Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Kesibukan Yang Menjauhkanmu


__ADS_3

Namira merasa begitu sibuk dan lelah. Bahkan di hari Minggu pun ia harus membantu menangani persalinan dan membersihkan rumah. Di saat Arnav meminta waktu berdua hanya untuk makan malam di luar, Namira merasa berat. Sejak bulan April pernikahannya hingga awal Juli ini mereka hanya melakukan ritual sepasang pengantin sebanyak dua kali. Betapa hebatnya Arnav menahan semua di saat dirinya mengharap lebih. Ia juga kerap merasa kesepian bahkan untuk sekedar bercerita saja Namira tidak dapat diandalkan.


"Ini hari Minggu. Ayo kita jalan-jalan membeli kebutuhan makanan. Kita juga bisa makan siang di luar." Ajak Arnav berusaha mencairkan suasana hening di rumah mereka yang sudah terjadi sebulan ini. Sedangkan rutinitas padat Namira telah berlangsung selama hampir dua bulan.


"Aku harus menjemur pakaian dan mencuci selimut. Setelah itu aku akan mengurus artikelku kemudian menyetrika pakaian yang sudah kering." Tolak Namira sambil mengambil keranjang pakaian kotor.


"Baiklah, aku tunggu." Jawab Arnav dingin.


Namira bergegas memasukkan cucian ke mesin cuci kemudian mengambil laptopnya. Mesin cuci telah mati secara otomatis dan ia pun pergi menjemur. Langkahnya kembali ke dalam rumah melanjutkan mengetik.


Entah apa yang membuat Arnav marah dan kesal, ia menghampiri Namira dan membanting laptop tersebut dengan kasar. Untungnya laptop tersebut hanya mati karena baterainya terlepas dan kondisi fisik laptop tersebut tidak pecah.


"Mas Arnav!" Ucap Namira terkejut. Ia mengambil baterai tersebut dan hendak memasangnya namun tangannya dihempas oleh Arnav.


"Mas Arnav kenapa?" Tanya Namira bingung.


"Kamu sadar tidak aku butuh kamu? Ini juga sudah hampir jam makan siang dan kamu masih sibuk dengan duniamu sendiri! Sudah berapa lama seperti ini? Kamu sadar tidak? Kamu bekerja seperti kuda, apa kamu pikir aku tidak bisa memberimu makan? Apa aku tidak bisa mencukupi semua kebutuhanmu?" Ucap Arnav dengan emosi sekaligus bernada tinggi. Ia menatap Namira tajam dan penuh kekesalan.


"Jangan salahkan aku kalau selingkuh atau lebih nyaman di luar rumah!" Ancam Arnav sambil mencengkram pergelangan tangan Namira.


"Maaf, aku minta maaf." Jawab Namira sambil menunduk. Ia sadar jika ia sangat bersalah. Obsesinya untuk tidak menggunakan uang Arnav dan berusaha mandiri ternyata membuat masalah rumah tangga mereka semakin runyam.


"Hampir dua bulan ini aku masih bersabar. Aku merasa tidak ada gunanya sebagai suami! Seharusnya kamu bergantung padaku!" Bentak Arnav sambil melepaskan cengkraman tangannya. Ia mengambil dompetnya dan pergi.


Namira termenung. Sepeninggal Arnav ia melanjutkan membersihkan rumah. Walaupun tubuhnya bergerak, pikirannya melayang. Ia pun memutuskan mundur dari perusahaan pengelola artikel yang membesarkan namanya.


Pak Edo, saya mohon maaf jika harus menyampaikan pesan ini secara mendadak. Saya masih menyukai dunia menulis. Namun kesibukan saya akhir-akhir ini tidak memungkinkan bagi saya untuk tetap berada pada bidang ini. Kelak ketika urusan saya termasuk kuliah yang akan saya tempuh telah selesai, saya mungkin akan melanjutkan pekerjaan ini lagi. Semoga perusahaan Menulis Gemilang akan selalu sukses.

__ADS_1


Namira mengirimkan pesan tersebut. Untung saja sekalipun belum pernah bertemu dengan Pak Edo, ia mendapatkan balasan yang sangat baik. Selama empat bulan ini, bosnya tersebut tidak pernah telat dalam memberikan upah. Beliau juga tidak pernah salah mengakumulasi pekerjaan Namira.


"Sekarang aku hanya perlu membujuk pasien-pasienku agar mau melakukan persalinan dengan dokter Alvin." Gumam gadis itu. Ia juga mulai memikirkan bagaimana nasibnya pertengahan bulan ini. Akankah ia kembali ke Pulau Delta untuk kuliah atau haruskah mencari alternatif lain.


