
Tanggal 8 April
Namira mengirim pesan pada Siska bahwa ia sudah resmi berhenti. Arnav yang mendengar berita iti dari Siska hanya bisa menahan diri. Ia mencoba mencari tahu apa yang membuat gadis itu sangat kesal kemarin.
"Dilla, ini surat pengunduran diri Namira." Arnav menyerahkannya ke ruangan Dilla.
"Sayang sekali dia kemarin pamit dengan kasar." Ujar Dilla dengan raut wajah kecewa.
"Jadi dia sudah pamit denganmu?" Arnav nampak bingung.
"Iya. Dia pamit dengan sangat kasar. Arnav, kita seumuran dan teman sejak kuliah di Kota Sura. Aku jadi aneh dengan seleramu." Ucap Dilla yang spontan membuat Arnav bingung.
"Maksudmu? Kamu tau sendiri kan aku tidak pernah pacaran? Aku dulu sempat suka dengan Novi tapi aku memantaskan diri dulu dan merelakan dia yang tidak bisa menungguku untuk jadi mapan." Jelas Arnav.
"Novi sudah tau kamu anak orang kaya. Buat apa memantaskan diri? Tapi memang Novi tidak menyukaimu dengan kapasitas yang besar. Kali ini kamu juga menyukai Namira yang nampaknya tidak peduli padamu." Ujar Dilla.
"Maksudmu? Dari mana kamu bisa berpikir kalau aku menyukai dia?" Arnav memancing Dilla.
"Lho, kamu bilang kalian akan menikah tanggal 20. Kemudian kamu juga nampak lega saat tau jika Namira minder dan bukannya tidak suka denganmu." Terang Dilla.
"Jadi aku nampak bertepuk sebelah tangan?" Arnav menghela nafas.
"Ya. Lagi-lagi begitu. Perjanjian apa sebenarnya yang kamu buat? Masih banyak wanita yang menerimamu tanpa perjanjian." Saran Dilla.
"Wanita yang menerimaku tanpa perjanjian adalah wanita yang tidak bisa membuat aku menyukai mereka." Jawab Arnav dengan tegas. Ia lantas kembali ke ruangannya.
"Mas! Pantesan mbak Namira langsung mengundurkan diri. Ya ampun di BO mereka ngomongin mbak Namira segitunya!" bisik Siska pada Tama.
Melihat Arnav masuk ke ruangan, Siska langsung terdiam.
"Ada berita apa Siska? Bicara saja. Saya tidak akan marah." Pinta Arnav.
"Janji ya mas tidak marah?" Ucap Siska takut.
Arnav mengangguk.
"Mereka berkata kalau mbak Namira pakai pelet godain mas Arnav. Lalu kata mereka baguslah mbak Namira pergi dari sini karena tidak berguna. Mbak Diana saja lima tahun baru bisa membuat mas Arnav berbaik hati dan menjadi akrab. Duh macem-macem mas omongannya. Saya tidak sanggup melanjutkan." Jelas Siska.
"Terima kasih." Jawab Arnav. Ia sebisa mungkin menahan diri untuk tidak marah.
****
"Baguslah kalau dia sudah keluar dari sini. Kamu harus dekati teman akrabnya agar tau rencana dia selanjutnya. Aku akan menyingkirkan Arnav sejauh mungkin dari dia. Nah selanjutnya kamu urus wanita itu hingga Arnav jadi jijik dengannya." Timpal Prita.
__ADS_1
Pria itu hanya mengangguk.
***
Dilla berjalan menuju BO dan melewati ruang teller.
"Apa dandananmu ini mencerminkan patah hati?" Ejek Dilla pada Prita.
"Kupikir Ida adalah sainganku. Ternyata justru kamu ya!" Cerca Prita.
"Aku tidak level bersaing denganmu!" Bisik Dilla.
Prita menghembuskan nafasnya merasa benar-benar tertipu dengan pikirannya. Ia terkejut saat melihat foto Arnav di dompet Dilla yang ia tinggalkan di pantry. Dari situlah ia mengetahui kebenarannya jika gadis itu pasti menyukai Arnav. Tidak seperti dirinya yang menunjukkan pada dunia bahwa ia menyukai Arnav. Dilla nyatanya hanya diam dan tenang berbekal pengetahuannya soal Arnav sejak masa kuliah.
