
Mereka mencari taksi untuk menuju rumah Namira. Tak hentinya Arnav merangkul gadis itu dengan begitu natural selayaknya seseorang yang selalu ingin melindungi. Keluarga Arnav telah berada di rumah mertua Arnav.
"Wah, ini dia pengantin baru kita!" Sorak Farhan dan Firda.
Namira merasa sangat malu, begitu pula dengan Arnav. Mereka bergegas duduk ke ruang keluarga.
"Namira, siapkan keperluanmu untuk dibawa ke rumah." Pinta Arnav. Gadis itu mengangguk dan langsung menuju kamarnya.
"Hufh, aku selamat." Gumamnya.
"Baik bu Megumi dan pak Edi, kami hendak berpamitan dan sampai jumpa kembali. Kami titip Arnav ya." Pak Satria dan pak Edi saling berpelukan demikian pula dengan bu Megumi dan bu Santi. Orang tua Namira juga menyerahkan oleh-oleh untuk mereka.
"Hati-hati di jalan pak, bu, dan mbak Sari beserta keluarga!" Ucap bu Megumi.
"Arnav dan Namira pamit dulu bu, pak!" Ucap Arnav sambil membukakan pintu mobil untuk Namira.
"Kapan kalian menginap di sini?" Tanya bu Megumi yang berat akan berpisah dengan anaknya.
"Akhir pekan bu, saat saya libur ke kantor." Ucap Arnav dengan senyumnya.
Mereka pun berpamitan dan menuju bandara.
Setelah memarkirkan kendaraan, mereka beriringan menuju pintu keberangkatan.
"Antar sampai sini saja, kalian pasti lelah kan?" Ucap Pak Satria.
"Tidak pak." Jawab Namira.
"Sudah, sampai sini saja tidak apa. Jangan lupa program membuat cucu untuk mama ya!" Pesan bu Santi.
Baik Arnav dan Namira tidak berkomentar dan hanya tertunduk.
"Loh kalian berencana menunda? Sampai kapan?" Tanya bu Santi penuh selidik.
"Sampai Namira lulus kuliah ma." Jawab Namira lembut.
"Tidak harus menunggu selesai kuliah dong nak. Itu kan tidak langsung jadi. Begitu menyusun thesis langsung diprogram ya." Pesan bu Santi sambil tertawa.
"Iya, mbak tidak sabar untuk segera memiliki keponakan." Timpal Sari.
"Sudah-sudah! Jangan membuat kami malu. Hati-hati di jalan ya! Libur akhir tahun aku kesana bersama Namira." Ucap Arnav.
Mereka segera berpamitan dan kini Namira dan Arnav menuju ruang parkir. Arnav kembali menggenggam tangan Namira.
"Mas, kita seperti anak sekolah yang baru pacaran." Keluh Namira.
"Oh ya? Memang kenapa?" Arnav berpura-pura bodoh.
"Aku malu dilihat banyak orang." Ujar Namira.
Arnav justru merangkulnya.
"Suami kamu jelek ya makanya jadi malu?" Goda Arnav.
__ADS_1
"Bukan, justru saya takut mereka berpikir sebaliknya seperti pemikiran teman-teman di kantor." Ujar Namira sambil berbisik.
Arnav menghela nafas.
"Tidak semua orang itu sama." Ia menepuk pundak istrinya.
***
Mereka menuju supermarket untuk membeli sayuran segar dan lauk pauk.
"Malam ini kita makan apa mas?" Namira bertanya sambil memilih sayuran.
"Aku makan kamu saja." Bisiknya di telinga Namira. Wanita itu menjadi sangat kikuk dan memukul pundak Arnav.
"Malam ini kita makan di luar saja. Besok baru mulai memasak. Terserah beli apa saja untuk stok seminggu." Saran Arnav.
Mereka menuju ke restoran pizza. Menikmati satu pan pizza untuk Arnav, satu spaghetti untuk Namira dan salad sebagai penutup sudah dapat memenuhi perut mereka.
"Kita pulang sekarang? Aku besok harus ke kantor." Ucap Arnav.
Namira mengangguk. Mereka menuju parkiran mobil dan mulai melaju.
"Mas, nanti ajari tentang mini market ya?" Pinta Namira. Arnav tersenyum sambil menggenggam tangan istrinya.
