Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Pengagum Pria


__ADS_3

Namira menjawab sekenanya, "Mas Arnav sudah tua mbak. Ia didesak untuk segera menikah. Lalu waktu jamuan keluarga, dia tidak sengaja memperkenalkan aku sebagai calon istrinya. Orang tuanya langsung mendesak waktu pernikahan dan lain-lain."


"Jadi Arnav tidak pernah menyatakan suka? Kamu sendiri bagaimana?" Tanya Prita semakin ingin tahu.


"Tidak. Saya juga tidak. Saya dibayar kok mba. Sampai batas waktu tertentu." Lanjut Namira.


"Hahaha! Aku lega! Hanya saja aku sedikit kecewa kenapa bukan aku yang jadi pemeran utama sandiwaranya." Prita tertawa sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Namira memutar kedua bola matanya malas.


***


Arnav dan Firda sudah tiba di lokasi.


"Maaf, apa benar ini rumah bapak Frans?" Tanya Arnav dengan sopan.


"Iya benar mas. Ada perlu apa ya?" Tanya seorang wanita paruh baya.


"Maaf, apakah bapak Frans menyewakan mobil?"


"Tidak mas. Itu mobilnya hanya satu kami pakai sehari-hari." Jawab wanita tersebut.


"Kalau begitu apakah ada yang meminjam mobil pak Frans?" Arnav masih berusaha menggali lebih lanjut.


"Memangnya ada apa ya mas? Silahkan duduk dulu." Wanita tersebut pun mengajak Arnav dan Firda duduk di teras rumahnya.


"Begini, mobil pak Frans menyerempet seseorang sekitar beberapa hari lalu. Kira-kira pagi hari jam tujuh." Terang Arnav.


"Mbak Anandilla Ravika yang meminjamnya pagi-pagi mas." Ucap bu Frans.


"Keluarga ibu kenal dengan mbak tersebut? Hubungannya apa bu?" Arnav kembali menyelidiki.


"Orang tuanya teman kami mas. Waktu pinjam bilangnya buat angkut beberapa barang. Dia mau pindah kos. Nanti biar saya hubungi mbak Ana ya mas." Ucap bu Frans dengan cemas.


"Tidak perlu bu. Kami hanya mau mengklarifikasi saja. Jika hanya mobil pinjaman, mudah-mudahan korbannya mau memaafkan. Terima kasih banyak waktunya bu." Arnav pun berpamitan.


"Anandilla itu siapa mas?" Firda nampak ingin tahu.


"Teman kantor. Tapi aku belum tau pasti motifnya." Ucap Arnav sambil memikirkan perkataan Namira jika Dilla kemungkinan menyukai Arnav. Berarti selama ini dia sudah dibodohi oleh wanita tersebut.


Ah, Namira belum memberi kabar!


Arnav melajukan motornya menuju cafe M.


"Sekarang kita ngapain di sini mas?" tanya Firda sambil membuka helmnya.


"Kita jadi mata-mata." Arnav melihat sekeliling dan nampaklah Prita dan Namira di meja dekat dinding.


"Aku duduk di sana, kamu pesan saja apapun yang kamu mau. Aku pesankan satu Americano saja. Ini uangnya. Hati-hati jangan sampai kakakmu menyadari keberadaan kita." Ujar Arnav. Firda mengangguk paham.


"Jadi sekarang yang perlu diperhatikan adalah wanita di foto itu." Lanjut Prita menceramahi Namira.

__ADS_1


"Mbak, lebih baik cari laki-laki lain saja. Kenapa sih harus bersusah payah menyingkirkan semua saingan?" Gerutu Namira.


"Iya mau saya juga begitu. Tapi apakah hati bisa diajak kompromi?" Balas Prita.


Namira menghela nafas.


"Mbak tau darimana kalau mbak Dilla menyukai mas Arnav? Katanya mereka itu satu kampus mbak." Terang Namira.


"Dia pernah meninggalkan dompetnya lalu aku lihat ada foto Arnav di sana." Cerita Prita. Arnav yang berada di balik dinding langsung terkejut.


Namira kembali menghembuskan nafas.


"Sudahlah mbak. Saya tidak peduli. Siapa saja yang mau sama mas Arnav saya berikan Gratis!" Keluh Namira yang beranjak dari kursinya.


