
"Tidak perlu menggoda seperti itu mas. Saya tidak akan tergoda!" Ketus Namira.
"Apa sebentar lagi tamu bulananmu datang?" Arnav mencoba bertanya dengan hati-hati.
"Datang atau tidak itu bukan urusan laki-laki!" Jawabnya lagi dan ia segera membayar pesanannya.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju Hotel X, Y, dan Z. Setelah mengitari ketiga hotel tersebut akhirnya pilihan jatuh ke hotel Y.
Namira nampak sangat lelah karena ia bahkan belum mandi.
"Mas, sekarang paham kan bagaimana posisi saya setelah tadi mbak Prita mengajukan permintaan yang sama?" Namira membuka percakapan saat keduanya berjalan di pinggir pantai yang terletak di belakang hotel Y.
"Ya saya paham bagaimana rasanya. Saya minta maaf." Arnav menatap mata Namira dan menggenggam tangan gadis itu sebagai permohonan maaf.
"Apa mungkin jika mbak Prita memberikan penawaran seperti mas Arnav kepada saya maka mas mau berperan sebagai pacar mbak Prita?" Namira masih mencoba mencari tau isi hati Arnav.
"Saya tegaskan sekali dan terakhir kalinya pada kamu bahwa itu tidak akan mempengaruhi keputusan saya untuk menolak." Jawab Arnav mantap.
Namira berusaha melepaskan genggaman tangan Arnav.
"Lantas menurut mas kenapa saya menerima setelah ada penawaran-penawaran dari mas Arnav?" Lagi-lagi gadis itu mengajukan pertanyaan yang membuat Arnav harus tetap memasang wajah serius.
"Kita pulang sekarang." Tiba-tiba Arnav berjalan mendahului Namira dan menuju parkiran mobil.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Hingga akhirnya tiba di rumah Namira, Arnav mengetuk pintu dan berpamitan pulang pada orang tua calon istrinya.
Di mobil menuju ke rumahnya, Arnav masih terheran-heran dengan pertanyaan-pertanyaan Namira.
__ADS_1
"Apa aku kurang pintar? Atau aku salah sangka? Aku tidak ingin menjawab pertanyaan itu karena takut jika prediksiku benar. Jika aku adalah Namira dan berhadapan dengan Prita yang posisinya seperti aku, maka artinya Namira tidak mencintai aku sedikit pun. Penawaranku diterima karena ia memang sangat membutuhkannya. Sebatas itu saja." Pria itu bergumam sendirian hingga tiba di rumah dan merebahkan tubuhnya di kasur.
Di sisi lain, Namira mendengus kesal dalam kamarnya. Setelah mandi sambil memikirkan seluruh kejadian hari ini, ia masih tetap dongkol.
"Harusnya dia mikir kenapa aku menerima penawarannya menikah. Jelas saja aku punya sedikit rasa padanya. Dasar om-om tiga puluhan!" Ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur.
***
Tanggal dua April. Jadwal bekerja masih berlangsung seperti biasa. Sepulang kerja, Namira meminta Firda datang ke kantornya menggunakan bus lalu pulang dengan motornya. Namira akan pulang bersama Arnav namun ia harus berjalan sejauh seratus meter terlebih dahulu dan belok kiri agar tidak ketahuan siapapun.
"Namira, kasihan adikmu kalau setiap hari harus seperti itu. Bagaimana kalau mulai besok pagi saya jemput?" Tawar Arnav sambil mengemudikan mobilnya menuju percetakan undangan. Saat di hotel kemarin, mereka memutuskan menikah tanggal dua puluh karena ruangan resepsi di hotel tersebut sedang lowong di tanggal itu. Arnav juga sudah memberi kabar pada keluarganya. Asalkan itu weekend, kemungkinan seluruh keluarganya dapat hadir.
"Saya naik bis saja. Nanti saya turun di halte Pemuda kemudian jalan kaki sampai di kantor." Jawab Namira santai.
"Memangnya kenapa kalau semua tau kamu berangkat dan pulang dengan saya? Nanti bilang saja bertemu di jalan atau sedang tinjau prospek bersama." Timpal Arnav dengan nada sedikit kesal.
