
Hari ini Firda akan menemaninya ke mini market tapi tidak ke kampus. Tentu saja adiknya itu harus pergi ke sekolah terlebih dahulu. Namira menuju Siantar kurang lebih empat puluh lima menit menggunakan motor. Tak lupa ia berhenti di apotek untuk membeli pereda mual dan beberapa vitamin. Ia berusaha berjaga-jaga sekalipun saat ini kondisinya masih aman-aman saja dan hanya nafsu makannya yang meningkat.
Setelah selesai dengan daftar ulang serta pengambilan berkas, Namira menuju ke ruang Akademik. Ia menanyakan perihal keinginannya untuk kuliah jarak jauh. Semua dapat dipenuhi di dua semester awal. Namun untuk dua semester akhir, dirinya harus melakukan penelitian, praktek lapangan, dan menyelesaikan thesis. Akhirnya besok lusa ia sudah bisa kembali menemui Arnav. Ulang tahun Arnav di tanggal lima Agustus kemungkinan ia bisa merayakannya bersama. Setelah keluar kampus, ia tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
Degh...
Bani, dia Bani! Benarkah dia Bani?
Namira tidak habis pikir. Kenapa ia harus bertemu dengan orang yang benar-benar ingin ia lupakan dan jauhi.
"Maaf." Ucap laki-laki tersebut. Namira langsung pergi sebelum Bani menyadari jika itu adalah dia.
"Tunggu! Kamu Namira bukan?" Teriak Bani. Gadis itu bergegas ke parkiran dan melajukan motornya menuju ke mini market.
***
"Mbak Namira! Benarkah ini?" Iwan mendadak histeris.
"Iya ini aku!" Jawab Namira.
"Mana mas Arnav?" Tanya Iwan.
"Dia masih di sana. Aku kembali sendiri. Bagaimana kabarmu? Sudah mendapatkan teman?" Tanya Namira yang disambut segelas coklat hangat di minimarket.
"Sejauh ini Riko membantuku lagi. Oh iya mbak, apa mbak mau ke rumah? Bawa kuncinya tidak?" Tanya Iwan.
"Kuncinya ketinggalan. Nanti aku akan kembali dengan Firda. Atau mungkin besok. Sebenarnya aku akan kemari dengan Firda tapi aku malas bolak balik." Jawab Namira sambil mengamati kondisi mini market.
"Ah aku kangen roti itu! Aku minta satu ya!" Namira kegirangan menemukan roti krim susu kesukaannya.
"Bawa saja apa pun yang tidak ada di sana mbak! Silahkan!" Jawab Iwan sambil tersenyum. Ia menghubungi Arnav dan melakukan panggilan video.
"Hai Wan!" Sapa Arnav.
"Mas Arnav, saya pikir ikut kemari. Ternyata benar mbak Namira kemari sendiri? Tumben mas Arnav tega!" Celoteh Iwan.
"Sebenarnya aku tidak tega dan terus khawatir. Tapi aku tidak mau timbul masalah. Apalagi Namira tidak menyukai pemborosan." Jawab Arnav yang kemudian mencari keberadaan istrinya.
"Dia sedang mengambil banyak camilan yang katanya tidak ditemukan disana!" Jawab Iwan seolah memahami apa yang dicari Arnav.
"Haha! Biarkan saja! Apa dia kesana dengan adiknya?" Arnav memastikan.
"Tidak. Dia kemari sendiri setelah dari kampus." Jawab Iwan.
Arnav nampak marah dan menyuruh Iwan memberikan ponselnya pada Namira. Gadis itu sedang menikmati es krim di kursi pengunjung.
__ADS_1
"Halo mas!" Sapa Namira.
"Apa kamu pergi ke kampus sendiri?" Arnav sudah memasang wajah menakutkannya.
"Iya." Jawab Namira cuek.
"Perjalanannya jauh! Seharusnya minta pada Firda untuk mengantar! Dia kan sudah bisa menyetir!" Gerutu Arnav.
"Oh iya! Ngomong-ngomong soal menyetir, aku mau belajar mas! Aku akan ke tempat kursus dulu ya! Besok lusa aku kembali! Tolong pesankan tiket!" Pinta Namira.
"Kamu mau belajar nyetir? Dua hari? Berapa jam sehari? Aku tidak mengijinkan!" Protes Arnav.
"Kenapa tidak boleh?" Namira menjawab santai.
"Itu berbahaya untukmu dan...." Ucapan Arnav terhenti.
