
"I.. iya!" Namira menjawab dengan sedikit salah tingkah.
"Gimana kabarmu?" Tanya lelaki berwajah timur tengah dengan hidung yang mancung berkulit putih pada Namira. Ia cukup tinggi dan tubuhnya atletis. Mirip dengan Arnav tetapi kulit pria itu lebih kinclong dari Arnav. Matanya yang kecoklatan memberi tampilan yang menawan .
"Ka.. kabarku baik. Kamu bagaimana?" Namira berusaha keras menahan kegugupannya.
"Aku baik juga. Kenapa kamu tidak pernah datang ke acara reuni?" Ia masih bertanya sambil berdiri karena orang-orang di sekeliling Namira termasuk orang yang disapanya tidak mempersilahkannya duduk.
"Iya. Aku sibuk." Jawab Namira sambil menunduk.
"Oh, kupikir kamu takut karena dia. Ya sudah selamat makan. Aku sudah selesai dan hendak pulang." Ucap pria tersebut.
Yahya.. Ya .. namanya adalah Yahya. Ia adalah pria tampan yang terang-terangan berkata jika Namira tidak menarik. Padahal gadis itu tidak pernah berkata menyukai Yahya. Ia juga sebenarnya tidak tertarik pada sosok laki-laki tersebut namun ucapannya kepada banyak orang benar-benar membuat gadis itu sakit hati.
Arnav menatap Namira dengan tajam sementara Firda merasa situasi ini sangat tidak nyaman.
"Mbak, aku mau ke rumah temen ya? Ini mau anter oleh-oleh. Aku sudah hubungi Faza dan sebentar lagi dia kesini." Firda ingin segera pergi dari situasi mencekam antara kakaknya dan calon kakak iparnya.
"Ya kamu berikan saja oleh-olehnya dan pulang sama aku." Jawab Namira ketus.
"Aku baru pulang dari rumah nenek setelah hampir dua minggu di sana. Aku mau main bareng teman-teman di rumah Irul. Faza kesini jemput aku." Firda tak kalah ketus.
"Pulangnya gimana?" Namira membulatkan matanya ke arah Firda.
"Aku bisa naik ojek atau Faza yang akan mengantar." Sahut Firda.
"Jam sembilan batasnya!" Ancam Namira. Firda hanya memutar bola matanya malas.
***
Arnav mengajak Namira pulang namun sepertinya ini bukan arah rumahnya.
"Kita mau kemana mas?" Tanya Namira.
" Ke rumahku. Selama seminggu sebelum pernikahan, aku mau kamu mendekorasi kamar agar nantinya kamu nyaman disana." Ucap Arnav tanpa memandang wajah Namira. Ia masih terus memikirkan siapa laki-laki itu dan apa hubungannya dengan Namira.
__ADS_1
"Oiya, siapa saja teman-temanmu yang akan kamu undang?" Arnav mencairkan suasana.
"Adit, Ria, Eka, Ridho, Hm.. Siska, Antari, yaa mungkin hanya segitu." Gumam Namira.
"Apa kamu akan berpelukan menangis bersama Adit?" Sindir Arnav.
Namira hanya meliriknya acuh.
***
Rumah Arnav dengan konsep berwarna kuning sontak membuat suasana hati Namira menjadi sedikit lebih baik. Ini kali kedua ia kemari.
"Mau minum apa?" Tanya Arnav.
"Tidak usah repot-repot. Biar nanti saya ambil sendiri." Jawab Namira. Ia masih mengamati kamar tamu.
"Kenapa?" Arnav kembali bertanya.
"Bukankah ini besok akan menjadi kamar saya?" Tanya Namira dengan ekspresi polosnya.
"Iya. Tentu saja terpisah." Jawab Namira lagj dengan polos. Hal itu membuat Arnav mengacak-acak rambutnya.
"Apakah ada orang menikah yang tidur terpisah? Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu? Apa kamu masih terikat perasaan dengan orang lain?" Arnav mulai kesal.
"Tidak. Saya rasa tidak." Jawab Namira sambil membuang wajahnya ke arah lain.
"Apa laki-laki tadi?" Tanya Arnav kembali.
"Bukan." Namira menjawab dengan tegas.
"Kamu anggap pernikahan ini apa?" Arnav mendekatkan wajahnya pada gadis itu yang sontak membuat Namira merasakan hawa panas.
