Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Jalan Pagoda


__ADS_3

Namira benar-benar malas harus ke kantor di akhir pekan. Dengan pakaian santai semi olahraganya ia sudah tiba tepat jam 8 pagi. Alangkah terkejutnya ia melihat rekan-rekannya yang juga menggunakan baju santai.


"Apa ini hanya divisi kita saja?" tanya Namira melihat divisi lain kosong.


"Kita yang paling pagi dan nanti paling duluan selesai." Balas Tama.


"Teller tidak ada?" tanyanya lagi.


"Ada tapi nanti." Balas Raja.


"Kok tidak berangkat bareng saja dengan bebep mas?" Namira menyindir Arnav.


Lelaki itu menoleh dan menghentikan aktivitasnya sementara Namira masih santai mengepak berkas-berkas nasabah.


"Kamu ini tidak tau apa-apa kenapa sembarangan berasumsi?" tanya Arnav.


Gadis itu diam saja.


"Mereka tidak pacaran tapi langsung nikah." Sela Tama. Arnav memukul bahunya.


"Ya kurang apa lagi sih. Mau cari yang gimana. Prita lulusan perawat, wajah cantik, postur oke. Dijamin anak dan suami betah di rumah." Lanjut Raja.


"Oh atau Ida saja? dia lulusan manajemen, orangnya tidak secentil prita, postur oke, lebih kalem dan membuat penasaran." Sambung Tama sambil terkekeh.


Arnav hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kantor kita di jalan Pagoda kan? aku kesana duluan. Sebelum jam makan siang aku pamit." Ujar Namira tegas.


"Aduh mau kemana sih? berkas cabang lain aja belum diberesin." tanya Raja.


"Aku sibuk. Tidak se selow kalian." Jawab Namira enteng. Ia pun pergi dan menuju jalan Pagoda.


Kantor barunya benar-benar lebih besar dari sebelumnya. Menempuh jarak kurang lebih 15 menit dari kantor lama, Namira berjalan ke lantai dua. Kini di lantai itu akan menjadi ruang khusus untuk divisinya.


"Pak Pratama! Ah akhirnya bisa bertemu dan bercerita!" Seru Prita girang.


"Hai, ada apa? mana tim mu?" tanya Pratama sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.


"Tim ku kan bapak dan teman-teman cabang Peninsula." Ucapnya bangga. Saat mereka sedang merapikan bersama, teman-teman dari kantor pusat tiba.


"Nav, aku minta lemari bagian situ untuk berkas nasabahku ya." Pinta Pratama.


"Iya oke atur-atur saja. Kalau kurang kita bisa beli lagi."


"Pak Pratama, saya rindu cabang Peninsula." Ucap Namira.


Lelaki itu menoleh ke arah Arnav.


"Gimana Nav? Aku harus menghargai keputusan Namira. Ini sudah kesekian kalinya dia minta pindah kembali."


"Oke. Jadi begini. Semua sistem pencairan hanya dapat dilakukan di pusat. Sekalipun dia mau kembali dengan gajinya sebagai admin Peninsula, dia tetap bekerja di kantor ini setiap hari." Tegas Arnav. Namira hanya memandangnya tidak percaya.


"Oh, berarti saya harus segera mencari tempat kerja baru." Gumam Namira yang tentu saja dapat didengar semua orang di sana.

__ADS_1


"Apa yang kamu takutkan? Pak Dewa? Reva? Apakah mereka masih bersikap kurang ajar?" Tanya Arnav serius. Ia mendekatkan jaraknya dengan Namira dan itu membuat gadis tersebut dapat melihat manik mata kecoklatan Arnav dengan jelas.


"Tidak. Entah." Jawabnya berusaha menoleh ke arah lain.


Suasana menjadi sedikit canggung. Saat itulah Raja diminta mengambil pesanan makan siang untuk seluruh tim oleh Arnav. Namira tidak menyentuhnya dan malah sibuk dengan ponselnya.


"Halo. Aku suntuk banget. Kamu kondisinya gimana? apa perlu aku bantu carikan obatnya? Yasudah kita ketemu di Roppan ya. Kabari kalau sudah sampai. Oke Adit!" Namira menutup ponselnya.


"Kencan?" tanya Pratama.


"Haha. Tidak pak. Bapak sendiri weekend kemana biasanya sama istri?" Namira balik bertanya.


"Kami dulu rekan kerja. Setelah menikah tidak boleh bekerja di tempat yang sama. Sekarang punya anak jadi dia di rumah mengurus anak." Kenang Pratama.


"Ah dulu selalu pulang kerja kencan bersama." Celetuk Arnav.


Pratama pun tertawa.


"Baik, saya pamit dulu ya. Sesuai perkataan awal saya, jam makan siang saya pulang. Bagi yang kurang porsi makannya, silahkan ambil jatah saya. Saya makan siang di Roppan." Namira pamit sambil tersenyum.


"Wah Namira sekarang sudah mulai berani." Tegur Tama.


Gadis itu tidak peduli.


Ia memasang fotonya bersama Adit sebagai status messenger nya.


Di saat bersamaan, seseorang menelpon Arnav.


"Iya ma. Silahkan datang. Tapi Arnav tidak libur kerja. Papa dan mama jalan-jalan sama kakak ya. Sore sampai malam baru Arnav bisa menemani."


Perbincangan pun selesai.