"Aaaaahhhhh!!!?" Prita berteriak kesal karena merasa kecolongan. Secepatnya ia harus menyingkirkan Namira kemudian mengambil hati Arnav. Ia juga harus menunjukkan kebusukan Dilla.
"Halo pak Hari! Bagaimana pembukaan cabang Ternate? Jika bapak membutuhkan Teller berkualitas, saya siap pindah tugas pak! Tidak lupa juga saya akan mengirimkan nama-nama pegawai terbaik di masing-masing divisi." Ucap Prita pada seseorang do telepon.
***
Namira mengemasi pakaiannya dan hendak menyusul orang tuanya ke rumah nenek. Perkiraan mereka akan kembali di tanggal 15. Tentu saja akan sangat merepotkan jika gadis itu harus sendirian di rumah.
"Tidak usah! Firda akan menemanimu ya? Firda akan mama suruh pulang. Mama dan papa masih harus di sini menunggu oleh-oleh khas pulau ini. Nantinya akan mama berikan ke calon besan. Oiya! besanmu baik sekali. Mama sering berkomunikasi di telepon." Cerita bu Megumi panjang lebar. Namira tidak tertarik dan memutuskan untuk menyudahi percakapan mereka. Firda akan tiba besok. Namira meminta Ria menginap.
Ini adalah kesempatan untuk bertanya lebih lanjut soal Riyan.
"Kamu merasa ada yang aneh nggak dengan Riyan?" tanya Namira tiba-tiba.
"Riyan temen SD ku? Tidak ada tuh. Kalian satu tempat kerja kan?" Tanya Ria.
Namira mengangguk.
"Ya cuma basa basi aja sih nanya rumahmu dimana gitu." Jawab Ria santai.
"Trus kamu beri tau?" Namira nampak marah.
"Iya dong. Lagian dia tanya begitu kan karena kalian teman kerja." Sahut Ria yang bingung alasan Namira marah.
"Kamu tidak curiga dia suka sama aku?" Namira kembali menaikkan nada bicaranya.
"Kok kamu geer banget? Dia emang anaknya pecicilan begitu kok. Hobi gombal juga kemana-mana." Terang Ria sewot.
"Kamu bilang tidak aku mau nikah?" Tanya Namira lagi.
__ADS_1
"Tidak. Memangnya beneran kamu mau nikah?" Ria menjawabnya dengan pertanyaan.
"Tidak usah bilang siapa-siapa ya!" Pinta Namira.
"Haduh! Kamu suka Riyan?" Ria merasa curiga.
"TIDAK!" Tegas Namira.
"Yaudah lalu kenapa tidak boleh bilang ke Riyan kalau kamu akan menikah?" Tanya Ria sewot.
"Pulang sana sekarang! Tidak usah menginap. Pokoknya jangan sampai ada yang tau aku mau menikah dan dengan siapa atau setelah itu tinggal dimana. Pokoknya kamu harus janji!" Ancam Namira.
"Oke oke. Kayaknya ini sindrom pra nikah. Aku pulang deh!" Lanjut Ria. Ia pun pulang berjalan kaki karena memang rumah mereka dekat.
Namira seakan kehilangan semua ketakutannya dan memutuskan di rumah sendiri.
Bel rumahnya berbunyi. Nampak sebuah mobil yang sudah ia hafal.
"Ngapain lagi dia kesini?" Gumam Namira kesal.
"Ada apa mas?" Tanyanya judes pada Arnav. Pria itu nampak bingung.
"Saya masuk ya. Sebentar saja." Pintanya. Namira mempersilahkan ia masuk.
"Apapun yang kamu dengar di BO tidak perlu diambil pusing. Saya akan mengurusnya." Terang Arnav.
"Tidak perlu diurus. Saya sudah mengundurkan diri!" Jawabnya ketus.
"Namira, apa perlu kita ke psikolog? Dilla mempunyai beberapa refrensi yang baik." Saran Arnav.
"Kenapa orang-orang di BO bisa berbicara seperti itu? Apa mas Arnav menceritakan sesuatu tentang kita pada salah satu orang kantor?" Tanya Namira kesal dan tidak menggubris perkataan Arnav sebelumnya.
"Tidak ada. Hanya Dilla. Dia temanku sejak kuliah. Dia sangat baik." Timpal Arnav.
"Kenapa tidak menikah dengan mbak Dilla?" Tanya Namira penuh emosi.
"Kamu cemburu?" Arnav kembali bertanya.
.
.
.
__ADS_1