"Masalahnya Arnav yang tidak mau dengan siapa saja dan malah memilih kamu!" Celetuk Prita.


Arnav merasa dongkol dengan ucapan Namira dan langsung menghabiskan Americano miliknya.


"Ayo pulang!" Ajak Arnav pada Firda.


"Aku belum menghabiskan cake ku mas. Pulang saja sama mbak Namira!" Saran Firda.


Arnav mau tidak mau menyusul Namira.


"Namira!"


Wanita tersebut menoleh.


"Kenapa mas Arnav di sini?" Tanyanya heran.


Gadis itu menepuk dahinya.


"Oh iya! Maaf mas. Saya lupa memberi kabar. Ya sudah ayo pulang. Mas kesini naik apa?"


"Saya sama Firda. Tapi dia masih menikmati makanannya. Ayo kita pulang saja duluan." Ajak Arnav menggandeng tangan Namira.


Ini kali pertama mereka berboncengan naik motor. Biasanya mereka selalu pergi menggunakan mobil atau beriringan satu sama lain. Ada rasa senang di hati Arnav dan perasaan gugup pada Namira.


"Kita langsung pulang atau mau mampir ke suatu tempat?" Tanya Arnav.


"Kita pulang saja ya mas." Pinta Namira karena ia tidak ingin terus-terusan gugup.


Namun arah jalan yang dilalui bukanlah arah jalan pulang. Mereka mampir ke pantai.


"Duh mas! Besok saya pasti masuk angin!" Celetuk Namira.


Arnav memberikan jaketnya. Ia menggunakan sweater dan jaket kulit saat mengendarai motor. Jaket kulit tersebut diberikan kepada Namira.


"Terima kasih." Ucap Namira.


Mereka duduk di tepi pantai.

__ADS_1


"Apa yang kamu bicarakan dengan Prita?" Arnav memancing pertanyaan.


"Hanya sebuah hal konyol dan kekanak-kanakan." Balas Namira sambil menatap pantai.


"Mulai sekarang aku akan berhati-hati pada Prita ataupun Dilla. Semua itu agar kamu tidak khawatir." Ucap Arnav dengan pandangan lurus menatap gelombang air.


"Sebenarnya saya bukan tidak peduli. Tapi saya tidak mau peduli. Saya minta maaf tapi saya butuh waktu untuk mempelajari siapa mas Arnav." Ujar Namira.


Arnav menatapnya lembut dan mencari ranting untuk menulis sebuah tulisan di pasir pantai.


I Love U


Namira terdiam. Tiba-tiba sepintas kenangannya dengan mantannya muncul. Di pantai ini setelah mantan pacarnya mengakui jika ia hanya bermain-main pada Namira. Ia sangat terpaksa berpacaran dengannya.


"Mas, maaf, saya mau pulang." Ucap Namira dan berlalu dari hadapan Arnav.


"Kamu kenapa? Apakah angin pantai membuatmu tidak nyaman?" Tanya Arnav cemas sambil menyusul Namira.


"Tidak apa-apa. Saya rasa ada hanu di sana. Ayo cepat pergi." Jawab Namira asal yang sukses membuat Arnav sediki bergidik ngeri.


***


Mereka tiba di rumah jam sebelas malam.


"Selamat tidur Namira!" Ucap Arnav.


"Mas, besok sudah tanggal empat belas. Pulanglah! Jangan di sini lebih lama lagi." Namira mengingatkan dengan tatapan khawatir.


"Baik. Kamu tenang saja." Jawab Arnav sambil tersenyum lembut.


***


Tanggal empat belas April


Arnav menyiapkan baju-bajunya ke dalam tas.


"Saya pulang kantor langsung pulang ya? Hati-hati kangen!" Goda Arnav.


Namira tidak menjawabnya. Ia khawatir semua ini hanyalah akting Arnav saja sama seperti mantan pacarnya.


"Sudah dapat pekerjaan?" Arnav kembali bertanya.


"Iya sudah mas. Setidaknya saya masih mendapatkan pemasukan." Jawab Namira santai.


"Tenang saja. Setelah tanggal dua puluh, mini market adalah milikmu." Arnav tersenyum, membelai pucuk kepala Namira dan pamit ke kantor.


Ada rasa rindu menyusup di hati Namira namun lagi-lagi ia menyangkalnya. Jangan sampai sebelum lima tahun ia menjadi goyah.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2