
"Wah, jangan begitu dong. Namira baru saja mulai terbiasa dengan tugasnya dan dia sangat membantu kami." Sela Pratama.
"Kalian cari saja admin baru dan didik seperti dia." Jawab Arnav.
Namira ketar ketir. Di satu sisi ia sudah merasa nyaman, tapi di sisi lain ia berpikir bahwa sungguh hebat jika bekerja di pusat.
"Namira, kamu mau?" tanya Pratama.
"Dia harus mau. Tidak ada pilihan, jadi untuk apa bertanya padanya." Sela Arnav. Lelaki itu pun pamit undur diri.
"Ah seenaknya saja!" Adrian kesal.
"Sepertinya dia tidak suka jika anak perusahaan lebih unggul dari pusat." gerutu Tristan.
"Bukan. Di pusat pekerjaan pasti lebih banyak dari di sini. Mungkin Namira akan sangat membantu di sana. Kasihan juga jika performa pusat buruk." Terang Pratama yang berusaha mencairkan suasana.
"Dia harusnya cepat-cepat cari istri supaya tidak terlalu kaku dalam hidup ini." Adrian masih terus menggerutu.
"Apa hubungannya? Arnav juga ingin menyelamatkan timnya." Bela Pratama.
"Dia umur berapa sih?" Tristan nampak penasaran.
"30 tahun. Kami seumuran." Jawab Pratama.
Namira hanya diam saja menyimak.
"Kamu mau kan diperbantukan di sana? Ini hanya sementara." Jelas Pratama.
Namira tidak memberi komentar.
"Di sana lebih dekat dari rumahmu. Pastinya biaya bahan bakarmu akan berkurang." Jelasnya.
"Tapi di sana kamu harus hati-hati! Seragam, sepatu, sampai segala-galanya akan diperhatikan secara detail. Manajernya juga merupakan orang yang harus kamu waspadai." sambung Adrian.
Melihat Namira diam saja, mereka berdua menyudahi komentar-komentar versi mereka.
"Yasudahlah. Lagi pula belum tentu jadi." Lerai Tristan.
__ADS_1
***
Pagi dengan mendung syahdunya. Namira berangkat sambil membawa bekalnya. Sesampainya di kantor, Pratama langsung mengajak Namira duduk di sofa tamu.
"Kamu boleh pulang awal hari ini untuk mempersiapkan harimu besok di kantor utama." Jelas Pratama. Gadis itu terkejut.
"Gajimu akan naik selama di sana. Pergaulanmu akan lebih luas dan akan mendapatkan lebih banyak informasi. Kapanpun kamu merasa tidak betah, bilang pada saya. Saya akan menarikmu kembali kesini." Ujar Pratama. Namira hanya menunduk. Usai jam makan siang, ia berpamitan menuju sebuah toko kemeja. Ia mencari beberapa warna kelam agar cocok dipadu padankan dengan warna apapun. Sayangnya ketika hari hampir sore, ia tetap tidak mendapatkan sepatu berhak 5 cm. Berhubung langit semakin gelap, ia memutuskan pulang dan meminjam sepatu milik Ria.
"Wah, besok ke kantor pusat? Ini keberuntungan! Baru beberapa minggu saja sudah pindah dan naik pangkat!" Ujar mama Namira bangga.
"Iya. Tapi pekerjaanku lebih banyak karena harus menjadi admin pusat dari berbagai cabang Az." Balasnya.
Namun mamanya tidak terlalu peduli.
***
"Selamat pagi!" Sapa Namira gugup kepada satpam. Bapak itu hanya mengangguk. Ketika ia memasuki ruangan lantai satu, ia mendengar begitu banyak percakapan yang ia tak pahami. Kemudian ia menuju lantai dua, beberapa memandang ke arahnya. Tentu saja mungkin karena penampilannya. Ia tidak mendapatkan seragam sebagaimana orang-orang lain yang berada di sana. Kemudian ia menuju ke lantai tiga. Disinilah nantinya ia akan bekerja. Ruangan itu sangat besar dengan berbagai aktivitas. Mesin fotokopi berjajar begitu banyak. Semua meja berisi komputer. Ia hanya tetegun karena tidak satu pun orang yang ia kenal.
"Hai. Kamu boleh duduk di meja sebelah saya. Itu adalah meja Dira. Nanti jika ia masuk, dia akan menjelaskan banyak hal padamu. Semoga kamu cepat belajar." Sapa Arnav. Pria tinggi itu kemudian meletakkan tasnya di meja dan menghidupkan komputernya.
