
Tanggal enam April
Namira harus menghubungi Arnav pagi-pagi yang sontak membuat pria itu terkejut namun senang.
"Ini pertama kalinya dia menghubungi aku duluan." Gumam Arnav senang.
"Halo calon istriku. Ada apa?" Godanya.
"Berkasnya tolong diantar ke rumah saya mas. Sebelum mas Arnav berangkat ke kantor ya!" Seru Namira.
"Siap bos!" Goda Arnav.
"Benar-benar wanita yang penuh gengsi." Gumamnya lagi.
Pria itu langsung menyiapkan berkas-berkas seperti foto kopi tanda pengenal, Kartu Keluarga, dan foto.
Sebelum ke kantor, pria itu menuju rumah Namira dan ternyata wanita tersebut telah berada di atas motornya dengan pakaian rapi.
"Ini kan masih pagi. Memangnya kantor Sipil sudah buka?" Tanya Arnav.
"Pokoknya saya harus datang lebih awal menghindari antrian." Jawab Namira.
"Memangnya banyak yang hendak menikah?" Arnav kembali bertanya.
Namira hanya mengangkat bahu dan mengambil berkas dari calon suaminya. Ia memasukkannya ke dalam tas dan pamit berangkat. Arnav hanya geleng-geleng kepala.
Setelah di jalan utama, Namira merasa seseorang membuntutinya.
"Apa hanya perasaanku saja ya? Orang itu sepertinya membuntuti aku. Coba aku cari jalan kecil." Gumamnya.
Benar saja, seseorang dengan sepeda motor di belakangnya tetap membuntutinya. Berhubung gadis itu membelokkan motornya di jalan kecil dan sepi, terpaksa Namira menancapkan gasnya keras-keras karena khawatir dicegat di jalan kecil tersebut. Setibanya di kantor Sipil ia bernapas lega. Sosok lelaki menggunakan masker itu juga turun dari motornya.
"Apa dia juga mau mendaftarkan pernikahan? Tapi mengapa menguntitku lewat jalan kecil yang tidak banyak orang tau?" Batin Namira.
Namira menunggu hingga orang tersebut mengambil antrian terlebih dahulu. Nyatanya lelaki bermasker itu hanya diam menunggu di kursi tunggu. Mau tidak mau akhirnya gadis itu menulis buku tamu, mengambil antrian, dan menunggu. Ia langsung menuju kantor administrasi dan mengumpulkan berkas. Seseorang mengecek sambil menanyakan rencana tanggal pernikahan.
"Mohon maaf mbak, pelayanan akhir pekan harus melalui jalur khusus. Kami hanya bisa menikahkan di jam kerja." Ucap bapak tersebut.
"Tidak apa-apa pak. Jalur khusus tidak apa-apa." Jawab Namira.
"Baiklah. Saya akan memberi undangan untuk mbak dan calon suami besok jam 1 siang, apakah bisa?" Bapak tersebut bertanya kembali.
"Apakah bisa diwakilkan?" Tanya Namira yang tau betul bahwa Arnav tidak akan bisa.
"Mohon maaf tidak bisa diwakilkan. Atau jam 12 siang saja bertepatan dengan jam istirahat?"
"Baik pak. Saya keluar sebentar untuk menghubungi calon suami saya." Namira meminta ijin.
Ia segera menghubungi Arnav.
__ADS_1
"Iya, ada apa?" Tanya suara di seberang telepon.
"Mas, apakah besok jam 12 siang bisa datang kemari bersama saya? Karena ada beberapa ketentuan yang harus kita penuhi." Terang Namira.
"Tidak masalah." Jawab Arnav. Namira langsung mematikan ponselnya. Ia menyadari lelaki tadi mengamatinya.
Arnav menghubunginya kembali karena merasa pembicaraan mereka belum selesai namun gadis itu tidak menjawabnya.
"Segeralah tanggal 20 dan kita lihat bagaimana gengsimu itu akan pudar!" Batin Arnav sambil mengepalkan tangannya karena gemas dengan tingkah calon istrinya.
Namira kembali ke ruangan yang tadi dan bapak tersebut mencetakkan undangan.
"Tolong katakan jika saya salah mengetik. Apakah nama calon suami sudah benar Arnav Dirga Raiza?" Tanyanya.
Namira mengangguk mantap. Ia merasa risih seakan ada seseorang yang menatapnya.
"Pak, pernikahan ini lebih rumit dari yang ada." Tiba-tiba tercetus kalimat tersebut dari mulut Namira berharap orang yang mengawasinya mendengarkan.
