
"Besok ikut aku ke rumah makan Segara Laut sepulang kerja." Ucapnya. Namira hanya diam tidak peduli.
"Namira, bagaimana kabarmu?" tanya Pak Pratama yang datang bersama Adrian.
Wajah Namira langsung sumringah.
"Pak Pratama.. Kapan saya akan pindah lagi ke cabang?" Tanyanya sedikit sedih.
"Kalau itu tentu tidak bisa. Tapi kami datang membawa solusi. Kamu akan dapat teman. Namanya Siska." Ucap pak Pratama sambil tersenyum.
Namira hanya membalasnya dengan senyuman.
"Menurutmu Arnav bagaimana?" tanya Adrian.
"Biasa saja." Jawab Namira singkat, terlebih karena Arnav ada di ruangan itu juga.
"Kenapa tidak bilang ke mereka kalau aku galak?" Arnav menyela.
Namira tidak menanggapi karena ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan dari Eka.
"Hai Namira! sudah dapat undangan kan?"
"Iya. Aku bisa datang kok nanti malam."
"Aku tunggu ya. Aku tidak mengadakan pesta megah dengan banyak tamu. Jadi kamu harus datang."
"Iya. Sekali lagi selamat atas pernikahanmu. Apa kamu mengundang dokter Dimas?" tanyanya hati-hati.
"Tentu saja! Tenang saja. Ini kan standing party. Kamu tinggal pergi saja jika bertemu dia."
Namira tampak panik. Setelah panggilan diakhiri, ia menelpon Arini.
"Rin, kamu bisa menemani aku ke pernikahan Eka? Acaranya nanti malam. Jadi pulang kerja nanti kamu tunggu aku di cafe." Ajak Namira.
"Haaa aku sudah sampai rumah. Hari ini pulang cepat. Kalau kembali ke kotamu memakan waktu satu jam."
"Iya aku paham. Kasian juga kalau kamu harus bolak balik. Besok juga harus tetap berangkat kerja". Akhirnya Namira berpikir siapa yang akan ia ajak. Ria tidak mungkin karena ia akan menggantikan kelas Namira malam ini. Ia nampak berpikir keras. Jam sudah menunjukkan pukul 16.30.
"Dimana alamat pernikahan temanmu?" Arnav buka suara sambil membereskan file di atas mejanya.
"Oh, di gedung Kirana mas."
"Gedungnya kecil tapi tamannya cukup luas. Itu searah rumahku. Apa kamu tau lokasinya?"
"Belum tau mas. Nanti aku cari di peta ponsel." Namira mulai membuka-buka aplikasi di ponselnya.
"Aku saja yang temani bagaimana?" Arnav bertanya dengan nada datar sambil memasukkan beberapa berkas ke dalam tasnya.
__ADS_1
"Kalau tidak repot ya tidak apa-apa sih mas. Tapi nanti saya jadi buron lagi di kantor." Jawab Namira asal.
"Untuk masalah itu saya sudah tau pelakunya. Tapi sebaiknya saya diam saja. Lalu untuk mereka yang salah paham, sepertinya sudah saya jelaskan dan justru mereka sungkan sama kamu saat ini." Jelas Arnav sambil menatap Namira. Wanita itu sedikit risih dengan tatapan tajam bosnya.
"Kamu ikuti mobil saya. Sampai di rumah saya, parkirkan motormu di garasi. Kita pergi dengan mobil." Terang Arnav. Namira nampak sembunyi-sembunyi dan menyuruh Arnav mengecilkan volume suaranya.
"Tapi besok sore saya yang minta bantuanmu. Gantian."
"Mau ngapain sih? ke Segara Laut kan?" tanya Namira dengan wajah polosnya.
"Ya menurutmu kesana mau beli kulkas?" Jawab Arnav dengan entengnya sambil berjalan di belakang Namira menuju tangga. Gadis itu menghela nafas.
"Iya berarti kita makan kan? Acara apa? Kalau soal makan memakan saya ahli dan hobi." Ujar Namira tanpa menoleh ke arah Arnav yang berada di belakangnya. Ia berhenti ketika Reza menyapanya dan itu sontak membuat kepalanya menabrak dada Arnav.
"Namira, ayo ikut karaoke." Ujar Reza.
"Kalian tiap minggu karaoke? kaya sekali." Komentar Namira.
"Eh ada pak Arnav. Namira nampak cebol kalau kalian berjarak seperti itu." Ujarnya tertawa. Baik Namira maupun Arnav tidak ada yang berkomentar hingga Reza pergi dari pandangan mereka.
