Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Cruel Temptation


__ADS_3

Namira menuju kamarnya. Ia menyeleksi pakaian yang akan dibawanya. Arnav baru selesai mandi dan masih menggunakan handuk di pinggangnya. Namira berusaha berkonsentrasi dengan aktivitasnya.


"Kenapa kamu tiba-tiba ingin ikut? Bagaimana kuliahmu?" Tanya Arnav dingin.


"Mas sudah makan?" Namira mengalihkan pembicaraan.


"Jawab pertanyaanku! Apa karena kamu telah mengetahui kekayaanku lantas bersikap baik padaku? Kamu takut kehilangan tambang emasmu?" Arnav bertanya lirih berharap Namira menjawab tidak. Namun pikirannya saat ini tentang Namira memang menjadi buruk.


Gadis itu tidak menjawab dan memilih diam sambil menutup kopernya.


"Jawab!" Arnav memegang dagu Namira dan menatapnya tajam.


"Aku tidak bisa menjernihkan pikiran orang yang sedang emosi. Jika mas berpikir begitu, silahkan saja." Jawabnya datar.


Arnav merasa lelah dengan sikap Namira. Ia mengambil kaosnya dan merebahkan tubuhnya di kasur. Namira menyusul di sebelahnya dan memejamkan matanya. Arnav menatap gadis itu. Ia bingung dengan sikap Namira. Apakah mungkin istrinya akan mencintainya ataukah ia hanya merasa tidak enak karena telah menerima uang Arnav? Ataukah ia memang tidak mau kehilangan sumber uangnya?


Arnav belum bisa tertidur. Ia mencari berbagai informasi mengenai karakter wanita di ponselnya hingga mengantuk dan terlelap.


***


Pagi harinya Namira menelpon bu Santi dan menginformasikan jika mereka akan berangkat ke Tidore.


"Akhir tahun kalian harus pulang ya! Jangan lupa mengadakan resepsi lagi di sini! Namira belum pernah kemari bukan? Padahal mama inginnya resepsi di sini diadakan bulan depan." Ucap bu Santi.


Namira hanya menjawab dengan senyuman yang dipaksakan.


"Tolong sampaikan pada mbak Sari dan bapak ya bu." Ucap Namira.


Arnav yang mendengar pembicaraan itu hanya berucap dalam hati, "Pintar sekali bersikap santun demi uang."


***


Setelah sarapan dan bersiap, mereka berpamitan lalu langsung menuju bandara. Arnav sama sekali tidak membantu membawa barang-barang Namira. Ia justru berbincang-bincang dengan Dilla sebagai satu-satunya rekan yang berasal dari satu kantor.


"Istri kamu kasihan tuh!" Tunjuk Dilla. Arnav tidak peduli.


"Dilla, menurutmu lebih baik mencintai atau dicintai?" Tanya Arnav.


"Dicintai dong. Tapi setelah itu kita harus berusaha mencintai juga." Jawabnya antusias.

__ADS_1


"Mencintai karena uang?" Celetuk Arnav tiba-tiba.


"Itu namanya matre. Jangan-jangan jika ada yang lebih kaya dia akan berpindah hati. Hahaha!" Ledek Dilla yang sebenarnya paham jika Arnav sedang menyindir Namira.


Lagi-lagi Namira hanya harus sabar.


Arnav dan Namira duduk bersebelahan.


"Mas Arnav pernah bilang jika akan membuat saya mencintai karena mas adalah laki-laki dan wanita adalah makhluk yang mudah jatuh cinta." Gumam Namira. Arnav mendengarnya dan mencoba mengingat kenangan tersebut. Akan tetapi hatinya masih sakit dengan sikap Namira yang terfokus pada perjanjian, valas dendam, dan saat ini terfokus pada harta Arnav.


Setelah empat jam perjalanan di udara, merek sampai. Supir langsung membawa Arnav dan Namira ke rumah mereka sementara Dilla telah turun di apartemen yang disewa untuknya.


Arnav merasa pusing. Setelah stress memikirkan Namira, ia juga telat makan. Sesampainya di dalam rumah yang telah dilengkapi berbagai fasilitas, ia mendudukkan diri di sofa. Cuaca di pulau ini sangat panas sehingga AC di ruangan menjadi berperan sangat penting.


Namira mengeluarkan pereda nyeri dan memberikannya pada Arnav. Pria itu mengambilnya dan meminumnya. Ia lantas mengeluarkan uang di dompet dan memberikannya pada Namira. Gadis itu menghela nafas dan menaruh uang tersebut kembali ke dompet Arnav.