"Beb, dirimu mau makan apa? Aku hari ini bawa bekal nasi campur." Tanya seorang gadis manja dengan tubuh lebih pendek dan kulit putihnya. Tak lupa ia dilengkapi dengan make up minimalisnya. Tertulis nama Prita di seragam yang ia kenakan.
"Oke. Semangat ya bebep." Ucap gadis itu sambil melirik Namira sinis.
"Kurang apa sih Prita itu mas Arnav? Udah lah nikahi saja." Salah satu pria dari ketiga pria yang baru datang menggoda Arnav. Pria itu bernama Tama.
Arnav hanya tertawa mendengar candaan Tama.
"Teman-teman, ini admin kita yang mungkin menggantikan Dira. Walaupun aku sangat berharap Dira tidak tergantikan. Namanya Namira." Ucap Arnav. Mereka bertiga hanya menganggukkan kepala. Namira merasa tidak nyaman karena tidak disambut baik.
"Aku akan menyimpan nomor ponselmu dan memasukkanmu ke dalam grup Messenger." Terang Arnav. Ia kemudian memasukkan nomor Namira. Gadis itu tidak peduli. Ia hanya bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang. Seorang wanita keibuan tiba menghampirinya.
"Ah, akhirnya datang penyelamatku!" Sapanya pada Namira.
"Aku Dira. Sangat senang melihatmu di sini. Siapa namamu?" tanyanya hangat.
"Namira." Jawab Namira tersenyum.
__ADS_1
"Sebentar lagi briefing, ayo kita menuju lantai 1." Ajak Dira. Menggunakan hak tinggi dan menuruni tiga lantai bukanlah perkara mudah. Namira sangat tidak terbiasa.
Usai briefing, Namira diminta memperkenalkan diri. Semua bungkam. Tidak ada satu pun yang mempedulikan atau bertanya mengenai perkenalannya.
Dira mengajaknya untuk tetap di lantai satu. Mereka akan mempelajari sistem dan input data di ruangan khusus. Di sana terdiri dari manager dan asisten manager yang akan menyetujui segala langkah-langkah pencairan uang nasabah. Jika mereka tidak setuju, maka tidak ada pencairan.
Namira mencatat langkah demi langkah hingga seorang wanita berkacamata muncul. Ia adalah seorang teller khusus nasabah priority.
"Ah, ada yang membuatku sakit mata." Ujarnya.
"Dira! Dandananmu terlalu minimalis. Dan siapa ini di sebelahmu? Kamu mau bekerja di bank atau menjaga toilet? apa tidak bisa membeli bedak? Ups, aku lupa karena gajimu di sini tidak lebih besar dari Cleaning service." Ucapnya sinis.
"Biarkan saja. Dia Fani. Dia akan selalu mengkritik orang-orang seperti kita. Seragam saja aku beli sendiri. Apa iya aku harus menghabiskan gajiku untuk make up juga? Kita yang bekerja di belakang layar tidak mendapat tunjangan make up seperti mereka." Terang Dira. Namira hanya mendengarkan.
Pekerjaan mereka belum juga selesai padahal jam pulang telah lewat. Namira sungguh ingin pulang dan segera mengajar. Ia mengendap-ngendap untuk pulang. Tentu saja dengan harapan bahwa Dira dapat diandalkan.
***
Pagi ini ia berangkat lebih pagi. Ketika membuka pintu lantai satu, seorang pria mengajaknya bicara.
"Namira alumni SD Tumbuh?" Tanyanya.
Namira hanya mengangguk.
"Aku Riyan. Kakak kelasmu. Aku teman Ria. Kenal kan?" pria itu mencoba meyakinkan Namira.
"Iya, Ria temanku. Salam kenal kak." Sapa Namira.
Pria itu hanya tersenyum. Gadis itu menuju lantai tiga. Arnav nampak telah tiba terlebih dahulu dan mengutak atik data di komputernya.
"Apa benar tadi malam kamu pulang?" tanya Arnav tanpa memandang Namira.
"Iya mas." Jawabnya sedikit takut.
"Siapa yang mengijinkan pulang?" Tanyanya masih dengan pandangan ke arah komputer.
"Tidak ada mas." Jawabnya serak.
__ADS_1
"Aku jadi paham bagaimana indahnya kantor cabang." Ucapnya sambil menggerak-gerakkan mouse.
Namira duduk di tempatnya. Sayangnya Dira tidak juga muncul.