"Dan apa? Pilih ijinkan aku kursus dan aku pulang lusa atau tidak ijinkan dan aku tidak kembali kesana?" Ancam Namira.
Arnav kalah telak. Akhirnya ia mengangguk pasrah.
"Tapi ingat! Hati-hati! Jika lelah maka hentikan latihannya. Berikan aku nomor ponsel pelatihmu!" Arnav masih nampak khawatir.
"Jangan berlebihan mas! Kekanakan sekali!" Gerutu Namira.
***
Ucap Arnav dalam hatinya.
Hari kedua di pulau Delta. Namira membersihkan rumah Arnav dan kursus. Kemudian ia menemui Arini, Adit, dan Ria. Mereka makan dan bercerita panjang lebar. Ia juga mengajak Firda selaku supir pribadinya. Setelah merasa lelah mereka kembali dan esok adalah hari terakhirnya di rumah.
"Ma, hari ini Namira mau membeli beberapa oleh-oleh, kemudian kursus, pulang sebentar, lalu ke bandara." Terang Namira. Mamanya mengijinkan. Tak lupa Namira membeli banyak kebutuhan pokok untuk keluarganya dan beberapa perabotan yang perlu diganti.
"Baru dua bulan di sana kamu sudah bisa membelikan ini itu." Ucap mamanya.
"Iya. Gaji di sana lumayan besar ma." Sahut Namira. Tanpa banyak bicara ia melanjutkan agendanya.
"Halo mas, aku sudah di bandara. Jemput empat jam lagi ya." Pinta Namira.
Arnav merasa sangat senang. Walaupun artinya ia harus menjemput tengah malam, baginya tidaklah masalah.
***
Dua sejoli itu kini bertemu kembali.
"Kamu membawa barang sebanyak ini? Apa saja isinya?" Arnav nampak marah.
__ADS_1
"Semua itu makanan dan beberapa diantaranya oleh-oleh untuk teman-teman di klinik." Terang Namira dengan wajah berseri. Arnav semakin curiga jika semua ini adalah kesengajaan karena Namira tidak mau menjaga kandungannya dengan baik.
Mereka tiba di rumah dini hari.
"Mas, aku lapar. Kardus-kardus ini akan aku pilah dan beberapa makanan akan aku santap malam ini. Mas mau yang mana?" Tanya Namira ramah.
"Aku tidak usah." Jawab Arnav. Ia tidak hanya kesal dengan tingkah Namira yang merahasiakan kehamilannya. Ia juga kesal karena istrinya tidak mengucapkan ulang tahun padahal hari sudah berganti karena ini sudah dini hari.
Tak lama kemudian Namira masuk ke kamar membawa kue tart.
"Selamat ulang tahun suamiku! Semoga panjang umur! Ini masih tanggal lima di pulau Delta! Haha!" Namira merasa puas mengerjai Arnav. Lelaki itu nampak terharu dan mengecup pipi Namira.
"Terima kasih!" Ia meniup lilin tersebut.
"Tadi mama menelponku mengucapkan selamat. Ia menanyakan kamu tapi kukatakan kamu sedang bekerja. Apa mama menelponmu?" Tanya Arnav.
"Tidak kok. Tenang saja." Jawab Namira riang dan mulai menikmati kue tersebut.
"Oh iya! Aku punya kejutan!" Ia mengeluarkan sebuah kertas hasil USG pada Arnav.
"Kapan kamu memeriksakannya?" Arnav nampak terpukul karena dirinya tidak diajak melihat perkembangan anaknya bersama.
"Kok tidak terkejut sih mas? Aku memeriksakannya tadi di Pulau Delta. Ia sudah berumur lima minggu." Terang Namira.
"Aku sudah tau dan menunggu alasanmu merahasiakannya. Apa kamu merawatnya dengan baik?" Arnav menatap sendu.
"Sejak kapan mas tau? Aku merahasiakannya karena ingin memberi kejutan. Jika ditanya apa aku merawatnya, tentu saja. Aku meminum vitamin, susu, dan makan yang banyak." Jawab Namira sambil mengunyah kue.
"Aku tau sejak di pulau Karimun." Arnav menggenggam tangan istrinya.
"Tapi aku punya permintaan." Namira menghentikan aktivitas makannya.
"Katakanlah. Apa itu?" Arnav menatap lembut.
"Rahasiakan ini dari keluarga kita." Namira berkata dengan tegas sedangkan Arnav masih memasang wajah yang kebingungan.
.
.
.
.
Like and comment yaa
__ADS_1