perihal mengurus bayi. Seharusnya dari kemarin kamu mempelajarinya. Bayi bukan binatany yang cukup kamu belikan kandang dan pakaian." Terang Serkan.
"Iya aku paham. Kamu pun kalau tidak menghadapi kenyataan langsung juga pasti tidak akan terampil. Teori berbeda dengan praktek." Sahut Arnav. Mereka pun beralih dengan minuman mereka masing-masing sekaligus memesan makan siang.
***
Dokter anak mengunjungi kamar Namira dan ia sudah diperbolehkan pulang. Satu minggu lagi mereka harus kontrol. Tentu saja Namira merasa senang. Ia menghubungi bu Ijah.
"Halo bu, apa ibu sudah membersihkan rumah saya hari ini?" Tanya Namira.
"Ini baru selesai bu. Maaf saya baru tiba kemari jam sebelas." Ucap bu Ijah.
"Tidak apa bu. Terima kasih. Besok tolong datang lagi ya. Saya akan menggaji bulanan. Namun jika ibu membutuhkan harian maka saya persilahkan." Jelas Namira.
"Saya harus bekerja penuh waktu bu?" Tanya bu Ijah.
"Setengah hari saja saya rasa cukup bu. Ibu bisa datang pagi sampai siang, atau siang sampai sore. Jika tidak memungkinkan bisa sore sampai malam." Namira memberi penjelasan. Bu Ijah pun menyanggupi karena hal itu tidak mengganggu jadwalnya untuk membersihkan rumah lainnya.
__ADS_1
.
.