"Siap. Mulai besok kamu akan memantau mini market, belajar untuk ujian masuk magister, lalu juga belajar menyetir mobil." Ucap Arnav.
Namila tersenyum mendengar perintah Arnav.
"Aku tidak masalah kemana-mana naik motor mas." Timpalnya.
"Baiklah." Jawab Namira pasrah.
***
Pintu gerbang dibuka, mobil sudah masuk ke garasi. Arnav membukakan pintu.
"Aku mandi duluan ya mas." Ucap Namira.
Arnav segera merapikan kamarnya yang ternyata sudah didekorasi keluarganya. Ia menyalakan AC dan menatap dinding dimana disana telah tergantung foto pernikahan mereka dalam ukuran besar. Arnav memilih mandi menggunakan kamar mandi di dalam kamarnya agar bisa meluangkan waktu lebih lama bersama Namira nantinya.
"Eh, mas Arnav juga sudah mandi ternyata." Gumam Namira.
Arnav tersenyum sambil duduk di sofa ruang tengah dan membuka laptopnya.
"Ayo sini belajar pembukuan dulu." Ajak Arnav sambil menarik tangan Namira.
"Sebentar, aku ke kamar dulu memasukkan baju-bajuku." Jawab Namira. Ia menuju ke kamar tamu.
"Lho, kenapa kamarnya tidak bisa dibuka?" Tanya Namira heran.
"Mau apa ke kamar itu? Kamarmu di kaamr utama, bersamaku." Jawab Arnav santai. Namira kembali gugup namun ia hanya menurut.
Setelah itu ia kembali menemui Arnav dan mereka mempelajari profit, stok opname produk, serta cara memberi harga. Namira mengamati dengan serius.
__ADS_1
"Setiap hari Iwan akan memberikan laporan, atau kamu bisa mengeceknya secara online." Ucap Arnav.
"Siap." Namira tersenyum senang.
"Apa kamu belum mengantuk?" Tanya Arnav sambil membelai rambut bagian depan Namira dan menyisipkannya ke telinganya. Jujur saja sebenarnya ia gugup melakukan ini. Tapi jika ia diam saja, hubungan mereka dijamin tidak akan berkembang.
"Aku mengantuk. Oh iya mas, bolehkah aku membuat jajanan untuk dijual di minimarket?" Tanya Namira antusias.
"Boleh. Tapi aku cicipi dulu ya." Balas Arnav sambil membelai pipi istrinya. Tentu saja Namira merasa risih.
Di tempat tidur Arnav memasang posisi di atas tubuh Namira dan mengunci kaki gadis itu.
"A.. ada apa mas?" Tanya Namira gugup.
"Tidak ada apa-apa." Jawabnya seraya mencium kening Namira.
"Aku sangat senang. Terima kasih Namira." Ucapnya saat mereka saling berhadapan.
"Aku... Ah sudahlah ayo tidur." Namira yang gugup tidak tau harus berkata apa. Mereka berusaha terlelap namun sangat susah.
Arnav mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Samar-samar ia melihat wajah Namira kemudian mendekat mengikuti perasaannya.
Seketika Namira yang belum tertidur pun membuka matanya.
"Ada apa?" tanyanya lembut.
Arnav tidak menjawabnya dan semakin mendekat.
"Kapan kira-kira kamu siap?" Tanya Arnav lembut membuat gadis itu salah tingkah.
"Ayo tidur." Ajak Namira. Mereka pun tertidur sambil berpelukan.
***
"Mas, sarapan sudah siap! Aku membuat roti bakar dan ini bekal makan siangnya." Jelas Namira panjang lebar.
"Siap. Terima kasih." Ucap Arnav sambil tersenyum.
"Aku berangkat ya." Ia mencium pipi istrinya dan beranjak ke kantor dengan mobil. Kini Namira sendirian. Ia membereskan rumah, menyiram tanaman, dan menuju ke mini market.
"Halo Iwan! Mohon bantuannya." Sapa Namira. Mereka pun berkutat dengan stok mini market dan melakukan evaluasi. Tak lupa Namira meminta laporan harian dan mengevaluasi keuntungan mini market.
***
Arnav langsung mendapat sorakan dari teman-temannya. Tak hanya itu, bekal makan siangnya yang berbentuk karakter lucu seperti bento pun sontak membuat teman-teman satu tim nya gaduh.
.
.
.
.
__ADS_1
jangan lupa like and vote yes.
tengkyu.