"Jelaskanlah besok mbak kepada psikolog pernikahan." Sahut bapak tersebut.
Namira sudah tidak memiliki ide harus bagaimana. Ia pamit keluar ruangan dan pria tadi masuk ke ruangan tersebut.
"Apa dia nomor antrian setelahku?" Batinnya. Ia melihat buku tamu dan tidak tertulis antrian selanjutnya. Memang kantor Sipil nampak sepi di jam tersebut.
"Mbak, apa lelaki tadi hendak mendaftarkan pernikahan? Atau ada urusan tertentu?" Namira memberanikan diri bertanya kepada penjaga buku tamu.
"Bukankah bisa bertanya melalui mbak?" Namira menunjuk wanita penjaga tersebut.
"Iya saya sudah coba jelaskan tetapi ia memaksa mau bertemu bagian administrasi di dalam. Katanya untuk membandingkan jalur khusus dengan bukan." Terang wanita tersebut.
Namira semakin curiga. Ia memutuskan segera pulang sebelum bertemu lagi dengan lelaki tersebut. Tidak lupa ia mengambil foto motor lelaki itu.
Sepanjang perjalanan gadis itu mencari jalan ramai. Ia begitu khawatir. Beberapa panggilan masuk dari Arnav masih ia abaikan.
****
Lelaki bermasker tersebut pura-pura bertanya pada bagian administrasi mengenai pernikahan jalur umum dan khusus. Sekalipun dapat ditanyakan di bagian buku tamu, ia menanyakan tarif dan lain-lain padahal matanya mengacu pada berkas tertumpuk di sana. Hanya terlihat nama Namira Inggrid. Ia ingin memastikan bahwa telinganya tak salah dengar. Namira akan menikah dengan Arnav. Ia harus memastikan lagi.
***
Namira masih ketakutan. Ia segera menutup pintu dan tirai jendelanya padahal hari masih siang.
Mas, saya takut!
Tanpa sadar ia mengetikkan pesan kepada Arnav.
Pria tersebut membacanya dan menjadi khawatir. Arnav menghubungi Namira kembali namun tidak ada jawaban.
"Bagaimana cara mendeteksi seseorang berada dimana?" Tanyanya panik pada Tama dan Raja.
__ADS_1
"Itu ada aplikasinya mas. Tapi untuk saat ini bisa dilihat dari pengecekan kartu selulernya." Jawab Tama.
"Apa nama aplikasinya?" Arnav kembali bertanya sambil menggoyang-goyangkan ponselnya.
"Cari di Store mas!" Balas Tama.
Arnav mengambil jaketnya dan mengambil sepeda motor. Ia menuju kantor Sipil namun sebelum ia berangkat, ponselnya berbunyi.
"Mas, saya di rumah. Saya tidak apa-apa!" Ucap Namira di seberang telepon.
Arnav tidak menggubrisnya. Ia mematikan panggilan dan menuju rumah Namira.
***
Seseorang memencet bel dan Namira mulai ketakutan. Ia kembali menelpon Arnav.
"Halo, mas Arnav di depan rumah saya bukan?" Tanyanya gugup.
"Iya. Cepat buka pintunya." Perintah Arnav.
Namira membuka gerbang mempersilahkan Arnav masuk dengan motornya. Keduanya masuk ke dalam rumah dan Arnav tiba-tiba memeluknya.
"Ceritakan ada apa." Ucap Arnav seraya menenggelamkan kepala Namira di dadanya yang bidang.
"Saya tidak apa-apa." Jawab Namira lirih.
"Kita sudah sepakat untuk membicarakan apapun." Timpal Arnav seraya melepaskan pelukannya.
"Ayo kita duduk dan minum dulu." Ajak Namira. Ia merasa tidak enak mengganggu jam kerja Arnav.
"Ada seseorang yang menguntit saya." Namira membuka perbincangan mereka sambil memberikan secangkir teh pada Arnav.
"Seperti apa orangnya?" Tanya Arnav sambil mengepalkan tangannya.
"Saya tidak tahu. Dia memakai masker. Saya hanya sempat memfoto motornya." Jawab Namira sambil mengingat kejadian tadi pagi.
"Jika firasat saya benar, akan mudah menemukan siapa dia." Arnav meneguk teh nya tak bersisa.
"Bersikaplah tenang. Kunci gerbang. Kamu tidak perlu menutup semua tirai seperti ini. Saya kembali dulu ke kantor untuk memastikan." Arnav beranjak pergi.
.
.
.
.
Tinggalkan jejak yaa wahai pembaca. 😋
__ADS_1