***


Di sisi lain, Arnav termenung di sebuah kafe. Seperti biasa ia memesan espresso sambil memandangi hiruk pikuk kota tersebut. Tak lupa ia memesan makan siang untuk mengganjal perutnya sekalipun ia tak merasa lapar.


"Seharusnya aku tidak marah-marah seperti itu." Gumamnya sambil membayangkan jika Namira membencinya dan berpaling. Ia kemudian menghubungi Pratama.


"Halo Nav! Bagaimana kabarmu Pak Kepala? Tumben sekali menelpon, apa dirimu mau mengangkatku menjadi manajer?" Goda Pratama.


"Haha! Maafkan aku malah meninggalkanmu tumpukan pekerjaan di timku yang belum selesai." Balas Arnav.


"Tidak apa-apa. Aku senang karena tidak perlu merintis rencana baru. Tinggal melanjutkan usahamu saja. Haha!" Celoteh Pratama.


"Wah, kenapa bisa begitu? Apa gajimu sebagai Kepala Cabang kurang banyak?" Goda Pratama kembali dengan nada usilnya.


"Namira bahkan tau aku mengelola Mall dan gerai emas. Tapi dia tetap sibuk sendiri." Gerutu Arnav.


"Mungkin dia jenuh tidak melakukan apapun. Ditambah lagi dia tidak ingin merepotkanmu. Aku tau dia sejak kuliah karena dia adik kelasku walaupun kami berbeda jurusan." Terang Pratama mencoba menenangkan hati Arnav.


Pria itu menghela nafas. "Seharusnya aku sadar, bukan aku yang akan berpaling tapi mungkin dia karena sainganku adalah orang yang pintar." Gerutu Arnav kembali dengan nada putus asa.


"Dia istrimu Nav. Kamu memiliki dia seutuhnya. Bahkan ayahnya pun kini menjadi nomor dua. Pandai-pandailah mengendalikan istri. Coba komunikasikan baik-baik. Tapi benarkah dirimu setiap bulan sudah memberinya uang untuk segala keperluan? Dan soal mini market apa benar sudah menjadi milik Namira?" Pratama penasaran dengan kondisi finansial rumah tangga Arnav.


"Aku sudah memberinya separuh dari gajiku. Tak hanya itu, hasil mini market kuserahkan dia juga tetapi malah dimasukkan ke rekening berbeda atas nama mini market. Dua puluh persen keuntungan mall dan gerai juga kuberikan dia. Ah harusnya kuberikan semua ya. Aku takut kalah dari seorang dosen sekaligus pemilik sebuah klinik yang padat pasien." Celoteh Arnav masih dengan rasa rendah dirinya.

__ADS_1


Pratama menghela nafas, " Pasti Namira pernah sakit hati denganmu. Cobalah bicarakan baik-baik ya. Semangat Arnav! Kalian masih pengantin baru dan memang butuh waktu untuk mendalami karakter masing-masing." Nasihat Pratama.


***


Arnav berpikir untuk pulang dan membawakan makanan kesukaan Namira. Baru saja ia hendak masuk rumah, istrinya telah berdiri di depan pintu.


"Namira, sudah makan? Aku membawakan makanan." Ucap Arnav seraya menggenggam tangan istrinya dan mengajaknya ke meja makan seolah sebelumnya tidak terjadi apapun.


"Aku minta maaf." Ucap Namira sambil menunduk karena tidak sanggup melihat wajah Arnav.


"Aku juga minta maaf. Ayo kutemani makan." Arnav menyiapkan hidangan di atas meja.


"Mas, aku sudah keluar dari perusahaan artikel." Namira mengatakannya sambil menunduk.


"Maaf Namira, bukan maksudku melarangmu melakukan apapun yang membuatmu senang. Aku hanya merasa harga diriku terinjak saat kamu berusaha sekeras itu untuk mengumpulkan uang." Jawab Arnav yang juga menunduk.


Keduanya terdiam.


"Aku tidak mau kamu kelelahan. Jangan ditunda-tunda lagi untuk mencari Asisten Rumah Tangga walaupun hanya untuk beberapa hari sekali." Pinta Arnav sambil memperhatikan ekspresi yang nantinya akan ditampilkan oleh istrinya. Namira hanya mengangguk. Ia pun kemudian makan dengan malas karena merasa tidak enak terhadap suaminya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2