***


Namira makan siang di Roppan lengkap dengan menu ala Jepang yang ia sukai. Adit membayar semuanya dan tentu ini sangat menyenangkan. Besok adalah hari minggu dan mereka akan pergi berkaraoke bersama Ria dan pacarnya. Tidak banyak hal yang mereka bicarakan namun sebagian besar adalah mengenai obat Diabetes untuk Adit. Di sisi lain Arnav sibuk membeli beberapa camilan dan buah-buahan untuk menemani hari liburnya. Ia dan pegawainya Riko akan mengkalkulasi stok di mini market dan tentu saja artinya mereka akan lembur malam ini.


Hari berganti. Namira masih asik dengan kehidupannya dan memasangnya di status. Terkadang ia menuliskan bahwa ketika orang lain sibuk dengan hubungan mereka, Namira justru sibuk mencapai satu per satu jenjang kehidupannya. Tak heran jika ia jarang bergaul dengan rekan kerjanya karena terlalu fokus dengan pencapaian mimpi-mimpinya.


Senin pagi dimana langit nampak sangat mendung. Namira tetap berangkat seperti biasa. Ia mengenakan jas hujan dan mendapati mobil Arnav sudah terparkir rapi. Ia bergegas naik ke lantai dua dan ternyata doa pagi telah dimulai. Arnav menjadi pemimpin pagi ini.


Hujan perlahan mengguyur hingga sore hari saat jam pulang kerja tiba.


"Eh, hari ini ada briefing aplikasi baru ya?" tanya Raja.


"Iya sore ini." Jawab Tama.


Namira memutar bola matanya.


"Halo kakak-kakak ganteng yang baik hati. Bisakah aku titip absen?" Tanya Namira dengan senyum manisnya.


"Aku tidak bisa meniru tanda tanganmu." Celetuk Raja.


"Kamu ada urusan? tanda tangan dulu kemudian pulanglah lewat pintu belakang." Ujar Arnav.

__ADS_1


Namira tersenyum senang sementara kedua rekannya menatap Arnav tidak percaya.


Namira bergegas turun dan mencari tempat duduk paling belakang. Ia harus dengan mudah dapat pergi dari area itu. Setelah absensi sampai di tangannya, ia langsung keluar menuju pintu belakang. Sesaat sebelum itu, ia sibuk membalas pesan dari Ria mengenai materi pelajaran bimbingan hari ini. Hujan mengguyur sangat deras hingga jas hujan yang dikenakan Namira tidak dapat melindungi sepenuhnya. Celana dan bajunya sedikit basah. Setelah ia tiba di lokasi bimbingan belajar, ia mencari ponselnya.


"Aduh, ponselku mana ya? Ria kamu lihat tidak ponselku?" tanya Namira cemas.


"Aku telpon dulu." Ria mencoba menenangkan.


"Ponselmu aktif dan tersambung."


Namira langsung merogoh pakaian dan tasnya.


"Apa tertinggal di kantor? aku titip kelasku ya." Ujarnya panik.


"Hujannya deras banget. Besok saja atau tunggu nanti." Saran Ria.


"Tidak bisa. Jangan sampai ponselku hilang atau habis baterai. Mungkin sekarang masih banyak orang di kantor." Jawabnya. Ia pun mengemudikan motornya dengan cepat.


Hujan sedang tidak bersahabat. Beberapa ruas jalan banjir dan membuat celana Namira makin basah. Saat tiba di kantor, lantai satu telah sepi dan sebagian ruangan telah dipadamkan. Ia bergegas ke lantai dua dengan kondisi basah. Nampak lampu di divisinya masih menyala. Ia langsung membuka pintu dan mendapati Arnav bersama laptopnya yang tengah menyala dan segelas kopi. Ia terkejut dengan penampilan Namira.


"Mas, ponselku hilang. Gimana ini?" Ia langsung menuju meja kerjanya dan membuka laci-laci dengan panik.


"Tenang Namira. Aku coba hubungi." Arnav bergegas menelpon ponsel Namira. Setelah agak lama akhirnya seseorang menjawab panggilan tersebut.


"Halo. Ini siapa ya?" tanya Arnav.


Seseorang menjawab di seberang ponsel dan tiba-tiba muncul di divisi Namira.


"Oh pak Bagus. Terima kasih pak." Ucap Arnav saat pak satpam tiba di hadapannya dan memegang ponsel Namira.


"Mbak, ini ponselnya. Saya temukan di kursi lobby." Ucapnya.


Namira mengucapkan terima kasih sambil membungkukkan badannya. Pak Bagus pun pamit. Di ruangan itu kini hanya Namira dan Arnav. Gadis itu mengotak atik ponselnya membalas pesan yang masuk satu per satu. Arnav pergi meninggalkannya dan kembali dengan membawa secangkir teh dan jaket.


"Pakai ini."


"Saya bawa jas hujan mas. Tidak usah." Jawab Namira dengan santai.


"Nanti kamu masuk angin. Sudah pakai saja. Saya bawa mobil."


Namira pun setuju dan akhirnya memakainya. Terdapat wangi khas Arnav di sana.


"Minum dulu." Tawar Arnav.


"Terima kasih."


"Ternyata kamu orangnya panikan ya?" Arnav membuka perbincangan.


"Ya karena ponsel kan mahal. Selain itu kontak semua teman ada di sana." Jawabnya jujur.


"Oiya, BI checkingnya apa sudah mulai dikerjakan? Sebaiknya dicicil saja supaya akhir bulan tidak terlalu lama lemburnya." Ujar Arnav.


"Yasudah saya kerjakan sekarang. Toh sudah terlanjur ijin mengajar." Namira bergegas ke meja kerjanya sambil membawa teh yang diberikan Arnav.

__ADS_1


__ADS_2