Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Personal Taste


__ADS_3

"Apa kamu tadi sudah makan?" Tanya Arnav yang menyaksikan Namira tidak menyentuh makanannya.


"Belum. Aku hanya tidak berselera." Jawabnya datar. Ia mulai merasakan matanya panas dan badannya mulai menggigil.


"Kenapa kamu tidak mengambil keuntungan mini market? Dengan uang apa kamu belanja makanan dan keperluan rumah sehari-hari?" Tanya Arnav penuh selidik.


Namira mulai merasa pandangannya berkunang-kunang.


"Aku menggunakan gaji online ku. Mini market itu adalah jerih payah mas Arnav. Aku tidak bisa mengaku-ngaku sesuatu yang bukan usahaku sendiri. Terlebih aku tidak suka merebut pencapaian orang lain atau mengakuinya sebagai pencapaianku." Jawabnya lemah.


Arnav merasa bersalah namun masih ada yang mengganjalnya terutama soal balas dendam dan pikiran tentang mantan Namira.


"Baiklah. Ayo pulang." Ajak Arnav. Ia tidak peduli apakah Namira ingin makan yang lainnya atau tidak. Ia teringat pesan Dilla jika wanita selalu mencari simpati saat mereka terbukti melakukan kesalahan. Kedekatan mereka bukan lagi sahabat. Arnav tetap berusaha menjaga jarak apalagi ia tau jika Dilla lah yang menyerempet Namira. Arnav menggunakan Dilla untuk mengetahui isi hati Namira.


Di dalam mobil Namira menahan sakitnya. Ia menangis dalam keadaan setengah sadar. Rasanya sungguh sesak saat jauh dari keluarga yang mendukungnya ditambah ia harus bersama seseorang yang selalu menuduhnya wanita matre. Arnav menghentikan mobilnya saat mendengar isakan Namira dengan matanya yang terpejam di kursi sebelah Arnav.


"Namira! Hei, kamu kenapa?" Panggil Arnav. Ia menyentuk pipi gadis itu bermaksud menyeka air matanya. Betapa terkejutnya Arnav saat tau Namira demam tinggi. Ia segera membawa Namira ke klinik terdekat.


Setelah mendapatkan infus, Namira kemnali sadar. Ia melihat Arnav yang duduk cemas di sampingnya.


"Kalau sakit seharusnya kamu tidak usah ke pasar." Ucap Arnav lembut. Namira tidak menjawabnya. Wajahnya yang pucat hanya menatap ke arah jendela. Ia sungguh ingin pulang, kembali ke aktivitas terdahulunya menjadi karyawan biasa.


"Sudah sadar ya mbak Namira? Saya lihat identitas anda adalah seorang bidan. Jika berkenan mbak bisa bekerja di sini." Ucap seorang dokter wanita yang memeriksa Namira. Gadis itu hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Sudah boleh pulang ya mbak. Lanjutkan istirahatnya dan saya rasa mbak sudah tau apa saja makanan yang dapat membantu pemulihan serta waktu-waktu pemberian obat." Ucap dokter tersebut ramah.


Arnav mencoba membantu Namira berdiri namun tangannya ditepis oleh Namira. Sepanjang perjalanan gadis itu hanya diam dengan wajah pucatnya.


"Aku belikan bubur ya." Tawar Arnav.


"Tidak perlu mas. Aku akan istirahat." Namira beranjak ke kamarnya dan mengunci pintu. Arnav tidak tau harus berbuat apa. Rasanya semua menjadi serba salah.


Namira membulatkan tekadnya untuk lulus ujian masuk. Ia mulai belajar dan juga mencegah berpapasan dengan Arnav. Ia bangun sangat pagi lalu menyiapkan sarapan. Saat Arnav sudah berangkat, ia keluar kamar untuk membereskan rumah. Ketika Arnav pulang, ia pun telah selesai memasak makan malam dan mengunci diri di kamar.