"Kenapa? Kurang banyak ya? Aku akan menulis pelimpahan semua harta untukmu. Puas?" Tanyanya sinis dan menuju kamar tidurnya.


Namira mengerjakan pekerjaan online nya. Ia juga menghubungi Iwan perihal keuntungan mini market hari ini.


"Saya transfer saja keuntungan bersihnya ya mbak." Ujar Iwan.


Hari semakin malam, Arnav akhirnya terjaga dari tidurnya.


"Hanya ada ini di kulkas mas. Makanlah dulu. Besok aku akan mencoba ke pasar." Ucap Namira.


Pria itu diam dan tidak peduli. Ia kemudian meletakkan uang di atas meja makan. Kembali Namira memindahkannya ke dompet Arnav.


"Kalau menemani aku tidur, perlu dibayar berapa?" Tanya Arnav sinis. Namira menganggapnya angin lalu dan memilih tidur terpisah.


***


Arnav memulai harinya di kantor baru. Ia mengerahkan timnya. Sudah seminggu ini ia pulang larut malam. Namira selalu menunggunya di ruang tengah. Terkadang Dilla mengantarnya pulang dengan mobil pemilik apartemennya yang ia pinjam. Namun apapun yang terjadi, Namira hanya perlu diam dan menggali karakter Arnav lebih dalam.


Akhir pekan tiba. Arnav libur dari rutinitas kantornya.


"Mas, aku pergi ke pasar dulu sekaligus mencari beberapa keperluan." Pamit Namira. Walaupun ia belum mengetahui banyak tentang wilayah Tidore, ia memberanikan diri. Sementara Arnav tidak menggubrisnya. Ia larut dalam pekerjaannya di laptop dan menghubungi Iwan.


"Apakah sudah ditransfer ke rekening istriku seluruh keuntungan minimarket? Sementara stabilkan stok yang ada saja. Jika ingin menambah produk baru, langsung saja minta pendapat Namira." Terang Arnav.

__ADS_1


"Mbak Namira tidak mau ditransfer mas. Dia sudah membuat rekening baru atas nama Minimarket Arn dimana semuanya adalah milik mas Arnav." Jawab Iwan.


Arnav terkejut dan semakin tidak paham dengan pikiran Namira.


"Ala kamu tau alasannya? Ini tidak sesuai kesepakatanku dengannya. Aku sudah mengatakan jika mini market itu miliknya." Terang Arnav.


"Aku tidak tau mas." Iwan kembali menjawab.


***


Sudah lewat jam makan siang tapi Namira belum juga pulang. Arnav merasa khawatir terutama karena gadis itu belum hafal pulau ini. Ia mencoba menghubungi namun ponselnya mati.


Arnav yang kini telah diberikan mobil dinas, mau tak mau melajukan mobilnya mencari keberadaan Namira.


***


Gadis itu duduk di tepi danau mencoba meluapkan emosinya. Akan tetapi air matanya tidak bisa jatuh. Semua justru tertahan di hatinya. Ia paham semua ini salah. Memasuki bulan Mei artinya ia harus fokus pada ujian masuk. Akan tetapi pikirannya berkecamuk.


"Jangan sampai setelah pernikahanku gagal, masa depanku juga gagal." Ucapnya dalam hati. Ia membulatkan tekadnya untuk belajar ujian masuk.


Cuaca yang sangat terik membuat Namira dehidrasi. Ia masih harus menunggu bus untuk kembali ke rumah. Sebuah mobil berhenti tepat di halte bus tempatnya berdiri.


"Dari mana saja kamu?" Ucap Arnav sambil menurunkam kaca mobilnya.


"Aku tersasar mas." Jawab Namira berbohong. Ia kemudian masuk ke mobil.


"Kita cari makan siang dulu." Ajak Arnav yang sepertinya emosinya semakin membaik. Stress yang menghilang dari pundaknya sontak membuatnya merasa sangat baik.


Ia memesan makanan laut. Mendengar penjelasan Iwan tadi membuatnya sedikit berpikir bahwa Namira tidak terlalu berambisi pada hartanya. Apalagi setelah mendengar jika Namira tersasar di pulau asing ini membuatnya sedikit merasa bersalah.


Namira tidak berselera makan. Ia merasa badannya tidak nyaman. Ia mencoba terus meminum minumannya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2