"Karena saya tidak suka dia!" Tegas Arnav dengan nada membentak yang sontak membuat Namira terkejut.
"Hah? Tidak suka? Saya tidak salah dengar?" Namira masih mencoba mengejek Arnav dengan nada bicaranya yang dibuat-buat.
"Sudah cukup! Saya tidak mau tau kamu suka atau tidak dengan saya! Simpan perasaanmu sendiri! Saya hanya butuh kamu bersama saya!" Arnav kembali membentak lalu memarkirkan mobilnya di kiri jalan. Ia mengatur nafasnya sementara Namira masih berusaha mencerna semua perkataan Arnav.
"Saya kembalikan saja uangnya! Saya tidak bisa menikah dengan laki-laki yang bahkan tidak peduli perasaan saya. Mas pikir semua karena uang? Mas kira saya tidak mampu mencari uang sejumlah itu seumur hidup saya? Yang saya perlukan hanya bekerja dan bekerja!" Ia kemudian turun dan mencoba mencari taksi melalui ponselnya. Arnav masih terdiam di mobil mencerna kata-kata Namira. Ia terus memperhatikan wanita itu hingga ia menaiki tumpangan barunya.
***
Sesampainya di rumah, mamanya menanyakan perihal undangan. Namira mencoba bersikap tenang.
__ADS_1
"Ma, hari ini kami belum jadi ke percetakan. Jalanan macet dan kami capek." Ia mencoba mencari alasan.
"Tapi kenapa tidak pulang bersama Arnav?" Mamanya masih bertanya penuh selidik.
"Mobilnya sedang bermasalah. Jadi Namira pulang duluan." Jawabnya asal.
"Namira, kalau menjelang pernikahan beberapa calon pengantin bertengkar, itu wajar. Lebih baik bertengkar sebelum pernikahan daripada setelahnya. Terlebih karena menikah adalah menyatukan dua karakter. Makanya pengenalan sangat penting." Nasihat mamanya.
"Kami tidak bertengkar seperti yang mama khawatirkan." Namira menjelaskan sambil tersenyum.
"Mama cerita ke ibu-ibu arisan dan mereka senang sekali. Sebelum menikah sebaiknya diadakan doa bersama. Mereka antusias membantu memasak. Tidak perlu mewah yang penting doa nya." Ungkap mamanya panjang lebar.
"Kira-kira butuh biaya berapa ma?" Tanya Namira.
"Soal itu biar mama yang urus. Anak perempuan mama satu-satunya mau menikah bagaimana mungkin mama tidak memberi hadiah yang istimewa?" Mamanya nampak tersenyum senang.
"Bagaimana jika aku tiba-tiba membatalkan ini semua? Akan seperti apa reaksi mama dan betapa malunya keluargaku di hadapan semua orang?" Namira bergumam di dalam hatinya.
Arnav masih mencerna kata-kata Namira. Ia menemui Iwan di mini market dan memintanya membuatkan segelas kopi. Mereka duduk berdua di dekat jendela tempat dimana muda-mudi biasa menikmati makanan instan di mini market tersebut.
"Mas Arnav kenapa? Sudah ada calon istri sebaiknya curhat dengan dia." Saran Iwan sambil menatap wajah bosnya yang ditekuk.
"Wan, kamu adalah teman sekaligus keluarga yang paling dekat dengan saya di kota ini." Arnav berkata sambil menatap Iwan yang mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Arnav.
Memang Iwan sudah dianggap keluarga sendiri oleh Arnav. Ia adalah seorang anak yatim piatu yang ditemuinya di kota ini. Dulu Iwan tinggal di panti asuhan hingga SMA kemudian bekerja bersama Arnav selama tiga tahun. Seringkali Arnav menawarkannya melanjutkan kuliah tetapi Iwan sungkan karena ia sudah diijinkan tinggal di mini market dan mendapat gaji yang pantas.
"Iya kenapa mas?" Iwan kembali bertanya dengan nada khawatir.
__ADS_1
"Jika seorang wanita diberi uang untuk bersandiwara kemudian ia setuju lalu ketika diungkit ia berkata itu bukan karena uang, menurutmu apa alasan wanita itu setuju?" Arnav bertanya dengan nada serius yang membuat Iwan gugup.