
Namira masih mencerna perkataan Arnav. Mungkin benar bahwa tidak ada rumah tangga yang sempurna. Ia juga tidak menyangka semua akan menjadi begini.
"Selamat pagi Namira!" Arnav mengecup keningnya dan beranjak dari tempat tidur. Pria itu tidak nampak seperti biasanya. Aktivitas mereka berjalan seperti biasa. Namira pergi ke klinik mengendarai mobil.
Tepat di pertigaan sebelum ke klinik, sebuah mobil menabraknya dengan keras. Perut dan kepalanya membentur stir mobil.
"Ah!" Namira menyentuh kepalanya yang lebam dan sedikit tergores. Ada darah segar mengalir. Seorang wanita menghampiri mobilnya.
"Ya ampun Namira! Maaf aku tidak sengaja!" Wanita itu ternyata adalah Dilla.
"Jelas-jelas lampu lalu lintas di hadapanku hijau. Berarti di hadapan mbak adalah merah! Kenapa masih tetap jalan?" Namira memprotes alasan tidak sengaja dari Dilla.
"Oh aku melamun! Tapi apa tidak ada yang cacat?" Dilla nampak memeriksa. Arnav yang hendak menyusul Namira ke klinik karena jas Namira tertinggal di rumah, mendapati pemandangan itu. Saat ia hendak mendekat, terdengar teriakan Namira.
"Kamu berharap aku cacat? Kamu sengaja? Lalu kalau cacat kamu akan bersama Arnav? Begitu? Ambil sana! Ambil saja si Arnav itu beserta paket keluarganya! Dengan senang hati!" Namira kembali ke dalam mobil dan mengegasnya kencang. Dilla menatap terheran.
Di sisi lain Arnav yang menatap kejadian itu hanya bisa terdiam. Ia terus menatap Dilla yang tidak sadar akan kehadiran pria itu.
"Oke, karena kamu sudah memberi suamimu, berarti aku tinggal membuat suamimu datang sendiri padaku." Dilla tersenyum sinis.
Arnav mengepalkan tangannya seolah frustasi. Ia tidak tau jika Namira menjadi sangat benci padanya dan keluarganya. Itu hanyalah kesalahan mamanya dan tidak seharusnya Namira juga membenci Arnav.
Serkan memanggil...
"Halo!" Ucap Arnav.
"Halo! Bisakah kamu ke klinik? Sebenarnya apa yang terjadi? Namira kembali kesini? Lalu apa-apaan ini? Dia terluka!" Tanya Serkan bertubi-tubi.
"Apa dia membutuhkanku di sana?" Arnav bertanya putus asa.
"Apa maksudmu? Dia pingsan sekarang! Sepertinya dia kelelahan dan syok!" Terang Serkan.
Arnav menjalankan motornya menuju klinik.
***
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Arnav panik.
"Dia syok. Sebaiknya kita rujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan lengkap." Ujar Serkan.
"Apa kandungannya baik-baik saja?" Arnav menggigit bibirnya penuh kecemasan.
"Kandungan? Dia hamil?" Serkan menatap tak percaya.
Arnav mengangguk.
"Wah, apa-apaan ini! Dia sama sekali tak nampak hamil! Aku khawatir ada trauma pada tubuhnya. Ayo bawa ke rumah sakit!" Serkan langsung memanggil supir ambulans.
__ADS_1
"Dilla, aku tidak akan membiarkanmu!" Arnav bergumam.
"Kenapa kalian terlalu banyak drama?" Serkan membuka obrolan.
"Entah. Keluargamu akankah mempermasalahkan siapapun yang menjadi menantu mereka?" Arnav nampak putus asa.
"Maksudnya? Aku tidak peduli mereka mempermasalahkan atau tidak." Serkan menjawab sekenanya.
"Bagaimana jika istrimu mempermasalahkannya?" Arnav kembali menyelidik.
"Aku akan meyakinkan dia untuk tidak mempermasalahkannya. Bahkan jika kami harus tinggal di planet lain itu tidak masalah asal kami bahagia." Jelas Serkan.
"Aku sudah mencoba meyakinkan dia. Kami juga sudah di sini, jauh dari keluarga. Tapi dia tetap saja belum bahagia." Arnav menunduk menatap wajah istrinya.
"Singkirkan apapun yang membuat kalian tidak bahagia. Sesimpel itu." Serkan meyakinkan.
Arnav menepuk pundak Serkan. Kini dokter dingin itu telah benar-benar menyerah.