***
Mereka tiba di sebuah perumahan dan berhenti di depan rumah minimalis berwarna kuning. Rumah itu memiliki beberapa kaktus di halaman depannya dan dengan pagar berwarna putih.
"Masukkan motormu ke garasi." Perintah Arnav. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan mobil. Setibanya di lokasi, mereka mengambil snack dan mencari tempat duduk yang ada. Pesta ini adalah standing party sehingga jumlah tempat duduknya tidak banyak. Pengantin akan menyapa para tamu satu per satu.
"Hai Namira! bagaimana kabarmu?" Sapa dokter Andra.
"Baik dok." Jawabnya tersenyum.
"Eh Namira! Lumayan berubah sekarang ya penampilannya." Komentar dokter Dimas. Arnav tiba-tiba berdiri dan memberi senyum pada kedua dokter tersebut.
"Oh, datang berdua?" komentar dokter Dimas. Keramaian yang muncul mengundang pengantin untuk datang.
"Hai. Ya ampun! Namira! kamu tambah kurus sekarang." Ucap Eka.
"Namira memberi selamat pada Eka dan suaminya, begitu pula dengan Arnav.
"Semoga lekas menyusul ya kalian berdua." ucap Eka.
Namira langsung menggelengkan kepalanya namin Eka tidak peduli.
"Dok, pacarmu mana?" tanya Eka pada dokter Dimas.
"Dia sedang riset. Sekarang sedang mencari gelar profesor. Aku bangga banget sama dia." Jawabnya setengah gugup seakan ada yang disembunyikan.
"Wah keren ya. Semoga kepandaiannya membantunya untuk lebih dewasa." Komentar Eka.
__ADS_1
"Silahkan menikmati hidangannya." Ucap suami Eka. Mereka hanya mengangguk-anggukkan kepala.
Namira masih menatap dokter Dimas yang hendak mengambil makanan hingga Arnav menyadarkannya.
"Kamu mau makan disini? Saya kurang berselera dengan menunya."
"Oh, saya tidak masalah sih kalau tidak makan." Jawab Namira.
"Nanti kamu tambah kurus seperti triplek. Ayo cari makan di tempat lain saja." Ajaknya. Namira hanya menurut.
Mereka menuju sebuah rumah makan.
"Duh, over budget nih. Udah nyumbang nikahan, sekarang makan di luar." Gumamnya.
"Saya yang bayar. Kan saya yang ngajak." Terang Arnav.
"Besok juga makan. Wah kaya banget deh mas nya." Celetuk Namira.
"Kita ini ke nikahan pakai baju kerja. Mas Arnav mendingan sih bisa ganti gaya dikit dengan menekuk lengan kemeja sampai ke siku." Komentar Namira. Orang yang dikomentari hanya diam saja membaca buku menu.
"Mau makan apa?" tanya Arnav.
"Saya bebek goreng saja. Biar lemaknya nambah. sama nasi uduk satu. Kemahalan nggak mas?" Namira bertanya dengan berbisik.
"Mbak, saya pesan nila bakar nasi uduk satu tambah bebek goreng nasi uduk satu. Minumnya jeruk hangat dua ya mbak." Arnav memesan tanpa mempedulikan Namira. Gadis itu tak henti-hentinya menatap Arnav kesal.
"Mas, siapa yang menutup pintu besi itu?" tanya Namira membuka percakapan.
"Misalnya kamu tau lalu mau apa?" Arnav berbalik bertanya.
Namira diam dan nampak berpikir.
"Oiya, teman-temanmu kekanak-kanakan sekali." Arnav menimpali.
"Maksudnya?" Namira tidak paham.
"Sikapnya yang pamer, sikapnya yang merasa lebih unggul, benar-benar kekanakan. Padahal itu semua tidak ada apa-apanya jika dibandingkan kehidupan orang lain di luar negeri atau di ibu kota." Lanjut Arnav.
"Ya kami kan usia 20 an mas. Kalau mas Arnav kan 30 an. Jelas beda mas." Jawab Namira.
"Kalau kamu pribadi apa yang diinginkan? Melihat orang membanggakan gelar lalu ikut-ikutan atau melihat orang menikah lalu merasa harus menikah?" Arnav bertanya dan menatap Namira tajam sambil menyeruput jeruk hangatnya.
"Hm.. Saya pingin lanjut kuliah mas. Harapannya tidak ada lagi yang merendahkan. Kemudian punya usaha bagus atau bekerja di tempat yang terpandang. Menikah juga dengan orang yang baik. Kata kuncinya adalah baik. Dengan begitu bisa sama-sama membangun keluarga bermartabat." Terangnya.
Arnav membalas dengan tersenyum dan mereka menikmati makan malam tersebut.
***
__ADS_1