"Perjanjian." Sahutnya datar.
"Aku menyukaimu. Haruskah aku bilang berkali-kali?" Arnav semakin mendekatkan wajahnya pada Namira. Gadis itu terus berusaha tenang.
__ADS_1
"Aku tidak butuh kata-kata. Tapi perbuatan. Aku juga tidak tau motif dibalik pernikahan ini. Kenapa mbak Prita bisa secinta itu atau kenapa mbak Dilla bisa selama ini memendam perasaannya. Tak hanya itu, mungkin ada juga beberapa wanita lain yang seperti mereka. Biasanya mereka begitu karena sudah menjadi bekas. Sampai sini paham?" Namira tak kalah tegas.
Arnav mengusap wajahnya kasar. Ia sungguh merasa Namira adalah wanita yang aneh soal percintaan.
"Ayo kita tes kesehatan. Besok malam sepulang kantor aku akan menjemputmu. Hari ini aku buatkan janji dulu dengan dokter." Ucap Arnav yang sudah kehilangan tutur kata sopannya. Begitu pun dengan Namira.
"Apa sebenarnya yang terjadi dengan kamu di masa lalu?" Arnav kembali melunak dan memegang tangan Namira. Gadis itu hanya diam hingga sesuatu mendarat di bibirnya.
Sesuatu yang hangat yang baru kali ini ia rasakan. Tak heran jika ia tetap diam tanoa tau harus berkata apa.
"Itu yang pertama bagiku. Aku rasa itu juga yang pertama bagimu melihat ekspresimu itu. Lantas kenapa hatimu seolah-olah masih bersandar pada orang lain di masa lalu?" Arnav menatap Namira sendu.
"Apa yang sudah masa lalu itu lakukan untukmu? Sehebat apa dia?" Arnav bertanya dengan menatap Namira namun gadis itu tetap memilih diam. Arnav merasa sedang berusaha membuka sebuah kotak namun belum menemukan kunci yang pas.
"Aku mau pulang." Namira bangkit untuk menghindar sedangkan Arnav menarik tangan gadis itu.
"Jangan pulang." Pintanya tanpa menatap Namira.
"Sebelas hari lagi. Sabarlah." Pinta Namira. Pria itu kemudian melepaskan tangan Namira dan mengantarnya pulang dengan motor.
"Apa rumah itu berhantu?" Tanya Namira pada Arnav setibanya di rumah Namira.
"Kenapa kamu berpikir begitu?" Arnav menatapnya heran.
"Karena mas seolah ketakutan di sana sendiri dan meminta saya tetap di sana." Jawab Namira.
Arnav hanya menatap gadis itu heran. Benar-benar gadis polos yang tidak paham modus lelaki. Ini tentu membuat Arnav semakin khawatir terutama jika Namira didekati pria lain.
Sambil mengelus rambut Namira, Arnav pamit pulang. Namira merasakan debarab di jantungnya. Ia sangat nyaman di dekat Arnav tanpa harus dipungkiri. Tiba-tiba listrik di rumah Namira mati. Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Diluar jendela, ia melihat listrik di rumah-rumah lainnya menyala. Ia berpikir sekringnya bermasalah dan hendak mengecek keluar rumah. Namun ia lupa mengunci pagar setelah Arnav pulang karena Firda nantinya akan pulang juga. Namira menjadi ragu untuk keluar rumah, khawatir pagar akan terbuka saat ia keluar menuju teras. Ia nampak bingung dan menuju ke lantai dua.
Motor itu! motor orang di kantor catatan sipil yang menguntitnya. Namira kembali turun dan bersembunyi di balik jendela.
Dia! Lelaki itu kini tampak tanpa masker dan tersenyum memasuki gerbang. Ketakutan menyelimuti Namira. Ia segera naik kembali ke lantai dua setelah meyakinkan pintu terkunci di lantai satu. Ia menutup pintu lantai dua dan menguncinya juga.
"Mas! Tolong! penguntit itu di sini" Namira berbisik menghubungi Arnav.
__ADS_1
"Kenapa berbisik? Bukankah dia tidak bisa masuk?" Tanya Arnav yang segera menepikan motornya saat melihat panggilan masuk dari Namira. Gadis itu tidak menjawab dan justru menangis.