***
"Namira hanya mengalami trauma ringan di kepala. Ia juga kelelahan dan stress. Aku kembali ke klinik. Jaga dia baik-baik." Serkan menepuk pundak Arnav.
Pria itu menggenggam tangan Namira. Ia merasa gagal menjaga dan membahagiakan istrinya.
Serkan yang baru saja menuju lift mendapati sosok Vita yang keluar dari lift.
"Dia baik-baik saja. Ada apa kemari?" Tanya Serkan dengan tatapan dingin.
"Saya dihubungi pak Arnav. Ada beberapa berkas yang ia minta." Jawab Vita menunduk.
"Baiklah. Saya duluan!" Ucap Serkan sambil berlalu.
"Pak Serkan!" Panggil Vita. Serkan pun menoleh.
"Saya mungkin sudah salah sangka pada Anda. Tapi saya juga belum bisa membuktikan bahwa kejahatan Anda pada teman saya itu tidak nyata." Vita menatap Serkan dengan tatapan tidak yakin.
"Saya tidak peduli dunia membenci saya. Jika saya melakukan kesalahan, saya pasti membenci diri saya sendiri, tapi nyatanya saya menyayangi diri saya." Ia pun berlalu.
tok tok tok
"Pak Arnav, ini berkas yang diminta." Vita memberikan beberapa lembar berkas. Ia juga menatap Namira yang berbaring pucat.
"Pak, ada apa ya? Maaf jika saya lancang. Apa ini ada hubungannya dengan mutasi bu Dilla?" Vita mencoba mencari jawaban Arnav.
"Iya. Jika sudah selesai kamu boleh kembali ke kantor. Maaf jika pekerjaanmu merembet. Berhubung Dilla adalah HRD, saya kesulitan mencari divisi yang dapat memecat atau memutasi dia." Arnav berkata dengan raut wajah lelah.
"Baik pak, saya permisi." Vita pun pamit.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Namira sadar. Ia memegang kepalanya.
"Uh, sakit!" Keluhnya.
"Sayang, pelan-pelan." Arnav membimbing Namira untuk duduk.
"Ah, aku ingat! Aku berdebat dengan Dilla lalu ke klinik. Apa ini klinik?" Namira bertanya pada Arnav.
"Bukan, ini rumah sakit." Arnav membelai rambut istrinya.
"Kenapa ke rumah sakit segala?" Namira sedikit emosi karena dianggapnya semua ini berlebihan padahal ia baik-baik saja.
"Serkan menyarankan kemari. Kamu pingsan." Jawab Arnav lembut.
"Mas, pergilah! Semua ini gara-gara kamu! Kenapa sih tidak menikah saja dengan Dilla? Setidaknya dia tidak membahayakan orang lain lagi!" Bentak Namira.
Arnav menghela nafasnya.
"Benarkah maumu seperti itu?" Arnav menatap Namira sendu.
"Aku lelah dengan semua ini!" Namira membuang wajahnya.
"Kita cari solusinya. Berpisah itu bukan solusinya." Arnav masih berusaha bersabar.
Namira menghembuskan nafasnya.
"Namira, kita babymoon saja ya! Kita ke Sin pekan depan." Ajak Arnav.
"Aku bekerja!" Gerutu Namira.
"Sebaiknya kamu berhenti saja. Buat usaha sendiri di rumah sambil mengurus perkuliahanmu. Aku rasa kamu terlalu tertekan dengan semua kesibukan ini." Usul Arnav.
"Sebaiknya berhenti menjadi istrimu mas. Itu yang paling benar! Bagian itu yang paling membuatku tertekan!" Keluh Namira.
"Baik, aku akan keluar kota sementara waktu. Buktikan kalau kamu memang tidak membutuhkanku!" Arnav beranjak dari tempat duduknya dan pergi. Arnav akan ke Pulau Samo untuk mengurus mutasi Dilla. Ia merasa gadis itu harus disingkirkan di tempat yang tak terjamah dan tak ada hubungannya dengan kehidupan Namira maupun Arnav.
"Halo Dilla. Kamu sudah menerima berkasku?" Tanya Arnav melalui ponselnya.
"Iya. Aku tidak paham apa maksudmu? Kenapa aku dimutasi?" Tanya Dilla kecewa.
"Aku akan mengantarmu. Tenang saja. Kamu harus mengembangkan karirmu dengan baik.Sore ini kita berangkat." Tegas Arnav. Perjalanan akan memakan waktu lima jam. Ia sudah menyiapkan ponselnya untuk memfoto segala aktivitasnya berdua dengan Dilla sela diperjalanan dan menyebarkannya di sosial media miliknya.
.
.
.
__ADS_1
.