"Namira, apa kamu sudah tidur? Apa kita perlu memeriksakan lagi kondisimu?" Tanya Arnav setiap malam. Gadis itu masih enggan menggubrisnya.


Satu minggu berlalu sejak dirinya sakit. Hari ini Arnav libur akhir pekan. Namira telah membekali dirinya dengan makanan di kamar. Ia sudah bertekad tidak akan menemui Arnav terlebih adalah karena besok ia harus mengikuti ujian online.


"Namira, apa kamu sudah bangun? Aku hendak membeli sarapan, apa kamu mau?" Tanya Arnav di balik pintu.


"Kapan kamu makan? Aku tidur di sofa ruang tengah sejak semalam." Balas Arnav.


"Aku membawa makananku sejak kemarin." Timpal Namira.


"Kita harus bicara!" Ucap Arnav sambil mendorong pintu kamar Namira. Gadis itu mau tak mau membuka pintunya.


"Kenapa kamu menghindariku?" Tanya Arnav sambil menatap Namira tajam.

__ADS_1


"Tidak apa-apa." Jawabnya acuh.


"Aku minta maaf." Arnav memegang pundak istrinya.


"Tadinya aku berfikir akam berusaha ikut ujian masuk. Tapi kali ini aku batalkan. Bukan karena aku ingin mendekam di sini menghadapi semua tuduhan tentangku, tapi karena aku tidak sudi menggunakan sepeser pun uang dari lima puluh juta itu." Tegas Namira.


"Aku sudah menyakiti harga dirimu. Aku benar-benar minta maaf." Ucap Arnav.


"Perjanjian itu sudah dihapus. Uang dan minimarket juga tidak menjadi hakku. Jangan memintaku menjalankan kewajibanku sebagaimana di kontrak terdahulu. Mari hidup masing-masing sampai kita jenuh dengan pemikiran kita masing-masing. Aku pikir mas Arnav dewasa, penyabar, penyanyang, ternyata selalu berpikir negatif." Ucap Namira sambil menahan tangisnya.


Arnav memeluk Namira. Ia merasa sangat bodoh sekarang. Seharusnya ia tidak perlu terpancing omongan Dilla atau menggunakannya sebagai alat untuk mengetahui perasaan istrinya terhadapnya.


"Aku akan melamar pekerjaan di klinik kemarin. Jangan campuri urusanku. Mas mau pulang setiap hari dengan mbak Dilla, itu juga bukan urusanku." Ketus Namira seraya meninggalkan Arnav. Ia menuju cafe dan membuat resume. Ia lantas melamar pekerjaan di Klinik Sehat tempat ia kemarin dirawat.


Hari sudah sore. Arnav tidak menyalakan lampu rumah. Namira yang telah sampai di rumah berencana menghidupkan lampu namun tangannya ditahan oleh Arnav. Pria itu menarik Namira ke dalam kamar dan menguncinya.


"Aku bersabar sejak kita saling mengenal. Aku mencoba memahami semua trauma masa lalumu. Pelan-pelan aku mendalami hatimu, berusaha menyembuhkan luka masa lalu. Tapi ternyata memang sangat susah sebab hati dan sikapmu seperti batu" Ucap Arnav.


"Aku harus mengambil kemudi atas hubungan kita. Maaf sebelumnya." Ucap Arnav yang langsung mengecup bibir Namira. Pergulatan panjang terjadi dan perasaan tersebut sama-sama baru bagi keduanya.


"Tidak perlu berkata tidak siap karena kesiapan itu ada karena terbiasa." Ucap Arnav kembali. Malam panjang itu terjadi dimana sang wanita merasa sensasi berbeda sedangkan sang pria merasa mendapatkan apa yang ia cari selama ini. Namira merasa sangat nyaman dengan segala aktivitas Arnav padanya. Arnav pun merasakan beban berat yang dibawanya selama ini tiba-tiba hilang.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2